Latar Belakang Buku Masjidil Haram Menyatukan Kalender Islam Dunia

Islam sebagai agama Rahmatan Lil Alamin memberi perhatian besar terhadap pentingnya waktu. Beberapa surat dalam Alquran diberi judul sesuai dengan nama waktu seperti Al Lail, Ad dhuha, Al fajr dan lainnya. Jika dihitung ada sekitar dua belas suratnya diberi judul nama waktu. Hal ini berarti lebih sepuluh persen alquran memberi perhatian terhadap waktu. Bahkan matahari dan bulan sebagai dasar perhitungan waktu, juga disematkan sebagai nama surat Alquran yaitu surat ke ke-54 Al Qomar (bulan) dan Surat ke-91 Asy Syams (matahari). 

Hal ini membuktikan bahwa Islam memiliki banyak perangkat dalil yang dapat digunakan sebagai dasar penyusunan kalender. Namun kenyataannya hingga akhir 1437 H, umat Islam belum memiliki kalender yang dapat disepakati bersama. Padahal kalender merupakan gambaran kemajuan sebuah peradaban. Hal ini tentu menjadi pertanyaan besar bagi umat islam, mengapa hal ini dapat terjadi? 

Jika mengacu pada kalender Yahudi dan Nashrani, sebagian pihak mungkin beranggapan Islam sudah tertinggal jauh dalam hal peradaban kalender. Yahudi dengan kalender lunisolar yang mulai digunakan sejak 3761 SM, seperti tidak terdengar perdebatan masalah kalendernya. Demikian juga kalender masehi dianggap telah mapan karena dapat berlaku secara global. Kalender Masehi cuma terdengar agak aneh saat lompatan 11 hari pada tahun 1582, selebihnya secara bertahap telah dapat diterima secara global. 

Sementara Kalender Islam Dunia masih sebatas impian umat dan menyimpan banyak perbedaan pandangan dan pendapat. Umat Islam belum mampu menyelaraskan kepentingan sipil dan ibadah dalam kalendernya. Hal ini memicu perbedaan metode, kriteria, wilayah dan lainnya sebagai dasar membangun Kalender Islam Dunia. Perbedaan metode terlihat pada masih alotnya pembahasan antara metode rukhyat atau hisab dan atau imkanu rukhyat. Perbedaan ketiganya meruncing hingga kriteria yang digunakan dan justru semakin memperbanyak cabang model kalender. 

Perbedaan wilayah berlaku kalender (matla’) juga tidak kalah seru dalam pembahasan kalender Islam. Mulai pendapat yang menyatakan kalender Islam hanya berlaku lokal, seragam untuk satu wilayah pemerintahan negara hingga berlaku untuk seluruh negara di dunia. Setiap pendapat tersebut masih harus terbagi-bagi lagi. Seperti pendapat yang menyatakan kalender Islam dapat berlaku diseluruh dunia, setidaknya terbagi atas empat pendapat yaitu satu zona waktu, dua zona waktu atau tiga zona waktu dan atau bahkan empat zona waktu dunia. 

Perangkat dan aturan yang begitu banyak tentunya menjadikan umat islam berlomba untuk menjadikan kalender Islam yang dapat memberikan kepastian waktu. Tidak heran jika umat Islam memiliki banyak kalender mulai dari berlaku lokal, negara hingga internasional. Untuk Internasional di Arab Saudi dikenal kalender Ummul Quraa, di Turki ada Kalender Hijriah Global, di eropah ada kalender dari European Council for Fatwa and Research dan di Amerika ada FCNA/ISNA - Fiqh Council of North America/Islamic Society of North America. Untuk skala Negara, sebagian besar Negara melakukan rukhyat lokal memiliki kalender Islam sendiri seperti Inggris, Malaysia, Brunei, India dan lainnya. Dan termasuk di Indonesia memiliki beragam kalender seperti Kalender Muhammadiyah, Almanak NU, kalender Persis dan lainnya. 

Walaupun perbedaan begitu banyak dan beragam, namun tidak membuat usaha menyatukan kalender Islam Dunia berhenti dalam sejarah perjalanan umat islam. Berbagai penelitian, tulisan, diskusi, seminar, kongres dan konferensi telah dilakukan untuk menyatukan kalender Islam. Tentunya kegiatan ini menguras tenaga, pikiran dan perjuangan para ilmuwan, tokoh Islam dan ulama. 

Bahkan tidak sedikit para ilmuwan dan tokoh Islam yang mengabdikan hidupnya untuk persatuan kalender Islam. Beberapa organisasi atau kelembagaan dibentuk khusus untuk membangun Kalender islam Dunia yang mapan dan mempersatukan. Tentunya jerih payah dan upaya menyatukan umat melalui penyatuan kalender Islam Dunia harus mendapat apresiasi yang luas. 

Terakhir konferensi penyatuan kalender hijriyah internasional di Turki pada tanggal 28-30 Mei 2016 atau 21-23 Sya’ban 1437 H. Konferensi ini membahas sekitar 10 model kalender yang dapat dijadikan sebagai kalender pemersatu umat Islam. Pembahasan akhir mengkerucut menjadi dua opsi yaitu menjadikan bumi satu wilayah waktu untuk Kalender unifikasi dan Kalender zonal untuk dua wilayah waktu timur dan barat. 

Hasil keputusan konferensi harus diambil melalui voting suara terhadap dua opsi tersebut. Hasilnya dari 130 peserta sebagai perwakilan dari Negara-negara di dunia memutuskan memilih kalender unifikatif. Dengan hasil voting yaitu 80 peserta memilih kalender unifikatif, 30 peserta memilih kalender zonal dan 20 peserta memilih abstain. Pengambilan keputusan melalui voting tentunya dapat bermakna bahwa masih ada pokok-pokok permasalahan yang belum dapat disepakati melalui musyawarah. 

Namun demikian keberhasilan mengambil keputusan bukanlah akhir sebuah perjalanan. Justeru itu adalah awal dari perjalanan panjang kalender. Ujian sebenarnya ada dalam penerapan kalender hijriah Global tersebut. Dalam tahun yang sama tiga momen hari ibadah yaitu Ramadhan, syawal dan dzulhijjah 1437 H yang akan menguji perjalanan Kalender Hijriah Global. 

Pada momen pertama Kalender Hijriah Global telah menetapkan 1 Ramadhan 1437 H jatuh pada tanggal 6 juni 2016. Namun faktanya, Negara-negara di dunia terbagi atas empat kelompok model penentuan awal bulan. Hasilnya umat Islam dunia harus mengawali bulan ramadhan dalam tiga kelompok hari yaitu tanggal 5, 6 dan 7 juni 2016. 



Sementara pada momen besar kedua, Kalender Hijriah Global menetapkan Hari Raya Idul Fitri jatuh pada tanggal 5 Juni 2016. Negara-negara di dunia terbagi atas empat kelompok model penentuan awal bulan syawal. Dan hasilnya ada dua kelompok hari awal bulan syawal di dunia yaitu tanggal 5 dan 6 juli 2016. 



Sementara pada momen besar ketiga, Kalender Hijriah Global menetapkan Hari Raya idul Adha jatuh pada tanggal 12 Juni 2016. Sedangkan negara-negara di dunia terbagi atas empat kelompok model penentuan awal bulan syawal. Dan hasilnya ada tiga kelompok Hari Raya Idul Adha di dunia yaitu tanggal 11, 12 dan 13 September 2016. 


Berdasarkan perbandingan ketiga momen tersebut, terlihat bahwa ada empat kelompok metode yang digunakan Negara-negara didunia. Adapun gambar grafik keempat model tersebut adalah sebagai berikut : 



Dalam hal usia, Kalender Hijriah memang masih tergolong muda jika dibandingkan dengan kalender lainnya di dunia khususnya Kalender Yahudi dan Masehi. Namun perkembangan informasi dan teknologi menjadikan Islam seperti jauh tertinggal dibelakang dalam hal kalender dan menjadi bahan cibiran di sosial media. 

Perbedaan-perbedaan pandangan dalam membangun kalender Islam Dunia seringkali meruncing yang berpotensi pada perpecahan. Tidak heran jika tidak sedikit tokoh dan ilmuwan Islam pesimis bahwa Islam akan mampu membuat kalender Islam Dunia yang mapan. Sehingga sebagian tokoh dan para ulama berusaha mengelola perbedaan dalam penetapan awal bulan kalender hijriah tidak berujung pada perpecahan. 

Perbedaan dalam penetapan awal bulan hijriah terkadang mencerminkan perpecahan dalam umat Islam. Perbedaan metoda dan kriteria yang digunakan dalam menyusun kalender, terkadang memperlihatkan aliran atau faham kelompok Islam penggunanya. Penelitian Sriyatin mencatatkan bahwa terdapat 60 model yang digunakan untuk menetapkan awal bulan hijriah di Indonesia. Oleh karenanya bukan tidak mungkin saat ini, sudah berkembang hingga 73 model seperti jumlah terpecahnya Umat Islam dalam 73 golongan seperti yang pernah disampaikan Rasulullah صلي الله عليه وسلم. 

Memang harus diakui selama perbedaan-perbedaan yang ada, belum mampu dimusyawarahkan dan dimufakatkan maka kalender Islam dunia masih sulit untuk diwujudkan. Umat Islam memang taat pada ulil amri, namun umat islam juga taat dengan Alquran dan hadits. Oleh karenanya kekuatan otoritas pemimpin umat tetap harus diikuti dalil-dalil yang dapat diterima semua pihak. Hal ini telah dinyatakan dalam Surat An Nisaa’ ayat 59 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا 

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. 2:59) 

Untuk itu diperlukan usaha untuk mendefenisikan perbedaan-perbedaan yang ada dalam menyatukan Kalender Islam. Dan mencari jalan tengah sesuai Alquran dan hadits yang dapat menyatukan perbedaan tersebut. Hingga lahir kalender Islam Dunia yang mampu mengakomodir perbedaan-perbedaan yang ada. 

Keadaan inilah yang kemudian mendorong penulis termotivasi untuk menelusuri penyebab Kalender Islam belum dapat disatukan. Melalui buku ini penulis menawarkan konsep Menyatukan Kalender Islam Dunia dengan dasar perintah Alquran yaitu Palingkan Wajahmu ke arah Masjidil Haram. Insya Allah tulisan ini dapat menjadi dasar bagi terwujudnya kalender islam Dunia untuk menyatukan kegiatan umat Islam baik sipil maupun ibadah. 

Penulis menyadari bukanlah seorang ulama, sehingga mungkin masih jauh dari kesempurnaan dalam mengartikan, memaknai dan menafsirkan Alquran dan Al hadits. Penulis juga bukanlah seorang ilmuwan yang mahir ilmu falak dan astronomi secara mendalam. Penulis juga bukanlah seorang sastrawan yang dapat menyusun kata-kata indah dan dapat menyenangkan semua pihak. 

Penulis hanyalah seorang hambaNya yang masih belajar dan ingin memberikan sumbangsih pikiran, rasa dan keyakinan demi terwujudnya kalender Islam Dunia. Rasa, pikir dan keyakinan yang dibulatkan dalam sikap untuk menemukan jalan tengah dalam perbedaan-perbedaan yang ada. Jalan tengah inilah yang dijadikan landasan menyatukan Kalender Islam Dunia. Untuk menjadikan kalender Islam dunia yang dapat menyatukan puasa dan hari raya seluruh umat Islam diseluruh dunia dalam satu hari satu tanggal. Oleh karenanya jika dalam buku ini nantinya terdapat kebenaran, hal itu tidak lain kebenaran dari Allah SWT. Jika terdapat kesalahan, kekhilafan dan kekeliruan, maka itu datangnya murni dari penulis.

Bagian Terkait :

  1. Kalender Islam 
  2. Kalender Bulan (Lunar atau Komariah)
  3. Kalender Lunisolar
  4. Kalender Matahari (Solar, Syamsiah)
  5. Untuk Daftar Isi  klik buku Palingkan Wajah ke Arah Masjidil Haram untuk menyatukan Kalender Islam Dunia

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Latar Belakang Buku Masjidil Haram Menyatukan Kalender Islam Dunia"

Posting Komentar