Surat AtTaubah ayat 107 serta asbab dan tafsir depag RI








وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مَسۡجِدٗا ضِرَارٗا وَكُفۡرٗا وَتَفۡرِيقَۢا بَيۡنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَإِرۡصَادٗا لِّمَنۡ حَارَبَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ مِن قَبۡلُۚ وَلَيَحۡلِفُنَّ إِنۡ أَرَدۡنَآ إِلَّا ٱلۡحُسۡنَىٰۖ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ ١٠٧ 



(QS.9:107) Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu[660]. Mereka Sesungguhnya bersumpah: "Kami tidak menghendaki selain kebaikan." Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). 
ilmu 31 Surat AtTaubah ayat 107 serta asbab dan tafsir depag RI

keterangan

[660]. Yang dimaksudkan dengan orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu ialah seorang pendeta Nasrani bernama Abu 'Amir, yang mereka tunggu-tunggu kedatangannya dari Syiria untuk bersembahyang di masjid yang mereka dirikan itu, serta membawa tentara Romawi yang akan memerangi kaum muslimin. Akan tetapi kedatangan Abu 'Amir ini tidak jadi karena ia mati di Syiria. Dan masjid yang didirikan kaum munafik itu diruntuhkan atas perintah Rasulullah s.a.w. berkenaan dengan wahyu yang diterimanya sesudah kembali dari perang Tabuk.


Asbab

Ibnu Murdawaih mengetengahkan sebuah hadis melalui jalur Ibnu Ishak yang telah mengatakan, bahwa Ibnu Syihab Az-Zuhriy menceritakan dari Ibnu Ukaimah Al-Laitsi dari keponakannya sendiri, yaitu Abu Rahm Al-Ghiffari, bahwa Ibnu Ukaimah pernah mendengar Abu Rahm, yang termasuk di antara orang-orang yang berbaiat di bawah pohon kepada Rasulullah saw. menceritakan, "Seseorang yang telah membangun mesjid Dhirar datang menghadap kepada Rasulullah saw. yang pada saat itu sedang siap-siap untuk berangkat ke Tabuk. 

Kemudian mereka berkata, "Wahai Rasulullah! Sesungguhnya kami telah membangun sebuah mesjid yang kami peruntukkan buat orang-orang sakit dan orang-orang miskin, sebagai naungan mereka di musim dingin yang banyak hujan. Untuk itu kami mengharapkan sekali engkau mau berkunjung kepada kami dan salat di mesjid kami demi untuk kami." 

Kemudian Rasulullah saw. menjawab, "Sesungguhnya sekarang aku hendak berangkat bepergian. Jika kembali dari bepergian, maka insya Allah, kami akan berkunjung kepada kalian dan akan melakukan salat demi untuk kalian di mesjid kalian itu." 

Sewaktu Rasulullah saw. kembali dari medan Tabuk, beliau berhenti untuk istirahat di Dzi Awan, yaitu sebuah perkampungan yang jauhnya satu jam perjalanan dari kota Madinah. Maka pada saat itu juga turunlah firman-Nya, "Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan mesjid untuk menimbulkan kemudaratan (pada orang-orang mukmin) dan karena kekafiran..." (Q.S. At-Taubah 107). 

Selanjutnya Rasulullah saw. memanggil Malik bin Dakhsyan dan Mi'an bin Addiy atau saudaranya yaitu Ashim bin Addiy, lalu beliau bersabda, "Pergilah kalian berdua ke mesjid yang para pemiliknya telah berbuat aniaya itu, kemudian robohkanlah dan bakarlah mesjid itu," kemudian keduanya melakukan apa yang telah diperintahkan oleh Rasulullah saw." 

Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Murdawaih keduanya mengetengahkan sebuah hadis melalui jalur periwayatan Aufi dan Ibnu Abbas r.a. Ibnu Abbas r.a. menceritakan, bahwa sewaktu Rasulullah membangun mesjid Quba, ada beberapa orang lelaki dari kalangan orang-orang Ansar, yang antara lain adalah Yakhdij, keluar dengan tujuan untuk membangun mesjid nifak. 

Maka Rasulullah saw. berkata kepada Yakhdij, "Celakalah engkau ini, apakah yang engkau maksud dengan kesemuanya ini?" Yakhdij menjawab, "Wahai Rasulullah! Tiada yang aku maksud melainkan hanya kebaikan belaka." 

Maka Allah swt. menurunkan firman-Nya, yaitu ayat yang di atas tadi. Ibnu Murdawaih mengetengahkan sebuah hadis melalui jalur Ali bin Abu Thalhah dari Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan, bahwa ada beberapa orang dari kalangan orang-orang Ansar hendak membangun mesjid. 

Maka berkatalah kepada mereka seseorang yang bernama Abu Amir, "Bangunlah mesjid kalian dan kemudian persiapkanlah kekuatan dan senjata yang kalian mampu, karena sesungguhnya aku segera akan berangkat ke Kaisar Romawi, aku akan mendatangkan pasukan Romawi, kemudian aku akan mengusir Muhammad beserta dengan para sahabatnya dari Madinah."



Tafsir Depag RI

Dalam riwayat mengenai sebab turunnya ayat-ayat ini disebutkan bahwa di Madinah sebelum Rasulullah berhijrah ke sana ada seorang lelaki bernama Amir Rahib dari suku Khazraj. Dia pernah menganut agama Nasrani dan mengajarkan ilmu-ilmu ahlul kitab serta mempunyai kedudukan yang penting dalam kalangan mereka. 

Setelah Rasulullah saw. berhijrah ke Madinah dan memperoleh pengikut yang banyak dari penduduk Madinah itu, sehingga kaum Muslimin telah menjadi kuat, dan Allah telah memenangkannya terhadap kaum musyrik, maka Abu Amir keluar dari kota Madinah melarikan diri ke Mekah. 

Ia membujuk kaum musyrikin untuk mencederai Rasulullah dalam perang Uhud. Bahkan ia berpidato kepada kaumnya yang terdiri dari orang-orang Ansar supaya mereka berpihak kepadanya. Akan tetapi kaumnya ini menolak dengan tandas. 

Dan setelah peperangan itu selesai, maka Abu Amir melarikan diri serta meminta perlindungan kepada Heracleus, raja Romawi. Dia meminta bantuan kepada raja tersebut untuk memerangi Rasulullah dan kaum Muslimin. Raja tersebut mengabulkan permintaannya, serta menjanjikan kepadanya untuk memberikan bantuan. 

Abu Amir lalu berkirim surat kepada sekelompok kaumnya yang terdiri dari orang-orang munafik mengabarkan kepada mereka bahwa ia akan datang membawa pasukan untuk memerangi dan mengalahkan Nabi Muhammad saw., dan ia memerintahkan agar mereka membuat sebuah benteng sebagai tempat perlindungan bagi orang-orangnya yang nanti akan datang kepada mereka dengan membawa surat-suratnya; dan tempat itu kelak akan digunakannya sebagai kubu pertahanan apabila nantinya ia datang kepada mereka.

Maka mulailah para pengikutnya itu membangun sebuah mesjid yang berdekatan letaknya dengan mesjid Quba. Mereka membuat bangunan itu sedemikian rupa kokohnya dan selesai mereka kerjakan sebelum berangkatnya Rasulullah ke peperangan Tabuk. 

Mereka datang kepada Rasulullah saw. dan meminta agar beliau salat di mesjid tersebut sebagai tanda bahwa beliau merestui pembangunan mesjid itu. Mereka menyebutkan kepada Rasulullah saw. bahwa bangunan tersebut mereka dirikan hanyalah semata-mata untuk menampung orang-orang lemah di antara mereka dan orang-orang yang menderita sakit pada malam-malam musim dingin. 

Untunglah pada saat itu Rasulullah mendapat perlindungan dari Allah SWT. sehingga beliau terhindar dari tipu daya orang-orang munafik itu dan tidak salat di tempat itu. Rasulullah menjawab tawaran mereka untuk salat dalam mesjid tersebut dengan katanya: "Kami sekarang ini sedang dalam perjalanan; Insya Allah nanti sajalah bila kami pulang dari peperangan." 



Pada waktu Rasulullah dalam perjalanan pulang ke Madinah dari peperangan Tabuk, dan berada pada jarak sehari perjalanan atau kurang, dari tempat berdirinya bangunan itu, turunlah malaikat Jibril memberitahukan kepada Rasulullah mengenai mesjid celaka yang dibangun oleh para pendirinya dengan maksud untuk memecah belah kaum muslimin yang beribadah di mesjid Quba yang didirikan sejak semula atas dasar ketakwaan kepada Allah semata-mata. Setelah mendapat pemberitahuan itu, maka Rasulullah saw. mengirim orang-orang untuk meruntuhkan dan membakar bangunan itu sebelum beliau sendiri sampai ke Madinah. Maka mereka melaksanakan perintah Rasulullah itu, sehingga bangunan tersebut dijadikan tempat pembuangan sampah. 

Diriwayatkan, bahwa orang-orang yang mendirikan bangunan tersebut dan menjadikannya sebagai mesjid adalah terdiri dari dua belas orang dari kalangan kaum munafik suku Aus dan Khazraj. 

Dalam ayat ini Allah swt. menjelaskan maksud-maksud mereka mendirikan mesjid tersebut yaitu: 
  1. Untuk mencelakakan orang-orang mukmin yang biasa beribadah di mesjid Quba, yaitu mesjid yang dibangun Rasulullah saw. ketika beliau berhijrah dari Mekah sebelum sampai ke Madinah. 
  2. Untuk memperkuat kekafiran dan untuk memberikan fasilitas dalam melakukan kekafiran itu, antara lain memungkinkan kaum munafik meninggalkan salat dengan sembunyi-sembunyi dalam bangunan yang mereka dirikan itu sehingga kaum Muslimin tak dapat mengetahuinya, karena mereka tidak lagi bersama-sama melakukan ibadat di mesjid Quba. Selain itu, adanya bangunan tersebut juga memungkinkan bagi mereka untuk mengadakan perundingan secara bebas dalam melakukan makar terhadap Rasulullah saw. 
  3. Untuk memecah belah antara kaum Muslimin yang berdiam di daerah itu. Sebab dulunya mereka semua salat di mesjid Quba sehingga dapatlah mereka senantiasa berjumpa dan saling mengenal, bergotong-royong, serta mencapai kesepakatan dan kesatuan dalam berbagai masalah. Justru inilah tujuan yang terpenting dalam bidang kemasyarakatan. Oleh sebab itu adalah suatu keharusan bagi kaum Muslimin yang bertempat tinggal di daerah tertentu agar semuanya melakukan salat Jumat di satu mesjid selama hal itu dapat dilakukan. Tetapi apabila mereka dengan hal sengaja berpisah-pisah dalam melakukan salat Jumat itu padahal mereka dapat berkumpul dalam satu mesjid saja, maka mereka berdosa karena berbuat demikian. Dari sini dapatlah diketahui bahwa mendirikan mesjid yang baru hanyalah dapat dipandang sebagai amal kebajikan yang diterima Allah swt. bila hal itu memang benar-benar sudah diperlukan, misalnya karena mesjid yang lama sudah rusak, atau sudah tidak dapat menampung jumlah kaum muslimin yang semakin besar, dan bukan didirikan untuk maksud memecah belah antara kaum muslimin. Oleh sebab itu pembangunan mesjid-mesjid yang banyak jumlahnya dan saling berdekatan letaknya, dan hanya didorong oleh rasa riya' dan kebanggaan pribadi atau pun golongan, tidaklah dibenarkan oleh agama kita. 
  4. Untuk memberikan perlindungan serta bantuan kepada orang-orang yang telah binasa memerangi agama Allah sehingga apabila mereka datang ke tempat itu niscaya mereka sudah mendapatkan tempat perlindungan yang aman, memperoleh sekutu dan para penyokong untuk bersama-sama memerangi Rasulullah dan kaum Muslimin. Mereka ini adalah kaum musyrik dan munafik yang dengan sengaja mendirikan bangunan itu sebagai kubu pertahanan mereka-mereka untuk memecah belah dan memerangi umat Islam. 

Dalam ayat ini selanjutnya diterangkan, bahwa orang-orang munafik itu bersumpah untuk memperkuat ucapan mereka, bahwa bangunan itu mereka dirikan hanyalah semata-mata untuk memperoleh kebaikan misalnya untuk memudahkan bagi orang-orang yang lemah melakukan salat Jumat dekat dari tempat tinggal mereka dan sebagainya. Akan tetapi sumpah tersebut hanyalah untuk menyelimuti maksud-maksud jahat yang tersimpan dalam hati mereka. 

Pada akhir ayat tersebut Allah swt. menegaskan, bahwa Dia menyaksikan mereka itu adalah orang-orang yang benar-benar pendusta.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Surat AtTaubah ayat 107 serta asbab dan tafsir depag RI"

Posting Komentar