Kedudukan hubungan vertikal dan horizontal

Apakah Anda sudah mempunyai jawaban atas pertanyaan Mana yang lebih dahulu, hubungan vertikal atau horizontal? Jika belum boleh untuk melihat pilihan yang ada. Dan untuk anda yang sudah punya pilihan, dalam tulisan Kedudukan hubungan vertikal dan hubungan horizontal mudah-mudahan dapat memberikan gambaran jawabannya. 

Sebenarnya dari sisi kedudukannya hubungan vertikal (Hablumminnallah, Hamba Allah, Hamba Tuhan) sudah jelas lebih tinggi dari hubungan horizontal (hambluminannas, khalifah). Kog bisa...ya, bisa saja. Karena dari sisi terminologinya kalau vertikal ke atas sedangkan horizontal ke samping. 

Namun untuk lebih jelasnya ilmu 31 akan menjabarkan jawaban Kedudukan hubungan vertikal dan hubungan horizontal yaitu bahwa : 
Hubungan vertikal lebih utama dan lebih tinggi daripada hubungan horizontal. Hal ini dapat kita lihat melalui analogi sebagai berikut : 
  1. Pemimpin yang baik lahir dari pengikut yang baik. Jarang ada pemimpin yang baik jika ia tidak pernah menjadi pengikut. Jika pemimpin lahir dari pengikut yang tidak baik, maka kemimpinannya akan otoriter dan zalim. Oleh karena itu Hamba Tuhan (vertikal) yang baik akan menjadi pemimpin (horizontal) yang yang baik. 
  2. Jika hubungan vertikal lebih utama dari pada horizontal jika dikaitkan dengan pahala baik pahala ibadah maupun pahala amal sholeh. Untuk menggambarkan ini dapat kita lihat dari keduanya yaitu : a. Sisi pahala ibadah. Seseorang yang melakukan ibadah sepeti sholat, puasa, zakat dan lainnya jika diniatkan karena Allah Insya Allah mendapatkan dua pahala dan tidak akan mendapatkan apa-apa. Contohnya pelaksanaan zakat karena Allah; akan mendapatkan pahala ibadah dan pahala amal sholeh karena berbuat kebajikan kepada sesama. Berbeda jika zakat diniatkan karena manusia, tidak akan mendapatkan pahala dari Allah bahkan dapat menjadikan diri mempunyai sifat riya.  Sisi pahala amal sholeh . Seseorang yang melakukan kebajikan kepada sesama dengan niat karena Tuhan, maka otomatis dia mendapatkan dua pahala. Sedangkan jika niatnya karena manusia, maka ia hanya mendapatkan satu pahala amal sholeh. Contoh seorang memberi nafkah keluarga dengan niat karena Allah (vertikal) maka ia mendapatkan dua pahala yaitu pahala ibadah menunaikan kewajiban sebagai hamba Allah dan pahala amal sholeh sebagai tanggungjawab kepala keluarga. Berbeda jika ia memberi nafkah dalam dimensi horizontal maka ia hanya memperoleh pahala sholeh wujud pemenuhan tanggung jawabnya sebagi kepala keluarga. 
  3. Jika kita analogikan hubungan vertikal horizontal, ibarat gedung berlantai dua. Dalam hal ini Lantai pertama kita analogikan hubungan horizontal, dan lantai kedua kita analogikan hubungan vertikal. Untuk itu jika Anda mendahulukan lantai pertama, maka anda belum tentu akan naik ke lantai kedua. Namun jika Anda mempunyai tujuan mendahulukan lantai kedua, maka lantai pertama otomatis anda lalui. Oleh karena itu dengan mengutamakan hubungan vertikal, maka hubungan horizontal juga terpenuhi. 
Lalu kenapa ada Hamba Allah yang taat justeru mempunyai prilaku yang buruk? Jawabannya mari kita maknai kembali pada pemaknaan ibadah dan amal sholeh yang dilakukannya. Bagaimana dengan niatnya, proses dan tujuan ibadah dan amal sholeh yang dilakukannya? Jika dilakukan semata karena manusia, maka akan muncul kerugian bahkan prilaku buruk dan munafik dapat muncul. 

Hubungan vertikal horizontal juga dapat kita samakan dengan antara kepentingan akhirat dengan dunia. Untuk hal ini Alquran sudah tegas menjelaskan bahwa kedudukan akhirat lebih tinggi utama dan mulia dari kedudukan dunia. Kehidupan dunia ini yang menperdaya kaum kafir. kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas. QS. Al Baqarah (2:212) Demikian juga orang yang merugi adalah orang yang lebih mengutamakan pahala dunia. Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. dan Allah Maha mendengar lagi Maha melihat. QS An Nisaa (4:134) 
Kedudukan hubungan vertikal dan hubungan horizontal

Dalam hal tertentu kepentingan dunia (horizontal) didahulukan dari pada kepentingan Akhirat (vertikal). Islam bukanlah agama yang kaku, hukumnya dapat berlaku elastis karena keterbatasan manusia dan situasi dan kondisi. Untuk itu berikut digambarkan melalui dua contoh yaitu sebagai berikut : 
  1. Sholat merupakan ibadah yang hukumnya wajib umat Islam dilaksankan 5x sehari semalam. Namun ketika sesorang menjadi musafir (dalam perjalanan), shalat dapat dilaksanakan menjadi 3x waktu sehari semalam yakni subuh, zuhur jamak dengan Ashar, Mahgrib jamak dengan Isya. Dari hal ini jelas kepentingan dunia (horizontal) dapat menurunkan kepentingan akhirat (vertikal) 
  2. Memakan daging Babi sudah jelas dan tegas dinyatakan haram hukumnya bagi umat islam. Namun dalam kondisi tentu yang memaksa dan untuk mempertahankan hidup, hukum tersebut dapat dikecualikan. Oleh karena itu dalam kondisi ini dapat kita lihat bahwa kepentingan dunia (vertikal) lebih diutamakan daripada kepentingan akhirat (vertikal). 
  3. Jika iqamah telah dikumandangkan, sementara makan malam telah tersaji, maka hendaklah kalian mulai dengan makan malam (HR Bukhari). Apabila makan malam salah seorang dari kalian sudah terhidang, sedangkan shalat telah diiqamatkan, maka dahulukanlah makan malam, dan jangan tergesa-gesa sampai makan malam itu selesai (HR Muslim). Dari hadist tersebut jelas menyampaikan dalam kondisi tersebut bahwa hubungan horizontal didahulukan daripada vertikal. 

Kalau begitu benar harus seimbang antara hubungan vertikal dan horizontal. Memang benar perlu ada keseimbangan antara hubungan vertikal dan hubungan horizontal. Namun perlu digariskan bahwa Allah telah meletakkan keutamaan kepentingan akhirat (vertika) lebih utama daripada kepentingan dunia (horizontal). Dalam situasi dan kondisi tertentu hal tersebut dapat berbalik namun tetap dalam koridor hukum Islam. 

Dari jawaban ini dapat dilihat bahwa ketiga pilihan pada tulisan Mana yang lebih dahulu, hubungan vertikal atau horizontal? kesemuanya dapat dibenarkan. Namun harus disesuaikan dengan kondisinya dan tidak bertentangan dengan hukum Islam (Alquran dan Al Hadits).Semoga tulisan ini dapat menjadi pengingat kita tetap berada dijalanNya nan lurus, khususnya bagi penulis sebagai jalan untuk belajar akan keagunganNya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kedudukan hubungan vertikal dan horizontal "

Posting Komentar