Memahami Kebenaran Sejati

Kebenaran seringkali dimaknai sebagai sesuatu yang biasa atau lazim kita lakukan. Sehingga dianggap sebuah kesalahan jika ada yang berkata, bersikap dan berbuat berbeda dengan apa yang biasa kita lakukan. Padahal suatu kebiasaan belum tentu berpijak pada kebenaran.

Hal ini mengingatkan kita kepada Nabi yang lurus (hanif), nabi Ibrahim. Nabi yang menggugat prilaku manusia yang menyembah berhala. pemuka negeri tidak dapat membedakan kebiasaan dengan kebenaran. Menjadikan berhala yang tidak mempunyai kuasa terhadap mereka sebagai sembahan. Hal ini terlihat dari perdebatan Nabi Ibrahim dengan Raja Namruz.

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ ۖ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

 Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS 2:258 )

Zaman boleh berubah, namun pemahaman seperti ini tetap saja masih terpelihara. Kebenaran tidak diletakkan pada kondisi yang sesungguhnya. Lebih pada faktor kebiasaan atau kelaziman. Sebagai contoh dapat kita lihat melalui gambar berikut :

Memahami Kebenaran Sejati


Bolehkah, benarkah jam yang seperti ini?

Banyak alasan untuk mempersalahkan jam ini. karena tidak seperti jam yang biasanya ada. Jika  umumnya jam, angka kecilnya  dimulai dari atas. sementara jam ini angka kecilnya dimulai dari bawah.

Namun jika dilihat secara mendalam tidak perbedaan antara keduanya. Hanya perbedaan posisi angka, selebihnya  sama-sama menunjukan waktu. hanya perbedaan posisi. Jam masih bergeser perdetik, satu menit masih enam puluh detik, satu jam masih enam puluh menit dan satu hari masih dua puluh empat jam.

Bahkan jika dikaji secara filosofis jam dengan awal angkanya di bawah justeru memberikan nilai yang lebih tepat bagi kehidupan kita. Lihat Filosofi jam dimulai dari bawah

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Memahami Kebenaran Sejati"

Posting Komentar