Saatnya Umat Islam menjadikan Jam 01.00 Dinihari sebagai waktu pergantian Hari

Anda yang telah membaca tulisan Mengenal Waktu Tahun Baru berbagai Kalender dunia tentu sudah memahami perbandingan awal waktu Kalender. Tiap kalender berbeda waktu sebagai awal permulaan waktu dan harinya.
 Saatnya Umat Islam menjadikan Jam 01.00 Dinihari sebagai waktu pergantian Hari

Dan Islam sendiri pemahaman yang beragam tentang awal waktu permulaan hari. Bahwa saat ini ada tiga pemahaman tentang awal waktu umat islam digunakan umat Islam sebagai awal waktu, yaitu :
  1. Magrib sebagai awal waktu atau pergantian waktu sama seperti Kalender Yahudi. Dengan menjadikan magrib sebagai awal waktu terlihat ketika bulan ramadhan, kita terlebih dahului melaksanakan sholat tarawih baru keesokan paginya kita berpuasa.
  2. Tengah Malam atau pukul 24:00 sebagai pergantian waktu seperti halnya kalender masehi. Hal ini mengingat umat islam secara umum juga menggunakan kalender syamsiah (matahari) yaitu yang dikenal kalender masehi dengan titik pusatnya di Greenwich (GMT). Dengan pemahaman ini, shalat isya dipahami berakhir sebelum pukul 24:00 atau pukul 00:00.
  3. Terbit Fajar atau subuh sebagai awal waktu. Dengan pemahaman ini maka yang dijadikan awal waktu adalah pergantian hari dari malam menjadi siang. Dan Shalat subuh dipahami sebagai shalat yang pertama dari lima shalat wajib.

Secara umum umat islam menjadikan magrib sebagai awal waktu berkaitan dengan ibadah dan dalam praktek kehidupan sehari –hari menggunakan tengah malam sebagai awal waktu. sedangkan yang menggunakan terbit fajar sebagai awal waktu berdasarkan negara hanya satu negara yaitu Libya.

Dalam tulisan Jadikan Magrib sebagai permulaan hari termasuk bertasyabbuh Yahudi telah dijelaskan perbuatan ini dilarang. Oleh karenanya menjadikan Magrib dan tengah malam sebagai awal waktu sudah saatnya untuk kita tinggalkan. Dan Tidaklah patut bagi umat Islam untuk mengikuti kebiasaan umat terdahulu. Walaupun berdasarkan logika ilmu pengetahuan yang berkembang saat ini, awal waktu yang dianggap tepat adalah magrib mengingat Islam menggunakan kalender komariah atau bulan. Permulaan datangnya malam dianggap sebagai awal sebuah hari.

Padahal Dalil-dalil Alquran dan hadits lebih mengarahkan kepada pemahaman subuh sebagai awal hari. Demikian juga jika dikaji lebih mendalam berdasarkan fakta ilmiah, bahwa subuh sebagai awal waktu atau pergantian hari yang lebih tepat dan benar daripada magrib. Lihat tulisan fakta-fakta subuh sebagai awal sebuah hari.

Namun tentunya mengubah pemahaman bahwa magrib sebagai awal waktu atau hari menjadi subuh tentu tidak mudah. Tentu berat bagi kita untuk mengganti pemahaman magrib sebagai awal hari menjadi subuh. Hal ini mengingatkan kita bagaimana beratnya pemindahan kiblat dari masjidil Aqsa ke Masjidil haram. 

وَلَئِنْ أَتَيْتَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ بِكُلِّ آيَةٍ مَّا تَبِعُوا قِبْلَتَكَ ۚ وَمَا أَنتَ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْ ۚ وَمَا بَعْضُهُم بِتَابِعٍ قِبْلَةَ بَعْضٍ ۚ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُم مِّن بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ إِنَّكَ إِذًا لَّمِنَ الظَّالِمِينَ

Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamupun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebahagian merekapun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu -- kalau begitu -- termasuk golongan orang-orang yang zalim. Al-Baqara - Ayat 145

Memang untuk menjadikan subuh sebagai awal sebuah hari tentu juga bukan perkara yang gampang. Hal ini juga menyebabkan sulitnya bersatu kalender umat Islam. Sama seperti juga yahudi terus dalam keraguan dalam menetapkan magrib sebagai awal waktu atau pergantian hari. 

Hal ini tidak lain karena waktu Magrib dan subuh terus berubah sama seperti waktu shalat wajib yaitu waktunya terus berubah sepanjang tahun. Hal ini tidak lain karena posisi bumi yang miring menyebabkan waktunya terus berubah sepanjang Tahun. (baca Fakta Kemiringan bumi telah tertulis dalam surat Al Kahfi). 

Oleh karenanya untuk menerapkan subuh sebagai awal waktu atau pergantian hari dibutuhkan beberapa penyesuaian dan pengaturan yang perlu disepakati. Harus ada waktu yang dipilih untuk disepakati dan mampu mengakomodir subuh sebagai awal waktu. Disamping itu waktu tersebut juga harus mampu menyatukan umat Islam didunia mulai dari bumi bagian timur (Kiribati) hingga bagian barat bumi (Alaska). 

Dalam Tulisan Saatnya mengubah waktu Islam menjadi Makkah Mean Time (MMT) telah dijelaskan bahwa perlunya Umat Islam mengubah Waktu berdasarkan Greenwich Mean Time (GMT) menjadi Makkah Mean Time (MMT). Untuk itu berdasarkan kajian penulis melalui Buku Masjidil Haram Menyatukan Kalender Islam ada lima pilihan waktu dalam Islam yang dapat diterapkan sebagai awal waktu pergantian hari yaitu :
  1. Mengikuti waktu dunia sesuai GMT
  2. MMT Sama dengan waktu GMT
  3. MMT Lebih cepat satu jam dari waktu dunia sesuai GMT
  4. MMT Lebih cepat dua jam dari waktu dunia sesuai GMT
  5. MMT Lebih cepat tiga jam dari waktu dunia sesuai GMT
Dari lima pilihan tersebut penulis lebih memberikan penekanan pada menjadikan Jam 01:00 dini hari sebagai awal waktu pergantian hari. Dengan demikian waktu Islam MMT Lebih cepat satu jam dari waktu dunia sesuai GMT . Untuk koordinat pusat bumi digeser 30⁰ kea rah Timur dan menjadi Makkah sebagai Koordinat 0⁰ dan waktunya dimajukan lebih cepat 1 jam dari GMT.

Pilihan awal waktu pergantian hari yang lebih cepat 1 jam dari waktu standard dunia akan menjadikan waktu Islam memiliki kelebihan yaitu :
  1. dapat menjadikan kalender Hijriah sebagai kalender satu hari satu tanggal diseluruh dunia mulai dari ujung timur di Kiribati hingga ujung barat di Alaska. 
  2. Awal waktu di Bagian Timur Bumi (Kiribati) bersamaan dengan waktu pertengahan hari (Ashar) di Mekkah (MMT) dan Pertengahan siang (dzuhur) di Greenwich (GMT).
  3. Waktu Subuh di Bagian Timur Bumi bersamaan dengan waktu Magrib di Mekkah sehingga Umat Islam dapat berpuasa secara serentak dalam satu hari. demikian juga kita akan dapat berhari raya Idulfitri dan Idul adha secara serentak dalam satu hari, termasuk ibadah arafah.
  4. Menjadikan rambu atau batas waktu berakhirnya shalat isya
Demikian sekilas kajian awal waktu dalam islam. Semoga menjadikan Jam 01.00 Dinihari sebagai awal waktu pergantian hari dapat salah satu modal menyatukan islam dan dengan sendirinya akan membersihkan ibadah-ibadah dari perbuatan tasyabbuh terhadap umat lain. Pada akhirnya Islam Insya Allah ini juga dapat sebagai jalan menuju kebangkitan umat. Aamiin Ya Rabbal Alamin


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to " Saatnya Umat Islam menjadikan Jam 01.00 Dinihari sebagai waktu pergantian Hari"

Posting Komentar