Meluruskan Pemahaman sya’ban (1) Keutamaan Bulannya

Bulan sya’ban adalah bulan kedelapan dalam kalender Hijriah. Bulan sya’ban berada diantara bulan Rajab (salah satu dari empat bulan haram) dan Ramadhan (satu bulan dengan penuh keberkahan dimana terdapat kewajiban berpuasa selama satu bulan penuh). Dengan posisinya yang berada diantara bulan yang diharamkan dan disucikan, tentunya otomatis menjadikan sya’ban tentu memiliki kelebihan dan keutamaan.Setiap bulan memiliki makna dan keutamaannya masing-masing. 
Meluruskan Pemahaman sya’ban (1) Keutamaan Bulannya

Terdapat beberapa hadits yang menyatakan keutamaan bulan Sya’ban diantaranya
  1. Rasulullah SAW mengatakan: "ALLAHUMMA BARIK LANA FI RAJABI WA SYA'BAN WA BARIK LANA FI RAMADLAN (ya Allah, berkahilah kami di rajab dan sya'ban dan berkahilah kami di ramadhan) " beliau bersabda: "Malam jum'at adalah mulia dan harinya terang benderang." (Musnad Ahmad 2228)
  2. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya tentang puasa yang paling utama setelah Ramadlan, Beliau menjawab: "Bulan Sya'ban untuk memuliakan Ramadlan." Beliau ditanya lagi: lalu Shadaqah apa yang paling utama? Beliau menjawab: "Shadaqah di bulan Ramadlan." (Sunan Tirmidzi 599)
  3. dari Ali bin Abu Thalib ia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Apabila malam nisfu Sya'ban (pertengahan bulan Sya'ban), maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya. Sesungguhnya Allah turun ke langit bumi pada saat itu ketika matahari terbenam, kemudian Dia berfirman: "Adakah orang yang meminta ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya? Adakah orang yang meminta rizki maka Aku akan memberinya rizki? Adakah orang yang mendapat cobaan maka Aku akan menyembuhkannya? Adakah yang begini, dan adakah yang begini…hingga terbit fajar. " (Sunan Ibnu Majah 1378) 
  4. Rajab bulan Allah, Sya’ban bulanku dan Ramadhan adalah bulan ummatku.
  5. “Keutamaan bulan Rajab atas bulan-bulan lainnya seperti keutamaan al-Qur-an atas semua perkataan, keutamaan bulan Sya’ban seperti keutamaanku atas para Nabi, dan keutamaan bulan Ramadhan seperti keutamaan Allah atas semua hamba.”
Namun sayang hadits-hadits tersebut dinilai termasuk hadits yang cacat. Hadits pada poin pertama dan kedua dinilai dinilai lemah (dha’if), dan hadits ketiga termasuk hadits yang dha’if atau maudhu’ , sedangkan hadits keempat dan kelima dinilai termasuk hadits palsu (maudhu’ (مَوْضُوْعٌ)). Berdasarkan para ahli hadits bahwa hadits dha’if masih dianjurkan untuk diamalkan sepanjang tidak parah kedha’ifannya dan tidak menyakini keotentikan hadits tersebut. Sementara untuk hadits maudhu lebih baik ditinggalkan.

Khusus untuk hadits ketiga tentang keutamaan bulan sya’ban yaitu di malam pertengahan bulannya memang terdapat beberapa hadits lainnya. Namun hadits ini sebagian besar juga termasuk hadits yang dhaif karena terdapat keraguan pada perawinya. Adapun hadits tersebut diantaranya
  1. dari 'Aisyah ia berkata: "Suatu malam aku kehilangan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, aku pun mencarinya, dan ternyata beliau berada di Baqi' menengadahkan kepalanya ke langit, beliau lalu bersabda: "Wahai 'Aisyah, apakah engkau takut Allah dan Rasul-Nya akan mengurangi (haknya) atasmu?" ia menjawab, "Aku telah mengatakan tidak, hanya saja aku khawatir engkau mendatangi salah seorang dari isterimu. " Maka beliau pun bersabda: "Sesungguhnya pada pertengahan malam Sya'ban Allah turun ke langit dunia lalu mengampuni orang-orang yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah bulu kambing. " (Sunan Ibnu Majah 1379). (Sunan Tirmidzi 670) Hadits ini dinilai Dha’if oleh Al Albani dan darussalam. Dan masih ada terdapat dalam Musnad Ahmad 24825 dengan redaksi ... sejumlah bulu rambut kambing atau anjing'." Yang didalamnya terdapat perawi Hajaj bin Arthah yang dinilai para ulama buruk hafalannya.
  2. dari Abu Musa Al Asy'ari dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah akan muncul di malam nishfu Sya'ban kemudian mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang meninggalkan jama'ah (murtad). “ (Sunan Ibnu Majah 1380) Hadits ini dinilai hasan oleh Al Albani namun Dha’if oleh darussalam
  3. dari Abdullah bin 'Amru, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Allah Ta'ala mengamati makhluk-Nya pada malam pertengahan bulan sya'ban, lalu Dia mengampuni dosa-dosa hamba-Nya kecuali dua saja: orang yang bermusuhan dan orang yang membunuh seseorang." (Musnad Ahmad 6353)
Oleh karenanya hadits-hadits keutamaan malam nisfu sya’ban masih dapat diamalkan untuk keutamaan.

Dan keutamaan bulan sya’ban masih dapat dilihat berdasarkan hadits-hadits yang lain yaitu sebagai berikut : 
  1. Sya’ban adalah pintu menuju Bulan Ramadhan. Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, atau katanya Abu Al Qasim shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda: "Berpuasalah kalian dengan melihatnya (hilal) dan berbukalah dengan melihatnya pula. Apabila kalian terhalang oleh awan maka sempurnakanlah jumlah bilangan hari bulan Sya'ban menjadi tiga puluh". (Shahih Bukhari 1776). Hadits sejenis juga terdapat dalam hadits dari Aisyah (Sunan Abu Daud 1980), dari Manshur dari Rib'i (Sunan Nasa'i 2099) dari Ibnu Abbas (Musnad Ahmad 3295) dari ibnu Umar (Musnad Ahmad 4258).
  2. Sya’ban adalah bulan terakhir mengganti puasa Ramadhan yang tertinggal. Hadits ini disebutkan dalam riwayat dari Aisyah berkata: "Saya tidak mengganti (puasa yang saya tinggalkan) pada bulan ramadhan melainkan pada bulan sya'ban hingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam wafat." (Musnad Ahmad 23850). hadits sejenis ini juga disebutkan dalam (Shahih Bukhari 1814), (Shahih Muslim 1933, 1934), (Sunan Tirmidzi 714), (Sunan Abu Daud 2047), (Sunan Nasa'i 2149), (Sunan Nasa'i 2280), (Sunan Ibnu Majah 1659), (Muwatha' Malik 600), (Musnad Ahmad 24289, 23850)
  3. Sya’ban merupakan bulan dimana Rasulullah paling banyak berpuasa setelah bulan ramadhan. Hal ini disebutkan dalam hadits dari Usamah bin Zaid bahwa dia berkata: Aku bertanya: "Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, aku tidak pernah melihat engkau berpuasa dalam satu bulan sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya'ban?" Beliau bersabda: "Itulah bulan yang manusia lalai darinya: -ia bulan yang berada- di antara bulan Rajab dan Ramadlan, yaitu bulan yang disana berisikan berbagai amal, perbuatan diangkat kepada Rabb semesta alam, aku senang amalku diangkat ketika aku sedang berpuasa." (Sunan Nasa'i 2317)
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bulan sya’ban memiliki keutamaan-keutamaan tersendiri. Dimana merupakan Sya’ban adalah pintu menuju Bulan Ramadhan. Puasa Ramadhan dimulai setelah ditutupnya bulan Sya’ban yang terlihatnya hilal. Oleh karenanya bulan sya’ban digunakan sebagaimana waktu untuk mengganti puasa Ramadhan terdahulu sebelum memasuki puasa Ramdahan lagi. Sya’ban juga merupakan bulan diangkatnya amal dan perbuatan, dan Rasulullah senang jika amalannya diangkat ketika saat berpuasa.

Sedangkan keutamaan malam nisfu sya’ban masih dapat diyakini karena ada perbedaan pendapat ulama dalam hal keshahihannya. Namun keutamaan malam ini tidak diikuti dengan adanya dalil yang khusus sebagai dasar amal ibadah pada malam Nisfu sya’ban (mengingatkan tulisan Mendamaikan Amalan Rajab (2) Beribadah karena Allah bukan karena Bulannya ). Oleh karenanya berpuasa, shalat dan amalan lainnya dilakukan mengikuti ibadah yang umum dikerjakan. Untuk ibadah shlat tentu dapat mengikuti shalat seperti shalat tahajud, shlat witir dan lainnya. Untuk puasa dapat dilakukan dengan mengikuti puasa senin kamis, puasa tiga hari sebulan, puasa tiga hari seminggu, puasa Daud. Dan Insya Allah lebih mendetail berpuasa di bulan sya’ban akan dilanjutkan dalam tulisan selanjutnya.

Demikian tulisan tentang keutamaan bulan sya’ban. Semoga bermanfaat dan berkah bagi kita semua. 

subhanaka allahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Meluruskan Pemahaman sya’ban (1) Keutamaan Bulannya"

Posting Komentar