Hukum Dibolehkannya Makan Sahur Setelah Subuh sebelum Terbit Matahari

Dibolehkannya Makan Sahur Setelah Subuh sebelum Terbit Matahari

Dalam tanya jawab pada tulisan Berpuasa namun termasuk zalim dan tersesat disebutkan bahwa masih diperbolehkannya bersahur setelah subuh adalah bentuk kelenturan penerapan hukum Islam. Hukum Islam bersifat lentur bukan berarti bisa dilentur-lenturkan tetap ada batasannya. Karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. 

Dari Surat Albaqarah ayat 190 diatas jelas dinyatakan bahwa sekalipun berperang melawan orang memerangi kita, dilarang dilakukan dengan melampaui batas. Apalagi dalam hukum tentang bersahur dan berpuasa, tentunya kita tidak boleh melampaui batas yang telah ditentukan. Jangan sampai kita menganggap puasa orang batal atau tidak jika belum jelas batasan hukum bersahur. Hal ini tidak lain karena ada pendapat yang mengatakan bahwa bersahur lewat waktu imsak maka puasanya tidak sah, bersahur setelah adzan subuh maka batal puasanya dan lainnya.

Seyogyanya dalam hukum halal-haram atau sah-batal harus benar-benar didasarkan kajian yang dalam tentang dalil-dalilnya. Dalil dalam arti seluruh dall yang terkait, sehingga tidak tertinggal dalil-dalil lainnya. Bukan tidak mungkin ada dalil yang tertinggal atau ditinggalkan karena dianggap saling bertentangan. Namun tanpa sadar, hukum yang ditetapkan justeru jadi mencela sunnah yang dilakukan Rasulullah SAW.

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. 33:21)
Berkaitan dengan hukum bersahur setelah subuh Sebelum Matahari Terbit. bahwa dalam beberapa hadits disebutkan Rasulullah SAW pernah bersahur setelah subuh namun belum terbit matahari. dan bahwa dalam alquran dijelaskan batasan makan sahur adalah Fajar. 

Kedua hal ini tidaklah bertentangan dengan hukum dasarnya Alquran. Dimana fajar adalah batassan waktu untuk makan minum. dan Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam,... (QS. 2:187)

Berdasarkan ayat diatas jelas disebutkan bahwa batasan makan sahur adalah fajar. Agar tidak salah penafsiran boleh melihat 9 (sembilan) hadits yang merupakan penjelasan ayat tersebut pada bagian bawah tulisan ini. Fajar dalam ayat tersebut diartikan makan minumlah (makan sahur) hingga awal terbit fajar sampai akhir fajar. 

Mengingat adzan subuh dilakukan pada saat terbit fajar (fajar siddiq), sedang imsak adalah terbit fajar kazib (palsu). Hal ini berarti kita masih dibolehkan makan sahur setelah adzan subuh. Apalagi makan sahur setelah imsak tentu boleh sekali karena itu adalah waktu makan yang afdol. yaitu pada waktu sahur (sahr) yang berada di antara waktu Imsak (fajar kazib) dan adzan subuh (Fajar siddiq). lama waktu sahr ini berkisar waktu membaca 50-60 ayat.

Lalu bagaimana dengan dasar hukum yang membolehkan makan sahur setelah subuh? Kita ketahui bahwa subuh itu dalam waktu fajar, tentunya jika mengacu surat Al Baqarah diatas tentunya makan sahur setelah subuh masih boleh. Walaupun demikian, mengingat waktu sahur dilakukan sudah berada pada ujung batas waktu, tentunya kita perlu melihat aturan yang lebih lanjut yaitu hadits terkait.

Bersyukur kita bahwa kita umat Islam masih dibekali hadits sebagai penjelasan Alquran. Sehingga jika kumpulkan, ternyata ada 5 (lima) hadits yang berkaitan dengan sahur setelah shalat subuh. Hadits ini berasal dari riwayat Hudzaifah menyatakan bahwa Sahur Rasulullah pernah dilakukan setelah subuh namun belum terbit matahari. Bahkan dalam satu haditsnya menggunakan kata siang pada sahur yang dilakukan setelah shalat subuh, namun belum terbit matahari.

Berdasarkan hal tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa :

  1. Makan Sahur yang afdol dilakukan pada waktu sahur (sahar) antara Imsak dan Adzan Subuh
  2. Dalam keadaan tertentu, makan sahur masih dapat dilakukan setelah waktu sahur baik setelah adzan subuh maupun subuh sepanjang belum terbit matahari.
  3. Puasa dimulai dari sebelum terbit matahari sampai terbenam matahari 
Untuk hadits pendukung baik 9 (sembilan) hadits penjelasan Surat Al Baqarah 187 maupun 5 (lima) hadits tentang dibolehkannya bersahur setelah subuh sebelum terbit matahari, dapat dilihat sebagai berikut :

Sembilan Hadits yang mempertegas batas awal berpuasa adalah Fajar sebagai penjelasan lebih lanjut dari Surat Al Baqarah 187 yaitu :

1. Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Abu Maryam telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Hazim dari bapaknya dari Sahal bin Sa'ad. Dan diriwayatkan pula, telah menceritakan kepada saya Sa'id bin Abu Maryam telah menceritakan kepada kami Abu Ghossan Muhammad bin Muthorrib berkata, telah menceritakan kepada saya Abu Hazim dari Sahal bin Sa'ad berkata: Ketika turun ayat ("Dan makan minumlah kalian hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam") dan belum diturunkan ayat lanjutannya yaitu ("dari fajar"), ada diantara orang-orang apabila hendak shaum seseorang yang mengikat seutas benang putih dan benang hitam pada kakinya yang dia senantiasa meneruskan makannya hingga jelas terlihat perbedaan benang-benang itu. Maka Allah Ta'ala kemudian menurunkan ayat lanjutannya ("dari fajar"). Dari situ mereka mengetahui bahwa yang dimaksud (dengan benang hitam dan putih) adalah malam dan siang". HR. Bukhari 1784.

2. Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Maryam Telah menceritakan kepada kami Abu Ghassan Muhammad bin Mutharrif Telah menceritakan kepadaku Abu Hazim dari Sahal bin Sa'ad dia berkata; Ketika turun ayat; "dan makan minumlah kamu sehingga terang bagimu benang putih dari benang hitam. (Q.S.Al Baqarah: 187). Sedangkan ayat 'minal fajrinya' (di waktu fajar) belum turun. Orang-orangpun apabila mau berpuasa, salah seorang dari mereka mengikat kakinya dengan benang putih dan benang hitam, dan mereka terus makan hingga nampak bagi mereka kedua benang tersebut. Lalu Allah menurunkan ayat; 'Minal fajri.' (diwaktu fajar). Akhirnya mereka mengerti bahwa yang dimaksud adalah dari waktu malam ke siang. HR. Bukhari 4151.

3. Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Umar Al Qawariri telah menceritakan kepada kami Fudlail bin Sulaiman telah menceritakan kepada kami Abu Hazim telah menceritakan kepada kami Sahl bin Sa'dari ia berkata; Ketika turun ayat; "¡­dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar¡­", ia berkata; Ada seorang lelaki yang mengambil satu benang berwarna hitam dan satu benang lagi berwarna putih, lalu ia makan (sahur) sampai keduanya terlihat jelas sehingga Allah 'azza wajalla menurunkan ayat; "Yaitu fajar." Maka perkara itupun menjadi jelas baginya. HR. Muslim 1825.

4. Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Sahl At Tamimi dan Abu Bakar bin Ishaq keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Maryam telah mengabarkan kepada kami Abu Ghassan telah menceritakan kepadaku Abu Hazim dari Sahl bin Sa'd radliallahu 'anhu ia berkata; Ketika turun ayat; "¡­dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar¡­" ia berkata; Ada seorang lelaki ketika ia hendak berpuasa, ia mengambil satu benang berwarna hitam dan satu benang lagi berwarna putih, lalu ia makan (sahur) sampai keduanya terlihat jelas. Maka Allah 'azza wajalla pun menurunkan ayat; "MINAL FAJR (yaitu fajar)." Maka mereka pun mengetahui, bahwa yang dimaksud adalah kegelapan malam dan cahaya siang. HR. Muslim 1826.

5. Telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepada kami Hushain dari Asy Sya'bi telah mengabarkan kepada kami Adi bin Hatim ia berkata; Ketika ayat ini turun: "Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar." (QS. Albaqarah 187), Saya pun pergi mengambil dua benang yang satu berwarna putih sedang yang satunya lagi berwarna hitam. Lalu saya meletakkan di bawah bantalku, kemudian saya mencoba melihatnya, namun bagiku tidak tampak jelas antara yang putih dan hitam atau pun sebaliknya. Pada pagi harinya, saya mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan mengabarkan hal apa yang telah saya perbuat. Maka beliau bersabda: "Kalau begitu, bantalmu panjang sekali. Hanyasanya maksudnya adalah putihnya siang daripada kegelapan malam." HR. At Tirmidhi 18561.

6. Telah mengabarkan kepada kami Abu Al Walid telah menceritakan kepada kami Syarik dari Hushain dari Asy Sya'bi dari 'Adi bin Hatim ia berkata, "Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, sungguh aku telah meletakkan di bawah bantalku benang putih dan benang hitam, namun tidak ada sesuatupun yang jelas bagiku?" Beliau bersabda: "Sungguh engkau sangat tidak faham, sesungguhnya hal itu adalah waktu malam dari waktu siang dalam firman-Nya: '(dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar¡­) ' (Qs.?Al Baqarah: 187). HR. Ad Darimi 1632.

7. Telah menceritakan kepada kami 'Abd bin Humaid telah menceritakan kepada kami 'Ubaidullah bin Musa dari Israil bin Yunus dari Abu Ishaq dari Al Bara` ia berkata; "Apabila seorang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam puasa, dan waktu berbuka telah tiba, namun ia tertidur sebelum berbuka, maka ia tidak makan di malam harinya dan di siang harinya hingga sore hari, sesungguhnya Qais bin Shirmah Al Anshari puasa, di saat waktu berbuka tiba, ia mendatangi istrinya lalu bertanya; "Apa kamu punya makanan?" Istrinya menjawab: "Tidak, namun aku akan pergi mencarikan makanan untukmu." Qais bekerja sepanjang hari, lalu ia tertidur, kemudian istrinya datang, saat melihatnya, istrinya berkata; "Kerugian bagimu." Pada pertengahan siang, ia pingsan kemudian hal itu diceritakan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu turunlah ayat: "Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu" -orang-orang pun sangat gembira sekali- "Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar." QS Al-Baqarah: 187. Abu Isa berkata; Hadits ini hasan shahih. HR. At Tirmidhi 2894.

8. Telah menceritakan kepada kami 'Ubaidullah bin Musa dari Isra'il dari Abu Ishaq dari Al Bara' radliallahu 'anhu berkata; "Diantara para sahabat Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam ada seseorang apabila sedang shaum lalu tiba waktu berbuka dia pergi tidur sebelum berbuka sehingga dia tidak memakan sesuatu pada malam dan siang hari hingga petang hari. Dan pada suatu ketika Qais bin Shirmah Al Anshariy ketika sedang melaksanakan shaum lalu tiba waktu berbuka dia mendatangi isterinya seraya berkata, kepada isterinya: "Apakah kamu punya makanan?" Isterinya berkata: "Tidak, namun aku akan keluar mencari makanan buatmu". Kemudian di siang harinya dia bekerja keras hingga mengantuk lalu tertidur. Kemudian isterinya datang. Ketika isterinya melihat dia (sedang tertidur), isterinya berkata: "Rugilah kamu". Kemudian pada tengah harinya Qais jatuh pingsan. Lalu persoalan ini diadukan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka turunlah firman Allah Ta'ala QS Al Baqarah ayat 187 yang artinya: ("Dihalalkan bagi kalian pada malam bulan puasa bercampur dengan isttri-isteri kalian"). Dengan turunnya ayat ini para sahabat merasa sangat senang, hingga kemudian turun sambungan ayatnya: ("Dan makan minumlah kalian hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam yaitu di waktu fajar"). HR. Bukhari 1782.

9. Telah mengabarkan kepada kami 'Ubaidullah bin Musa dari Israil dari Abu Ishaq dari Al Bara` ia berkata, "Para sahabat Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam; apabila seseorang berpuasa kemudian datang waktu berbuka, maka ia tidur sebelum berbuka, sehingga ia tidak berbuka sehari semalam hingga masuk pada waktu sore. Sesungguhnya Qais bin Shirmah Al Anshari pernah berpuasa, saat waktu berbuka tiba ia menemui isterinya dan bertanya, "Apakah engkau memiliki makanan?" Lalu isterinya mengatakan, "Tidak, akan tetapi aku akan pergi dan mencari untukmu." Karena seharian ia lelah bekerja, maka ia pun tertidur. Maka saat isterinya melihatnya, ia berkata, "Duhai, merugilah engkau." Kemudian tatkala pada pertengahan siang hari Qais bin Shirmah pingsan. Lalu hal itu diceritakan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian turunlah ayat ini: '(Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu) ' maka mereka sangat senang sekali '(dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam) ' (Qs. Al Baqarah: 187). HR. Ad Darimi 1631.


Lima hadits sebagai dasar masih dibolehkannya bersahur sebelum matahari terbit adalah sebagai berikut :

1. Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Syuraik bin 'Abdullah dan 'Ashim bin Abu An Najud dari Zirr bin Hubaisy berkata; Aku bertanya kepada Hudzaifah bin Al Yaman: Hai Abu 'Abdullah! Kau pernah bersahur bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam? Ia (Hudzaifah bin Al Yaman) menjawab: Ya. Aku (Zirr) bertanya: Apa orang masih melihat tempat tombaknya? Ia (Hudzaifah bin Al Yaman) menjawab: Ya, itulah siang hanya saja matahari belum terbit. HR. Ahmad 22345.

2. Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Yahya bin Ayyub dia berkata; telah memberitakan kepada kami Waki' dia berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan dari 'Ashim dari Zirr dia berkata; Kami bertanya kepada Hudzaifah, "Pada saat apakah engkau makan sahur bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam? Ia menjawab, "Yaitu diwaktu siang, hanya saja matahari belum terbit." HR. An Nasa’i 2123.

3. Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin 'Ayyasy dari 'Ashim dari Zirr dari Hudzaifah ia berkata, "Aku makan sahur bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, saat itu sudah siang hanya saja matahari belum terbit. " HR. Ibnu Madja 1685.

4. Telah menceritakan kepada kami Mu`ammal telah bercerita kepada kami Sufyan dari 'Ashim dari Zirr dari Hudzaifah bin Al Yaman berkata; Bilal mendatangi Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam saat beliau tengah makan sahur dan aku bisa melihat tempat-tempat tombakku. Aku (Hudzaifah bin Al Yaman) bertanya: Apa sesudah shubuh? Bilal menjawab: Setelah shubuh, hanya saja matahari belum terbit. HR. Ahmad 22302.

5. Telah menceritakan kepada kami Waki' dari Sufyan dari 'Ashim bin Bahdalah dari Zirr bin Hubaisy berkata; Aku bertanya kepada Hudzaifah bin Al Yaman: Kapan kalian bersahur bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam? Ia Hudzaifah bin Al Yaman menjawab: Disiang hari hanya saja matahari belum terbit. HR. Ahmad 22310.

Subscribe to receive free email updates:

9 Responses to "Hukum Dibolehkannya Makan Sahur Setelah Subuh sebelum Terbit Matahari"

  1. Di lingkungan Saya juga pernah disampaikan seperti apa yang ditulis dalam artikel ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga menjadi berkah untuk kita semua, lae

      Hapus
  2. Jazakallah khair mas. Sangat membantu

    BalasHapus
    Balasan
    1. wa jazakallohu khoiron
      semoga berkah, mas

      Hapus
  3. Terima Kasih infonya... Ijin share ya...

    BalasHapus
  4. Tentang hadits Sahabat Hudzaifah R.A yang ada dijadikan dalil di artikel ini, para ulama' sejak ratusan tahun yang lalu telah menjawabnya. Berikut adalah beberapa jawaban dari para ulama':

    1. Hadits tersebut dho'if (lemah).
    Al Hafidz Abul Hajjaj Al Mizzi berkata dalam Tuhfatul Asyrof juz 3 hal. 32 setelah menyebutkan beberapa riwayat hadits ini:
    لا نعلم أحداً رفعه غير عاصم
    "Kami tidak mengetahui seorangpun yang memarfu'kan (menyandarkan hadits itu kepada Rasulullah SAW) kecuali 'Ashim."
    Rawi-rawi lainnya yang lebih tsiqoh dari 'Ashim tidak memarfu'kan namun memauqufkannya (maksudnya hadits itu adalah pekerjaan Sahabat Hudzaifah R.A tanpa kehadiran Rasulullah SAW). Oleh karenanya riwayat 'Ashim yang memarfu'kan hadits ini adalah lemah karena bertentangan dengan riwayat dari rawi lain yang lebih tsiqoh. Dalam ilmu mushtolah hadits ini disebut hadits syadz.

    2. Maksud siang dlm hadits tersebut adalah mendekati siang.
    Al Hafidz Abul Hajjaj Al Mizzi berkata lagi dalam Tuhfatul Asyrof juz 3 hal. 32:
    فإن كان رفعهُ صحيحاً فمعناه: أنَّه قرب النهار , كقول الله عزَّ وجلَّ: فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ (65: 2) معناه: إذا قاربن البلوغ؛ وكقول القائل: بلغنا المنزل إذا قاربه.
    "Jika penyandarannya kepada Rasulullah SAW adalah shahih (benar), maka maksudnya adalah mendekati siang. Ini seperti firman Allah yang artinya "Apabila mereka telah sampai akhir iddahnya" (QS. At Thalaq: 2) maksudnya hampir sampai. Juga seperti kata orang: kita telah sampai rumah, maksudnya hampir sampai."

    3. Maksud siang dlm hadits tersebut adalah siang secara syara' (yg dimulai dari terbitnya fajar) dan maksudnya fajar adalah matahari.
    Imam Nuruddin As Sindi berkata dalam Hasyiyah Sunan An Nasai'i juz. 4 hal. 142:
    قال هو النهار إلا أن الشمس لم تطلع الظاهر أن المراد بالنهار هو النهار الشرعي والمراد بالشمس الفجر والمراد أنه في قرب طلوع الفجر حيث يقال أنه النهار نعم ما كان الفجر طالعا
    Dia berkata: " Yaitu diwaktu siang, hanya saja matahari belum terbit." Yang dimaksud siang adalah siang secara syara' dan yg dimaksud matahari adalah fajar, sehingga artinya adalah mendekati terbitnya fajar. Dikatakan (lafadz) "siang" selama fajar telah terbit.

    BalasHapus
  5. 4. Hadits tersebut Mansukh (dihapus hukumnya).
    Imam Nuruddin As Sindi berkata dalam Hasyiyah Sunan Ibnu Majah juz. 1 hal. 518 ketika mengomentari hadits tersebut:
    وقيل الحديث منسوخ
    "Dikatakan bahwa hadits ini mansukh."

    5. Hadits tersebut sebelum turunnya Surat Al Baqarah 187.
    Imam At Thahawi berkata dalam Syarh Ma'anil Atsar juz 2 hal 53 setelah menyebutkan riwayat-riwayat yang menunjukkan kewajiban puasa mulai terbitnya fajar:
    فهذه الآثار التي ذكرنا مخالفة لحديث حذيفة. وقد يحتمل حديث حذيفة عندنا، والله أعلم، أن يكون كان قبل نزول قوله تعالى: «وكلوا واشربوا حتى يتبين لكم الخيط الأبيض من الخيط الأسود من الفجر ثم أتموا الصيام إلى الليل» [البقرة: 187]
    Atsar-atsar yang telah kami sebutkan tadi bertentangan dengan hadits Hudzaifah. Menurut kami, hadits Hudzaifah – Wallahu A'lam – adalah sebelum turunnya firman Allah yang artinya: "Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam."
    Lalu di hal. 54 beliau berkata:
    فلما أنزل الله عز وجل تلك الآية، أحكم ذلك، ورد الحكم إلى ما بيّن فيها
    "Kemudian ketika Allah telah menurunkan ayat tersebut, maka hukumnya dikembalikan kepada apa yang diterangkan di dalamnya."

    Lalu beliau mengakhiri pembahasan ini dengan berkata:
    فلا يجب ترك آية من كتاب الله تعالى نصا , وأحاديث عن رسول الله صلى الله عليه وسلم متواترة قد قبلتها الأمة , وعملت بها من لدن رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى اليوم، إلى حديث قد يجوز أن يكون منسوخا بما ذكرناه
    Maka tidaklah wajib meninggalkan ayat yang telah dinash dalam Al Qur'an dan hadits-hadits dari Rasulullah yg diriwayatkan dari jalur mutawatir, yang telah diterima umat Islam dan diamalkan mulai zaman Rasulullah SAW sampai hari ini. (Meninggalkan itu semua) lalu mengamalkan hadits yang bisa saja telah dinaskh (dihapus hukumnya).

    Wallahu a'lam bis showab.

    BalasHapus
  6. Imam Nawawi dalam kitab Al Majmu' Syarh Al Muhadzab juz. 6 hal. 305 berkata:
    هذا الذي ذكرناه من الدخول في الصوم بطلوع الفجر وتحريم الطعام والشراب والجماع به هو مذهبنا ومذهب أبي حنيفة ومالك وأحمد وجماهير العلماء من الصحابة والتابعين فمن بعدهم. قال ابن المنذر وبه قال عمر بن الخطاب وابن عباس وعلماء الأمصار قال وبه نقول .(المجموع شرح المهذب 6 / 305)
    "Apa yang telah kami sebutkan berupa masuknya waktu puasa dengan terbitnya fajar dan haramnya makan, minum, dan jima' (hubungan badan) adalah madzhab kami (Imam Syafi'i), Abu Hanifah, Malik, Ahmad, mayoritas ulama' zaman shahabat dan tabi'in dan ulama'-ulama' sesudahnya. Ibnul Mundzir berkata: dan dengannya Umar bin Khottob, Ibnu Abbas dan para ulama' di berbagai tempat berpendapat, dan dengannya pula kami berpendapat."

    BalasHapus