Diangkatnya Pemberitaan Lailatul qadar dan dua orang yang berdebat

Diangkatnya Pemberitaan Lailatul qadar dan dua orang yang berdebat hikmah 313



Sebelumnya anda mungkin telah mengetahui banyaknya perbedaan pentang tentang kapan waktu terjadinya. Dan tentu terkadang hal itu dapat membuat kita bingung mana yang benar. Namun sebagai umat islam yang beriman, kita harus menyakini tentu ada hikmah dibalik itu.

Berdasarkan hadits yang terkait lailatul qadar ternyata ada 3 (tiga) alasan penyebab terjadinya perbedaan pendapat tentang kapan terjadinya lailatul qadartersebut. Oleh karenanya pada kesempatan ini, akan dijelaskan salah satu alasan yang melatar belakangi terjadinya perbedaan pendapat tentang lailatul qadar. Yaitu berkaitan dengan diangkatnya pemberitaan tentang penjelasan lailatul qadar.

Ada 22 (dua puluh dua) hadits yang berkaitan dengan Lailatul Qadar dan 2 (dua) orang yang saling mencela. Hadits ini mengungkapkan bahwa telah diangkatnya pemberitaan tentang penjelasan lailatul qadar oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam setelah ada dua orang yang saling mencela didepan masjid. Adapun ke-22 hadits tersebut dapat disarikan menjadi 2 bagian yaitu sebagai berikut :

1. dari 'Ubadah bin Ash Shamit bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Sebenarnya aku keluar ingin memberitahukan lailatul qadar kepada kalian, hanya tadi ada dua orang yang saling mencaci maki kemudian pemberitaan itu pun diangkat, semoga itu lebih baik bagi kalian. Maka carilah dia di malam kesembilan, ketujuh atau kelima." HR. Ahmad 21618; HR. Sunan Al Darimi 1715. Sedangkan dalam HR. Bukhari 47 disebutkan bahwa maka itu intailah (lailatul qodar) itu pada hari yang ketujuh, enam dan lima.

2. Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Wahai sekalian manusia, sungguh, telah dijelaskan kepadaku tentang Lailatul Qadr, dan kau keluar untuk memberitahukan kepada kalian tentang hal itu. Namun kemudian datang dua orang yang sama-sama mengaku benar sedangkan mereka ditemani oleh syetan. Sehingga Lailatul Qadr terlupakan olehku. Maka carilah Lailatul Qadr pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadlan, carilah Lailatul Qadr pada malam kesembilan, ketujuh dan kelima (dalam sepuluh malam terakhir itu)." Dalam HR. Muslim 1996 dijelaskan bahwa Abu Said menyatakan tentang perhitungan malam. Dan sedangkan dalam HR. Ahmad 11279 dijelaskan bahwa abu Said menyatakan tentang kesesuaian mimpi dengan melihat bekas tanda lumpur bekas tanah dan air masih menempel di dahi dan hidung Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam



Adapun 22 hadits-hadits yang berkaitan dengan diangkatnya pemberitaan tentang lailatul qadar setelah ada dua orang yang saling mencela didepan masjid adalah sebagai berikut :

1) HR. Ahmad 21618. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu 'Adi dari Humaid dari Anas dari 'Ubadah bin Ash Shamit berkata; Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam keluar menghampiri kami, beliau ingin memberitahukan lailatul qadar kepada kami lalu ada dua orang yang saling mencaci maki, beliau bersabda: "Sebenarnya aku keluar ingin memberitahukan lailatul qadar kepada kalian, hanya tadi ada dua orang yang saling mencaci maki kemudian pemberitaan itu pun diangkat, semoga itu lebih baik bagi kalian. Maka carilah dia di malam kesembilan, ketujuh atau kelima."

2) HR. Sunan Al Darimi 1715. Telah mengabarkan kepada kami Yazid bin Harun telah menceritakan kepada kami Humaid dari Anas dari 'Ubadah bin Ash Shamit, ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar hendak mengabarkan lailatul qadar kepada kami, ternyata dua orang dari kaum muslimin saling berselisih. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun bersabda: "Sesungguhnya aku keluar hendak mengabarkan tentang lailatul qadar kepada kalian, karena antara Fulan dan Fulan berselisih (bertengkar), maka laitatul qadar diangkat kembali, semoga saja hal itu lebih baik, maka carilah lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir, yaitu pada hari ke lima, ke tujuh dan kesembilan."

3) HR. Bukhari 47. Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah bin Sa'id Telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Ja'far dari Humaid, Telah menceritakan kepadaku Anas bin Malik berkata, telah mengabarkan kepadaku 'Ubadah bin Ash Shamit, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar untuk menjelaskan tentang Lailatul Qodar, lalu ada dua orang muslimin saling berdebat. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku datang untuk menjelaskan Lailatul Qodar kepada kalian, namun fulan dan fulan saling berdebat sehingga akhirnya diangkat (lailatul qodar), dan semoga menjadi lebih baik buat kalian, maka itu intailah (lailatul qodar) itu pada hari yang ketujuh, enam dan lima ".

4) HR. Muslim 1996. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Abu Bakr bin Khallad keduanya berkata, Telah menceritakan kepada kami Abdul A'la telah menceritakan kepada kami Sa'id dari Abu Nadlrah dari Abu Sa'id Al Khudri radliallahu 'anhu, ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah I'tikaf pada sepuluh malam pertengahan bulan Ramadlan untuk mencari Lailatul Qadr sebelum hal itu dijelaskan pada beliau. Setelah sepuluh malam pertengahan itu berlalu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan untuk dibuatkan bilik, tetapi kemudian dibongkar. Kemudian dijelaskanlah kepada beliau, bahwa Lailatul Qadr ada pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadlan, lalu beliau memerintahkan untuk dibuatkan bilik lagi, akan tetapi dibongkar kembali. kemudian beliau keluar dan menemui orang-orang dan bersabda: "Wahai sekalian manusia, sungguh, telah dijelaskan kepadaku tentang Lailatul Qadr, dan kau keluar untuk memberitahukan kepada kalian tentang hal itu. Namun kemudian datang dua orang yang sama-sama mengaku benar sedangkan mereka ditemani oleh syetan. Sehingga Lailatul Qadr terlupakan olehku. Maka carilah Lailatul Qadr pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadlan, carilah Lailatul Qadr pada malam kesembilan, ketujuh dan kelima (dalam sepuluh malam terakhir itu)." Seseorang berkata, "Wahai Abu Sa'id! Kamu tentu lebih tahu bilangan itu dari pada kami." Abu Sa'id menjawab, "Tentu, kami lebih mengetahui tentang hal itu daripada kalian." Orang itu bertanya lagi, "Apa yang dimaksud dengan malam ke sembilan, ketujuh dan kelima?" ia menjawab, "Jika malam kedua puluh satu telah lewat, maka yang berikutnya adalah malam ke dua puluh dua, dan itulah yang dimaksud dengan malam ke sembilan. Dan apabila malam ke dua puluh tiga telah berlalu, maka berikutnya adalah malam ke tujuh, dan jika malam ke dua puluh lima telah berlalu, maka berikutnya adalah malam ke lima." Dalam riwayat lain Ibnu Khallad berkata "Redaksi keduanya sama-sama mengaku benar" seharusnya keduanya bersengketa.

5) HR. Ahmad 10654. Telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Ibrahim dari Sa'id Al Jurairi dari Abu Nadhrah dari Abu Sa'id ia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam beri'tikaf pada sepuluh hari kedua pada bulan Ramadlan untuk mendapatkan malam lailatul qodar sebelum tampak bagi beliau, ketika selesai beliau meminta untuk ditampakkan, lalu ia diturunkan dan tampaklah bahwa ia berada pada sepuluh hari terakhir, kemudian beliau menyuruh orang-orang agar tetap tinggal lalu beliau kembali dan beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir. Setelah itu beliau keluar kepada para sahabat seraya bersabda: "Hai manusia, sesungguhnya telah tampak kepadaku lailatul qodar maka aku keluar untuk memberitahu kalian tentangnya, lalu datanglah dua orang yang baunya busuk, mereka berdua bersama setan, sehingga aku dilupakan tentangnya, maka carilah ia pada hari kesembilan, ketujuh, dan kelima, " aku berkata; "Wahai Abu Sa'id, engkau lebih mengetahui akan bilangan dari pada kami, " Abu Sa'id berkata, "Aku lebih berhak dengannya daripada kalian, apa yang dimaksud dengan hari kesembilan, ketujuh dan kelima? Yaitu penghujung yang kalian sebut dengan hari ke duapuluh satu dan yang setelahnya adalah hari kesembilan, dan penghujung yang kalian sebut dengan hari keduapuluh tiga dan yang setelahnya adalah hari ketujuh, dan penghujung yang kalian sebut dengan hari keduapuluh lima dan yang setelahnya itulah hari kelima."

6) HR. Ahmad 11279. Telah menceritakan kepada kami 'Affan berkata; telah menceritakan kepada kami Hammam berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Katsir berkata; telah menceritakan kepadaku Abu Salamah bin Abdurrahman bin 'Auf berkata; "Aku pergi menemui Abu Sa'id Al Khudri, " Abu Salamah berkata; "Aku berkata; "maukah engkau keluar bersama kami untuk berbincang-bincang?" Abu Salamah berkata; "Lalu ia pun keluar, " Abu Salamah berkata; "Aku berkata kepadanya; "Ceritakanlah apa yang engkau dengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang malam lailatul qodar, " ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan ramadlan, dan kami juga ikut beri'tikaf bersamanya. Kemudian Jibril datang kepada beliau seraya berkata; "Sesungguhnya yang engkau minta telah ada di depanmu, " maka pada pagi hari di hari kedua puluh dari bulan ramadlan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdiri dan berkhutbah, beliau mengatakan: "Barangsiapa beri'tikaf bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam hendaklah ia kembali ke masjid, karena sesungguhnya aku diperlihatkan bahwa malam lailatul qodar ada pada sepuluh hari terakhir dari bulan ramadlan di malam ganjil. Namun aku lupa, dan aku bermimpi sungguh seakan-akan aku sujud di air yang berlumpur." Abu Sa'id berkata; "Sedang kami tidak melihat di langit, Hammam berkata; "Aku mengira bahwa Abu Sa'id mengatakan mendung; "tapi tiba-tiba datang mendung dan kamipun kehujanan hingga membanjiri atap masjid, dan waktu itu langit-langit masjid terbuat dari pelepah kurma. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat bersama kami, dan aku melihat bekas tanah dan air masih menempel di dahi dan hidung Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebagai bukti kebenaran mimpi beliau."

7) HR. Ahmad 7564. Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Al Mas'udi. Dan Abu An Nadhr juga berkata: Telah menceritakan kepada kami Al Mas'udi dari 'Ashim bin Kulaib dari bapaknya dari Abu Hurairah berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku keluar kepada kalian dalam keadaan telah mendapat penjelasan tentang malam lailatul qadar dan masihudl dlalalah (Dajjal). Ketika itu ada dua orang yang saling mencela di pintu masjid, lalu aku datang untuk melerai antara keduanya namun kemudian aku terlupakan, dan akan aku ceritakan salah seorang dari keduanya kepada kalian. Adapun malam lailatul qodar, maka carilah ia pada sepuluh malam akhir di malam ganjil. Dan masihudl dlalalah (Dajjal), sesungguhnya ia adalah seorang laki-laki yang bermata juling, serta jidad dan lehernya lebar seakan-akan ia Qathan bin Abdul Uzza." Abu Hurairah berkata, "Wahai Rasulullah, apakah akan membahayakan aku akan penyerupaannya?" beliau bersabda: "Tidak, engkau seorang muslim sedang ia seorang kafir."

8) HR. Bukhari 629. Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim berkata, telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Yahya dari Abu Salamah berkata, "Aku bertanya kepada Abu Sa'id Al Khudri (tentang Lailatul Qadar)." Ia lalu menjawab, "Pada suatu hari ada banyak awan (mendung) lalu turun hujan lebat hingga atap Masjid menjadi bocor oleh air hujan. Waktu itu atap masih terbuat dari daun pohon kurma. Ketika shalat dilaksanakan, aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sujud di atas air dan lumpur hingga tampak sisa tanah becek pada dahi beliau."

9) HR. Bukhari 771. Telah menceritakan kepada kami Musa berkata, telah menceritakan kepada kami Hammam dari Yahya dari Abu Salamah berkata, Aku pergi menemui Abu Sa'id Al Khudri, lalu aku bertanya kepadanya, "Maukah anda pergi bersama kami ke bawah pohon kurma lalu kita berbincang-bincang di sana?" Ia pun pergi dan bercakap-cakap bersama kami. Aku kemudian berkata, "Ceritakanlah kepadaku apa yang pernah anda dengar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tentang Lailatul Qadar." Dia lalu menjelaskan, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan i'tikaf pada sepuluh malam yang awal dari Ramadan, dan kami juga ikut beri'tikaf bersama beliau. Lalu datanglah Malaikat Jibril berkata, "Sesungguhnya apa yang kamu cari ada di depan kamu (pada malam berikutnya)." Maka Beliau beri'tikaf pada sepuluh malam pertengahannnya dan kami pun ikut beri'tikaf bersama Beliau. Kemudian Malaikat Jibril datang lagi dan berkata, "Sesungguhnya apa yang kamu cari ada di depan kamu (pada malam berikutnya)." Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berdiri memberi khuthbah kepada kami pada pagi hari di hari ke dua puluh dari bulan Ramadan, sabdanya: "Barangsiapa sudah beri'tikaf bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam maka pulanglah, karena aku diperlihatkan (dalam mimpi) Lailatul Qadar namun aku dilupakan waktunya yang pasti. Namun dia ada pada sepuluh malam-malam akhir dan pada malam yang ganjil. Sungguh aku melihat dalam mimpi, bahwa aku sujud di atas tanah dan air (yang becek)." Pada masa itu atap masjid masih terbuat dari daun dan pelepah pohon kurma, dan kami tidak melihat sesuatu di atas langit hingga kemudian datang awan dan turunlah air hujan. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat bersama kami hingga aku melihat sisa-sisa tanah dan air pada wajah dan ujung hidung Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebagai bukti kebenaran mimpi beliau."

10) HR. Bukhari 792. Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim berkata, telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Yahya dari Abu Salamah berkata, "Aku bertanya kepada Abu Sa'id Al Khudri (tentang Lailatul Qadar). Lalu ia menjawab, "Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sujud di atas air dan lumpur hingga aku bisa melihat bekas lumpur itu di dahi beliau."

11) HR. Bukhari 1877. Telah menceritakan kepada kami Mu'adz bin Fadhalah telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Yahya dari Abu Salamah berkata; Aku bertanya kepada Abu Sa'id Al Khudriy yang merupakan salah seorang sahabat karibku. Maka dia berkata: " Kami pernah ber'i'tikaf bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada sepuluh malam pertengahan dari bulan Ramadhan. Kemudian Beliau keluar pada sepuluh malam yang akhir lalu memberikan khuthbah kepada kami dan berkata: "Sungguh aku diperlihatkan (dalam mimpi) tentang Lailatul Qadar namun aku lupa atau dilupakan waktunya yang pasti. Namun carilah pada sepuluh malam-malam akhir dan pada malam yang ganjil. Sungguh aku melihat dalam mimpi, bahwa aku sujud diatas tanah dan air (yang becek). Oleh karena itu siapa yang sudah beri'tikaf bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam maka pulanglah". Maka kami pun pulang. Dan tidaklah kami melihat awan yang tipis sekalipun di langit hingga kemudian tiba-tiba datang awan yang banyak, lalu hujan turun hingga air menetes (karena bocor) lewat atap masjid yang terbuat dari dedaunan kurma. Kemudian setelah shalat (Shubuh) selesai aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sujud diatas air dan tanah yang becek hingga aku melihat sisa-sisanya pada dahi Beliau.

12) HR. Bukhari 1879. Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Hamzah berkata, telah menceritakan kepada saya Ibnu Abu HAzim dan Ad-Darawardiy dari YAzid bin Al Had dari Muhammad bin Ibrahim dari Abu Salamah dari Abu Sa'id Al Khudriy radliallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam 'i'tikaf di bulan Ramadhan pada sepuluh malam pertengahan bulan. Kemudian ketika telah melewati malam ke dua puluh menjelang malam kedua puluh satu Beliau datang kembali ke tempat khusus i'tikaf Beliau begitu pula mereka yang sebelumnya beri'tikaf bersama Beliau. Pada malam ketika Beliau kembali beri'tikaf di bulan tersebut, Beliau menyampaikan khuthbah di hadapan orang banyak dan memerintahkan mereka menurut apa yang Allah kehendaki, lalu Beliau bersabda: "Aku sudah melaksanakan i'tikaf pada sepuluh malam sebelumnya dari bulan ini kemudian dinampakkan kepadaku agar beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir, maka siapa yang telah beri'tikaf bersamaku tetaplah pada tempatnya beri'tikaf. Sungguh telah diperlihatkan kepadaku tentang malam Lailatul Qadar namun aku dilupakan waktunya yang pasti, maka carilah pada sepuluh malam-malam akhir dan carilah pada malam yang ganjil. Sungguh aku melihat diriku (dalam mimpi) sujud diatas air dan tanah (yang becek) ". Kemudian langit tampak mendung pada malam itu lalu turunlah hujan hingga masjid bocor mengenai posisi tempat shalat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada malam kedua puluh satu. Kemudian mataku memandang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, aku melihat Beliau setelah Shubuh dengan wajah Beliau yang penuh dengan tanah dan air".

13) HR. Bukhari 1887. Telah menceritakan kepada kami Isma'il berkata, telah menceritakan kepada saya Malik dari YAzid bin 'Abdullah bin Al Had dari Muhammad bin Ibrahim bin Al Harits At-Taimiy dari Abu Salamah bin 'Abdurrahman dari Abu Sa'id Al Khudriy radliallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam 'i'tikaf pada sepuluh malam pertengahan bulan dari Ramadhan lalu orang-orang mengikutinya. Hingga ketika malam kedua puluh satu, yaitu malam ketika Beliau kembali ke tempat i'tikaf Beliau, Beliau berkata: "Siapa yang telah beri'tilkaf bersamaku maka hendaklah dia beri'tikaf pada sepuluh malam-malam akhir. Sungguh aku telah diperlihatkan tentang malam Lailatul Qadar ini namun kemudian aku dilupakan waktunya yang pasti. Maka carilah pada malam sepuluh akhir dan carilah pada malam yang ganjil". Kemudian pada malam itu langit menurunkan hujan. Pada waktu itu atap masjid masih terbuat dari dedaunan hingga air hujan mengalir masuk kedalam masjid. Kemudian mataku memandang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang pada dahi Beliau ada sisa air dan tanah di waktu pagi pada hari kedua puluh satu".

14) HR. Bukhari 1895. Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Munir dia mendengar Harun bin Isma'il telah menceritakan kepada kami 'Ali bin AL Mubarak berkata, telah menceritakan kepada saya Yahya bin Abu Katsir berkata, aku mendengar Abu Salamah bin 'Abdurrahman berkata; Aku pernah bertanya kepada Abu Sa'id Al Khudriy, aku katakan: "Apakah kamu pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberitahukan tentang Lailatul Qadar?" Dia menjawab: "Ya pernah, kami pernah ber'i'tikaf bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada sepuluh malam pertengahan dari bulan Ramadhan. Dia berkata: "Kemudian kami keluar pada pagi hari kedua puluh. Dia berkata: "Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberikan khuthbah kepada kami pada pagi hari kedua puluh dan berkata: "Sungguh aku diperlihatkan (dalam mimpi) tentang Lailatul Qadar namun aku dilupakan waktunya yang pasti. Maka carilah pada sepuluh malam-malam akhir dan pada malam yang ganjil. Sungguh aku melihat dalam mimpi, bahwa aku sujud diatas tanah dan air (yang becek). Oleh karena itu siapa yang sudah beri'tikaf bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam maka kembalilah beri'tikaf". Maka orang-orang kembali ke masjid. Dan saai itu tidaklah kami melihat awan yang tipis sekalipun di langit hingga kemudian tiba-tiba datang awan yang banyak lalu hujan turun. Kemudian shalat didirikan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sujud diatas tanah yang becek dan air hingga aku melihat sisa-sisa tanah pada ujung hidung dan dahi Beliau.

15) HR. Muslim 1993. Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Bakr bin Mudlar dari Ibnul Hadi dari Muhammad bin Ibrahim dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Abu Sa'id Al Khudri radliallahu 'anhu, ia berkata; Dulu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melakukan I'tikaf pada sepuluh hari pertengahan bulan Ramadlan, dan ketika dua puluh hari dari bulan Ramadlan telah berlalu dan hari ke dua puluh satu akan segera masuk, beliau kembali ke tempat tinggalnya dan orang-orang yang ikut beri'tikaf bersamanya pun ikut pulang. Namun pada malam ke dua puluh satu Ramadlan, beliau kembali beri'tikaf dan menyuruh orang-orang agar ikut beri'tikaf bersamanya: "Barangsiapa yang ingin beri'tikaf bersamaku, hendaklah ia bermalam di tempat I'tikafnya. Dan sesungguhnya, aku telah melihat (bahwa) malam ini (adalah malam lalaitul Qadar), namun aku dilupakan kembali. Karena itu, carilah (Lailatul Qadar itu) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadlan. Yakni pada setiap malam ganjil. Dan aku juga telah bermimpi sujud di tanah yang basah." Abu Sa'id berkata, "Hujan pun turun pada malam ke dua puluh satu hingga air hujan itu merambat ke tempat shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Aku melihat ke tempat itu, ternyata beliau telah beranjak usai menunaikan shalat Shubuh, sementara di wajah beliau basah dengan tanah bercampur air." Dan Telah mennceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz yakni Ad Darawardi, dari Yazid dari Muhammad bin Ibrahim dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Abu Sa'id Al Khudri radliallahu 'anhu, bahwa ia berkata; "Dulu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melakukan I'tikaf pada sepuluh hari pertengahan bulan Ramadlan." Maka ia pun menyebutkan hadits yang semisalnya, hanya saja ia menyebutkan; "FALYUTSBIT FI MU'TAKAFIHI (Hendaklah ia menetap di tempat I'tikafnya)." Dan ia juga menyebutkan; "WA JABIINUHU MUMTALI`AN THIINAN WA MAA`AN (Dan pada keningnya terdapat tanah dan air)."

16) HR. Muslim 1994. Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abdul A'la telah menceritakan kepada kami Al Mu'tamir telah menceritakan kepada kami Umarah bin Ghaziyyah Al Anshari ia berkata, saya mendengar Muhammad bin Ibrahim menceritakan dari Abu Salamah dari Abu Sa'id Al Khudri radliallahu 'anhu, ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melakukan I'tikaf pada sepuluh awal bulan Ramadlan, kemudian dilanjutkannya pada sepuluh pertengahan, dalam sebuah kubah kecil yang terbuat dari permadani dan pintunya ditutup dengan tikar. Lalu beliau ambil tikar itu, dan diletakkannya di sudut kubah. Kemudian diulurkannya kepalanya seraya berujar memanggil orang banyak. Maka mendekatlah mereka pada beliau, beliau bersabda: "Aku telah I'tikaf sejak sepuluh awal bulan untuk mendapatkan Lailatul Qadr, kemudian sepuluh yang pertengahan. Kemudian dikatakan kepadaku bahwa Lailatul Qadr itu terdapat pada sepuluh akhir Ramadlan. Karena itu, siapa yang suka I'tikaf, maka silahkan." Maka para sahabat pun ikut I'tikaf bersama-sama dengan beliau. Dan beliau juga bersabda: "Aku bermimpi melihat Lailatul Qadr di malam ganjil, yang pada pagi harinya aku sujud di tanah yang basah." Memang, pagi-pagi malam kedua puluh satu beliau shalat Shubuh sedangkan hari hujan sehingga masjid tergenang air. Aku melihat tanah dan air. Setelah selesai shalat Shubuh, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar, sedangkan di kening dan hidungnya ada tanah basah. Malam itu adalah malam ke dua puluh satu dari sepuluh yang akhir bulan Ramadlan.

17) HR. Muslim 1995. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Abu 'Amir telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Yahya dari Abu Salamah ia berkata; Kami ingat Lailatul Qadr, lalu saya mendatangi Abu Sa'id Al Khudri radliallahu 'anhu -ia juga adalah temanku- lalu saya bertanya, "Tidakkah Anda keluar bersama kami ke kebun kurma?" Maka ia pun keluar dengan mengenakan jubah. Kemudian saya bertanya lagi, "Apakah Anda pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyebutkan mengenai Lailatul Qadr?" ia menjawab; "Ya, kami pernah melakukan I'tikaf bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada sepuluh awal pertengahan Ramadlan. Dan ketika kami keluar pada pagi hari ke dua puluh, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bekhutbah seraya bersabda: "Sesungguhnya aku telah bermimpi diperlihatkan padaku Lailatul Qadr, namun aku lupa -atau- dilupakan lagi. Karena itu, carilah ia pada sepuluh terakhir Ramadlan, yakni pada setiap malam ganjil. Dan sungguh, di dalam mimpiku, aku bersujud di air yang lembab. Maka siapa yang mau melakukan I'tikaf bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, hendaklah ia kembali." Lalu kami pun pulang, dan saat itu saya tidak melihat kabut sedikit pun di langit. Namun, tiba-tiba datanglah kumpulan awan, hingga hujan pun turun, hingga masjid tergenang air, padahal masjid itu terbuat dari pelepah kurma. Kemudian shalat pun didirikan dan saya melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sujud di atas hamparan air dan tanah yang melembab, hingga saya melihat bekasnya pada kening beliau. Dan Telah menceritakan kepada kami Abdu Humaid telah mengabarkan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ma'mar -dalam riwayat lain- Dan Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdurrahman Ad Darimi telah mengabarkan kepada kami Abul Mughirah telah menceritakan kepada kami Al Auza'i keduanya dari Yahya bin Abu Katsir dengan isnad ini, semisalnya. Dan dalam kedua haditsnya tercantum; "Saya melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam saat beliau usai menunaikan shalat, sementara pada keningnya terdapat bekas tanah."

18) HR. Abu Daud 1174. Telah menceritakan kepada kami Al Qa'nabi dari Malik dari Yazid bin Abdullah bin Al Had dari Muhammad bin Ibrahim bin Al Harits At Taimi dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Abu Sa'id Al Khudri dia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memulai beri'tikaf pada sepuluh kedua pada bulan Ramadan. Beliau beri'tikaf pada tahun itu, hingga ketika tiba malam kedua puluh satu, yaitu hari ketika beliau keluar dari I'tikafnya, beliau bersabda: 'Barangsiapa ingin melaksanakan I'tikaf bersamaku, hendaklah dia mengerjakannya pada sepuluh hari yang terakhir ini. Aku telah melihat dalam mimpiku, namun aku lupa. Aku mimpi pada waktu paginya aku bersujud pada air dan tanah. Carilah lailatul qadar pada malam yang ganjil. ' Abu Sa'id berkata; "Pada malam itu terjadi hujan, dan saat itu masjidnya laksana bangsal untuk berteduh dan bocor, " Abu Sa'id menambahkan; "Dengan kedua mataku, aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pergi, sementara pada dahi dan hidungnya ada bekas tanah dan air. Itu terjadi pada pagi hari malam ke dua puluh satu."

19) Sunan An Nasa’i 1339. Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah bin Sa'id dia berkata; telah menceritakan kepada kami Bakr bin Mudlar dari Ibnul Had dari Muhammad bin Ibrahim dari Abu Salamah bin 'Abdurrahman dari Abu Sa'id Al Khudri dia berkata; "Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam beri'tikaf pada tanggal sepuluh di pertengahan bulan (Ramadhan), dan bila telah lewat dua puluh malam dan menjelang dua puluh satu maka beliau kembali ke rumahnya. Orang yang beri'tikaf dengannya juga ikut kembali. Kemudian beliau bangun malam di bulan tersebut dan beri'tikaf di malam yang ia pulang saat itu. Lalu beliau memberikan ceramah kepada orang-orang dan memerintahkan mereka dengan apa yang Allah kehendaki, kemudian beliau Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda: 'Aku I'tikaf pada sepuluh malam ini, kemudian nampak bagiku untuk I'tikaf pada sepuluh terakhir. Barangsiapa I'tikaf bersamaku, maka tetaplah ia ditempat I'tikafnya, dan aku melihat malam ini kemudian aku dilupakan, maka carilah (lailatul qadar) pada sepuluh terakhir tiap malam ganjil. Aku melihat diriku sujud diatas air dan lumpur." Abu Sa'id berkata; "Pada malam dua puluh satu kami diguyur hujan, dan masjid (Nabawi) saat itu bocor tepat pada tempat shalatnya Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam. Lalu aku melihatnya dan beliau telah usai dari shalat Subuh dengan wajah berlumpur dan berair."

20) HR. Ahmad 10757. Telah menceritakan kepada kami Yahya berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Amru berkata; telah menceritakan kepadaku Abu Salamah bin Abdurrahman berkata; kami saling mengingatkan tentang malam lailatul Qodar, lalu sebagian orang berkata; "Sesungguhnya ia ada pada setiap tahun, " lalu kami berjalan menuju Abu Sa'id Al Khudri, aku berkata; "Wahai Abu Sa'id, apakah engkau mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menceritakan tentang lailatul qodar?" ia menjawab; "Ya benar, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam beri'tikaf pada sepuluh hari yang kedua di bulan Ramadlan dan kami juga beri'tikaf bersama beliau. Ketika tiba pagi di hari kedua puluh beliau pulang dan kami pulang bersama beliau, kemudian lailatul qodar diperlihatkan kepada beliau namun beliau lupa, beliau lalu bersabda: "Sesungguhnya aku melihat lailatul qodar namun aku dilupakan darinya, lalu aku bermimpi sedang bersujud di air dan tanah, maka barangsiapa ingin beri'tikaf denganku hendaknya ia kembali ke tempat i'tikafnya, carilah ia pada sepuluh hari terakhir pada hari-hari yang ganjil di dalamnya." Kemudian langit pada sore itu menurunkan hujannya sedangkan setengah dari masjid ketika itu beratap dengan pelepah kurma maka ia pun menjadi basah. Demi Dzat Yang memuliakan dan menurunkan kitab kepadanya, sungguh aku melihat ketika beliau shalat bersama kami pada malam kedua puluh satu, di dahi serta ujung hidung beliau ada air becampur tanah."

21) HR. Ahmad 11151. Telah menceritakan kepada kami Isma'il berkata; telah mengabarkan kepada kami Hisyam Ad Dustuwa`i dari Yahya bin Abu Katsir dari Abu Salamah ia berkata; "kami menyebut-nyebut tentang malam lailatur qodar bersama beberapa orang dari Quraisy, lalu aku mendatangi Abu Sa'id Al Khudri, dia adalah sahabatku, aku berkata kepadanya; "Keluarlah bersama kami di bawah pohon kurma, " lalu ia pun keluar, sedang ketika ia memakai kemeja. Kemudian aku bertanya kepadanya; "Apakah engkau mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda tentang malam lailatul qodar?" ia menjawab; "Ya, kami pernah beri'tikaf bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada sepuluh hari yang kedua pada bulan ramadlan. Lalu pada pagi hari di hari kedua puluh, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkhutbah di hadapan kami, beliau bersabda: "Malam lailatul qodar telah diperlihatkan kepadaku namun aku dilupakannya, atau beliau mengatakan, "aku lupa, maka carilah ia pada sepuluh hari terakhir pada malam-malam ganjil. Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku sujud di air yang berlumpur, maka barangsiapa ingin beri'tikaf dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam hendaklah ia kembali." Maka kami pun kembali ke dalam masjid. Dan kami tidak melihat mendung di langit, tapi tiba-tiba datang mendung dan kamipun kehujanan hingga membanjiri atap masjid, dan waktu itu atap masjid terbuat dari pelepah kurma. Maka ketika shalat didirikan aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sujud di air yang berlumpur sampai-sampai aku melihat bekas tanahnya di dahi beliau."

22) HR. Ahmad 11389. Telah menceritakan kepada kami Ya'qub berkata; telah menceritakan kepada kami Bapakku dari Ibnu Ishaq berkata; telah menceritakan kepadaku Yazid bin Abdullah bin Qusaith dari 'Atho` bin Yasar dari saudaranya Sulaiman bin Yasar dari Abu Sa'id Al Khudri ia berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkhutbah kepada manusia di atas mimbarnya: "Wahai manusia sekalian, sesungguhnya telah diperlihatkan kepadaku malam lailatul qadar namun aku dilupakannya, dan aku juga bermimpi bahwa pada kedua sikuku ada dua gelang emas, namun aku tidak menyukainya lalu aku tiup hingga keduanya terbang, dan aku ta`wilkan bahwa keduanya adalah dua orang pendusta; dari Yaman dan dari Yamamah."

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Diangkatnya Pemberitaan Lailatul qadar dan dua orang yang berdebat"

Posting Komentar