Perlunya Awal Hari diganti dari malam menjadi siang

Tulisan ini adalah jawaban terhadap pertanyaan –pertanyaan terhadap pembahasan siang adalah awal hari dalam Islam. Sebelumnya telah disampaikan bahwa bahasan ini adalah salah satu bagian buku Masjidil Haram menyatukan kalender Islam. Mengganti Awal Hari dari malam menjadi siang sebagai salah satu faktor bersatunya kalender Islam. 

Pergantian awal hari dari malam menjadi siang, tentu berdampak luas, diantaranya adalah

1. Perubahan awal dan akhir shalat tarawih di bulan Ramadhan. Jika selama ini lebih dahulu shalat tarawih lalu esok paginya berpuasa, maka dengan siang lebih dulu maka shalat tarawih dilaksanakan setelah berpuasa. Demikian juga diakhir Ramadhan, jika tarawih tidak lagi dilakukan dan digantikan takbiran. Maka dengan perubahan siang lebih dulu daripada malam maka shalat tarawih tetap dilaksanakan di malam terakhir Ramadhan. Sementara takbiran dilaksanakan keesokan harinya.

2. Takbiran dilaksanakan pada pagi hari saat keluar dari rumah hingga di tanah lapang. Takbiran seperti ini yang dicontohkan oleh Rasulullah dan sahabat. Baca hadits takbiran yang dilakukan Rasulullah dan sahabat.

3. Magrib termasuk shalat siang. Maka shalat lima waktu terdiri dari empat shalat di waktu siang dan satu shalat diwaktu malam. Insya Allah Baca Shalat Lima Waktu empat waktu siang stu waktu malam 

Melalui postingan di medsos, tulisan tersebut memancing beragam respon. Ada beberapa respon sahabat hikmah 313 ditanggapi, untuk dapat menjadi pemahaman bersama yaitu :

1. Apa perlunya awal hari diubah dari malam menjadi siang?

2. Perubahan awal hari dari malam menjadi siang, khan cuma perkara muamalah bukan aqidah dan ibadah.

3. Tidak apa-apalah takbiran dimalam sebelum hari raya, khan meramaikan masjid sehingga menjadi syiar.


Mengingat beberapa jawaban terkait telah ditulis sebelumnya, maka untuk referensi, boleh kiranya sambil dibaca tulisan berikut ini:




Dan untuk melengkapi jawaban apa perlunya awal hari diubah dari malam menjadi siang akan dijawab secara global sehingga dapat merangkum ketiga pertanyaan di atas. Kita ketahui sebagai mukmin yang bertaqwa dalam melaksanakan amal dan ibadah tentu ada tata caranya atau syariatnya. Dan inti taqwa adalah menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah dan RasulNya. 

Perlunya awal hari dari malam diganti dengan siang dapat dilihat tiga makna yang terkandung didalamnya yaitu perintah, anjuran dan larangan.

Pertama Perintah 
Perintah beribadah pada waktunya yang dicontohkan yaitu Shalat Tarawih dan Takbiran

1. Shalat Tarawih dilaksanakan setelah berpuasa
dari 'Abdullah - ia berkata: Aku pernah bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: "Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah?" Beliau menjawab: "Shalat pada waktunya." 'Abdullah bertanya lagi: "Kemudian apa lagi?" Beliau menjawab: "Kemudian berbakti kepada kedua orang tua." 'Abdullah bertanya lagi: "Kemudian apa lagi?" Beliau menjawab: "Jihad fi sabilillah." 'Abdullah berkata: "Beliau sampaikan semua itu, sekiranya aku minta tambah, niscaya beliau akan menambahkannya untukku." Shahih Bukhari 496

Dalam hadits ditegaskan bahwa amalan yang paling dicintai adalah shalat pada waktunya. Sementara menjadikan malam sebagai awal hari tanpa dalil yang tegas telah menggeser waktu shalat tarawih menjadi lebih cepat satu malam dari waktu yang seharusnya. Shalat Tarawih adalah shalat malam yang seyogyanya dilakukan setelah berpuasa ramadhan.

2. Takbir Idul Fitri dilakukan saat keluar rumah hingga shalat Ied di tanah lapang
Menjadikan malam sebagai awal hari tanpa dalil yang tegas telah menjadikan takbir dilakukan sebelum waktunya yaitu pada malam akhir Ramadhan. Bahkan takbir dilakukan dengan meniadakan shalat tarawih. Sementara Rasulullah dan para Sahabat telah memberikan contoh bahwa Takbir Idul Fitri dilakukan pada pagi hari saat keluar rumah hingga shalat Ied di tanah lapang. Dan contoh yang dilakukan nabi tentu perintah yang baik. Tentu tidaklah pantas bagi mukmin menyelisihi contoh yang telah dilakukan nabinya.

عن النبي صلى الله عليه وسلم قال دعوني ما تركتكم انما هلك من كان قبلكم بسوالهم واختلافهم على انبيايهم فاذا نهيتكم عن شيء فاجتنبوه واذا امرتكم بامر فاتوا منه ما استطعتم

dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Biarkanlah apa yang aku tinggalkan untuk kalian, hanyasanya orang-orang sebelum kalian binasa karena mereka gemar bertanya dan menyelisihi nabi mereka, jika aku melarang kalian dari sesuatu maka jauhilah, dan apabila aku perintahkan kalian dengan sesuatu maka kerjakanlah semampu kalian." Shahih Bukhari 6744

Kedua Anjuran : 
menjadikan Malam sebagai awal hari menyisakan pertanyaan yang cukup lama. Kapan dapat kalender Islam bersatu? dan kapan umat Islam dapat bersama hari dalam berpuasa dan berhari raya termasuk waktu arafah. Buku Masjidil haram menyatukan Kalender Islam menawarkan konsep menyatukan itu. Dimana salah satu faktor pendukungnya adalah menjadikan siang sebagai awal hari bukan malam seperti umumnya. 

Konsep Buku Masjidil haram menyatukan Kalender Islam insya Allah mampu mewujudkan satu hari satu tanggal one day one date untuk seluruh dunia. Siang sebagai awal hari dan Masjidil haram sebagai pusat bumi (MMT) menjadikan umat Islam di bagian paling timur dunia (Kiribati) bisa mengikuti puasa bersama. Demikian juga ketika Arafah, umat islam dibagian bumi paling barat (Alaska) dapat melaksanakan ibadah secara bersama-sama.

Konsep buku Masjidil haram menyatukan Kalender Islam adalah konsep yang dibangun berdasarkan Alquran dan hadits serta mengakomodir perbedaan pendapat yang berkembang. Insya Allah dapat menyatukan perbedaan baik yang menggunakan rukhyat dan hisab. 

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِن يُضِلُّ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ وَلَتُسْأَلُنَّ عَمَّا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan. (An-Nahl - Ayat 93)
Perlunya Awal Hari diganti dari malam menjadi siang untuk menyatukan umat

Surat An Nahl dapat menjadi pengingat kita bahwa ada anjuran agar umat menyatukan diri walaupun selalu tetap ada kelompok yang tersesat.

Ketiga Larangan atau peringatan
Menjadikan malam sebagai awal hari termasuk perbuatan tasyabuh atau menyerupai umat terdahulu. Dimana kita ketahui bersama bahwa malam adalah awal hari yang digunakan umat terdahulu. Maghrib telah digunakan Yahudi sebagai awal waktunya dan tengah malam oleh Nashrani. Baca perbandingan kalender dunia. 

Perbuatan menyerupai atau bertasyabuh umat terdahulu telah diwanti-wanti oleh Rasulullah. 

" عن ابن عمر قال

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم بعثت بين يدي الساعة بالسيف حتى يعبد الله وحده لا شريك له وجعل رزقي تحت ظل رمحي وجعل الذلة والصغار على من خالف امري ومن تشبه بقوم فهو منهم

dari Ibnu Umar ia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Aku diutus menjelang hari kiamat dengan pedang hingga hanya Allah yang diibadahi tanpa ada sekutu bagi-Nya, dan rizkiku ditempatkan di bawah bayang-bayang tombak. Kehinaan dan kerendahan dijadikan bagi orang yang menyelisihi perintahku. Barangsiapa menyerupai suatu kaum berarti ia termasuk golongan mereka." HR Ahmad 4868 dan 4869:

Hadits yang mengingatkan perbuatan menyerupai cukup banyak, baik dalam hal ibadah ataupun kebiasaaan sehari-hari. Untuk Ibadah seperti perintah bersahur dilakukan untuk menyelisihi puasa umat terdahulu, sedangkan kebiasaan sehari-hari seperti perintah warna cat uban, membersihkan halaman rumah dan sebagainya

Semoga jawaban ini dapat memberikan pengingat bagi kita dan pribadi penulis khususnya. Semoga Allah selalu memberikan rahmatNya kepada kita semua.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Perlunya Awal Hari diganti dari malam menjadi siang"

Posting Komentar