Pola Devide Et Impera di abad Modern

Telah disampaikan sebelumnya dalam tulisan Konsep Politik Devide Et Impera. Kolonial Belanda dilakukan dengan memisahkan bidang politik, bidang Ibadah dan bidang sosial kemasyarakatan. Pemisahan ketiga jelas akan melemahkan islam karena umat islam akan memaknai Islam hanya sebatas ibadah bukanlah ajaran Islam sebagai agama Rahmatan Lil Alamin.

Teori politik yang dikembangkan oleh Christian Snouck Hurgronje dengan membagi umat islam dalam 3 tingkatan yaitu Islam abangan, Islam Priyayi dan Islam santri.Islam abangan adalah islam kebanyakan tinggal dipedesaan yang masih lekat adat istiadat animisme dan dinamisme serta budaya mistis.islam Abangan dilekatkan dengan kurangnya ilmu dan pada saat ini dilekatkan dengan nama Islam KTP. Sedangkan Islam santri adalah umat islam yang terpelajar dan mengamalkan islam secara keseluruhan. islam santri ditandai masih lekat dengan pakaian keislaman seperti sorban, jilbab dan lain sebagainya. Sementara Islam Priyayi adalah islam birokrat yang memimpin pemerintahan, dimana posisinya tidak terlalu dekat dengan kebiasaan Islam abangan juga tidak terlalu dekat dengan budaya islam santri.Islam priyayi sering dilekatkan dengan islam moderat.

Oleh karenanya pemerintah Belanda menggunakan pola devide Et Impera yang menggunakan islam abangan dan sebagian islam priyayi untuk memerangi Islam santri. Sebagaimana kita ketahui bahwa perjuangan melawan penjajahan dilakukan dan dipimpin oleh para ulama. Memanfaatkan perbedaan kelas, menyebabkan pemerintah kolonial belanda mudah memprovokasi agar terjadi perang antara sesama umat Islam.
Pola Devide Et Impera di abad Modern Hikmah 313 foto dakwatuna.com

Pola devide et Impera yang membagi umat islam dalam kelas ini memang terjadi pada masa penjajahan Belanda. Namun pola ini tidak mati dalam ruang dan waktu, karena berubah bentuk sesuai dengan perkembangan sosial masyarakat Indonesia. Ditahun 1981 Clifford Geertz menulis buku Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa berdasarkan penelitian di pulau jawa. Geertz juga membagi umat islam dalam tiga kelompok. dan Geertz melihat konflik ketiga kelompok umat islam Abangan, Santri, Priyayi. 

Pembagian ini dilekatkan dengan struktur sosial yang ada yaitu abangan dilekatkan dengan pedesaan, santri dilekatkan dengan pasar sedangan priyayi dilekatkan dengan birokrasi pemrerintahan. Ketiga kelompok ini sering terlibat konflik satu dengan lainnya terutama dalam tiga bidang yaitu konflik ideologi, kelas dan politik.

untuk melihat ketiga konflik ini, ketiga kelompok umat islam ini saling menyerang satu sama lainnya. Konflik ini masih terjadi hingga saat ini, secara kasat mata dapat dilihat melalui dunia sosmed yang berkembang saat ini. adapun konfik tersebut antara lain yaitu :
  1. Konflik ideologi : abangan menyerang santri dengan anggapan santri yang sok suci, sok bermoral yang baik namun dalam perbuatan sering tidak sesuai seperti zinah, korupsi dan lain sebagainya.Priyayi juga menyerang santri sebagi kelompok orang yang munafik, intoleransi, suka membid'ahkan. Sedangkan santri juga menuding kelompok abangan adalah kelompok yang sering berbuat bid'ah karena melakukan perbuatan syirik, sedangkan terhadap kelompok priyayi, santri menyerang dengan faham komunis.
  2. konflik kelas : lebih terlihat antara kaum abangan dengan priyayi. Priyayi menganggap kaum abangan tidak pantas atau tidak layak dlaam menempatkan diri sehingga dapat menganggu keseimbangan masyarakat. Priyayi yang menganggap dirinya lebih tinggi dari abangan tidak pantas untuk disaingi atau diikuti. Kaum abangan terus berjuang untuk kesetaraan hak dalam berbangsa dan bernegara.
  3. konflik politik : konflik ketiga kelompok umat islam ini semakin meruncing dalam bidang politik yakni perebutan kekuasaan. Pada orde lama abangan lekat dengan partai PNI dan PKI, priyayi berafiliasi dengan PNI, dan santri lekat dengan partai NU dan masyumi. sedangkan pada orde baru abangan lekat dengan partai PDI, priyayi lekat dengan Golkar, dan santri lekat dengan partai PPP.

Dalam kesempatan tulisan ini, saya belum sampai melihat bagaimana pola devide Et Impera ini sampai tetap dapat terpelihara? Apakah karena pola devide Et Impera yang sudah tertanam begitu kuat dalam sejarah Indonesia? atau apakah karena ada pihak-pihak yang sengaja menginginkan agar sekat-sekat umat islam tetap terpelihara untuk kepentingan kelompok tertentu?

karena Islam sendiri mengajarkan bahwa keutamaan manusia ditentukan amal, ibadah, iman dan ketaqwaannya. Oleh karena tidak tepat jika mengklasifikasi umat Islam dengan pembagian diatas. Pembagian umat islam berdasarkan pilihan ideologi, politik dan kelas dalam masyarakat justeru menjauhkan dari ajaran islam yang sesungguhnya. Lihat Pembagian Umat islam sesuai Alquran.

untuk tulisan selanjutnya Insya Allah kita coba melihat perkembangan Islam Abangan, priyayi dan santri baik secara ideologis, kelas dan politis. adapun catatannya adalah sebagi berikut
  1. seperti kita ketahui bahwa secara ideologis tahun 80an pembagian islam berkembang Islam modern, tahun 2000an islam fundamental, Islam Liberalis, civic Islam
  2. secara politis dalam orde baru islam abangan, priyayi dan santri terakomodir dalam 3 partai yakni PPP, Golkar dan PDI. sementara era pasca reformasi pilihan politik semakin berkembang.
  3. dimana kedudukan NU dan Muhammadiyah dan organisasi islam lainnya dalam fenomena islam abangan, priyayi dan santri.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pola Devide Et Impera di abad Modern"

Posting Komentar