Hisab dan Rukyat : Benarkah Ilmu dan pengetahuan tidak sejalan?

Hisab dan Rukyat : Benarkah Ilmu dan pengetahuan tidak sejalan? foto : luarangkasa.com
Anda tentu lebih mengenal ilmu pengetahuan dalam satu kesatuan. Namun disini Penulis membedakan antara ilmu dengan pengetahuan. Pengertian ini diambil dari kamus besar bahasa Indonesia, Ilmu adalah pengetahuan tertentu dalam suatu bidang yg disusun secara bersistem menurut metode tertentu, sedangkan pengetahuan adalah kepintaran atau segala sesuatu yang diketahui.

Berkaitan dengan penentuan awal kalender Hijriah, bahwa ada dua metode utama yaitu hisab dan rukyat. Hisab dapat disebut mewakili Ilmu, dan rukyat adalah perwakilan dari pengetahuan. Dan dalam perjalanannya Ilmu dan pengetahuan belum mendapatkan jalan tengah atau titik temu antara hisab dan rukhyat. Memasuki usia kalender Hijriah yang sudah mencapai 1437 H, belum ditemukan kalender yang mapan yang berlaku tetap seperti kalender syamsiah yakni kalender Masehi.

Di Indonesia metode Hisab digunakan oleh Muhammadiyah (MU), sedangkan rukhyat digunakan oleh Nadlatul Ulama (NU). Begitu juga umat Islam di berbagai Negara diberbagai belahan dunia terbagi antara menggunakan metode hisab dan rukhyat. Dan di Arab Saudi sendiri selaku Negara dimana Masjidil Haram berada sebagai kiblat seluruh umat muslim seluruh dunia mengunakan dua metode ini secara terpisah. Kalender Ummul Quro (tahunan Hijriah) disusun berdasarkan perhitungan astronom dengan metode hisab untuk kebutuhan administrasi dan lainnya. Sedangkan rukhyat digunakan para ulama pada bulan-bulan ibadah.

Dengan perbedaan metode tentunya hal yang wajar jika terjadi perbedaan tanggal atau awal bulan baru. Metode hisab memang memiliki kelebihan karena dapat membuat kalender yang tetap dan mapan hingga tahun-tahun berikutnya. Sementara rukhyat menentukan tanggal awal bulan baru dapat dilakukan dengan melihat hilal setelah terbenam matahari pada hari ke 29 setiap bulannya.

Metode hisab berpegang pada criteria-ktria yang telah ditentukan untuk menentukan awal bulan baru. Sedangkan Rukhyat berpegang pada penglihatan hilal sebagai tanda memasuki bulan baru. Perbedaan kerap muncul, pengguna metode hisab telah menetapkan awal bulan baru sementara rukhyat belum melihat hilal sehingga hisab dan rukhyat hasilnya berbeda. Hisab belum menetapkan awal bulan baru karena belum sesuai criteria, tapi rukhyat telah melihat hilal sehingga hasil hisab dan rukhyat berbeda. Namun awal bulan bisa sama jika sesuai dengan kriteria metode hisab dan hilal telah terlihat dengan metode rukhyat.

Tidak heran muncul berbagai usaha untuk mendekatkan antara hisab (ilmu) dengan rukyat (pengetahuan) yang diantaranya yaitu imkanu rukhyat. Namun Imkanu rukhyat sejatinya adalah termasuk metode hisab. Jika metode hisab menggunakan kriteria ketinggian hilal 0⁰ (di Indonesia dikenal dengan kriteria Wujudul Hilal-digunakan Muhammadiyah dan di Arab Saudi Maulidan hilal oleh para astronom), maka imkanu berbeda-beda sesuai dengan penelitian masing-masing.

Imkanu berusaha mendekatkan hisab dengan rukyat . Imkanu rukhyat merupakan metode yang memuat kriteria-kriteria hilal yang mungkin dapat dilihat dengan metode rukhyat. Ada banyak kriteria imkanu rukyat di Indonesia dan dunia. Diantaranya Persatuan Islam (persis) dan Lembaga Penelitian Antariksa (LAPAN) menggunakan kriteria ketinggian hilal 2⁰. Pemerintah melalui Kemenag RI sesuai kesepakatan Menteri Agama di ASEAN menggunakan kriteria 4⁰. Dan Banyak lagi kriteria yang digunakan termasuk variasi lainnya yang tidak terbatas pada ketinggian hilal. Terakhir Konferensi Penyatuan Kalender Hijriah di Turki 28-30 Mei 2016 yang dihadiri para ilmuwan dan ulama seluruh dunia termasuk Indonesia mengirimkan 3 utusan dari MUI, MU dan NU. akhir dengan menyepakati adanya kalender Islam global.

Kalender Islam Global disusun berdasarkan Imkanu rukhyat dengan kriteria ketinggian hilal 8⁰. KeputusanDengan perhitungan bahwa mulai tahun 2016 hingga tahun 2022 akan terjadi kebersamaan tanggal antara hisab dan rukhyat. Dan baru tahun 2023 akan kembali terjadi perbedaan awal ramadhan, awal syawal, awal dzulhhijah untuk ibadah arafah dan idul adha.

Namun kalender Islam Global langsung mendapatkan ujian pada tahun pertamanya. Setelah mengawali ramadhan 1437 H secara bersama-sama pada hari senin 6 Juni 2016, Kalender Islam Global kembali berbeda dalam mengawali syawalnya. Kerajaan Arab Saudi memutuskan 1 syawal jatuh pada hari rabu tanggal 6 Juli 2016 dan demikian juga di indonesia Pemerintah dan ormas-ormas islam. Sementara Kalender Islam Global menetapa 1 syawal jatuh pada hari selasa tanggal 5 Juli 2016. Lalu bagaimana dengan penetapan 1 dzulhijjah yang sudah didepan mata, akankah dapat terjadi kebersamaan atau justeru perbedaan kembali.

Harus diakui memang sepanjang sejarah ilmu dan pengetahuan sering kali bersinggunggan. Sepertinya halnya hisab dan rukhyat juga belum menemukan jalan tengah atau titik temu. Demikian juga Imkanu Rukhyat belum mampu menjadi jalan tengah diantara hisab dan rukhyat. Hal ini terlihat Kalender Islam Global dan hasil rukhat belum dapat menghasilkan kesimpulan awal bulan yang sama.

Namun kenyataan ini tidak membuat kita berhenti untuk mencari titik temu dan jalan tengah antara keduanya. إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ . Semoga terbuka pintu-pintu kemudahan dalam menemukan jalan bersatu kalender hijriah sebagai panduan umat islam dalam menjalan ibadah sesuai syariah. Kalender yang dapat memenuhi norma keilmuan dan tetap dalam tuntunan syariat Islam.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hisab dan Rukyat : Benarkah Ilmu dan pengetahuan tidak sejalan?"

Posting Komentar