Cara Menyatukan Ramadhan dan Lebaran (bag 1) Apa Pentingnya Bersama?

Jauh-jauh hari sebelum Ramadhan dan lebaran Tiba, ada yang telah menetapkan tanggal dan waktunya. Beberapa kalender dan organisasi atau kelompok dalam umat Islam telah menetapkan tanggal kapan mulai berpuasa Ramadhan dan kapan berlebaran. 

Disisi lainnya sebagian lagi umat Islam menunggu hari terakhir bulan untuk menentukan awal bulan. menunggu Akhir sya’ban untuk menentukan ramadhan, akhir Ramadhan untuk Lebaran syawal, akhir dzul qi’dah untuk puasa Arafah dan lebaran haji.
Cara Menyatukan Ramadhan dan Lebaran (bag 1) Pentingnya Kebersamaan

Dengan kondisi ini, maka akan terbuka peluang puasa dan lebaran dapat bersamaan dan berbeda waktunya. Kalau bersamaan kedua waktu ini tentu sangat menyenangkan, namun jika berbeda tentu akan membingungkan.

Bagaimana tidak membingungkan? Dalam daerah yangsama, ada yang sudah mulai berpuasa ada belum. Ada yang sudah berlebaran, ada yang masih berpuasa. Tetangga sudah takbiran dan ketupatan, sementara kita masih harus bersahur dan menahan diri.

Bagaimana tidak membingungkan? Karena berbeda mulai puasa ramadhannya, maka ada yang berpuasa pada waktu yang dilarang ( Hari syak hari dilarang berpuasa) atau ada yang ketinggalan berpuasa. 

Bagaimana tidak membingungkan? Ketika Berbeda waktu lebaran idul fitri maka ada yang berpuasa pada waktu haram berpuasa atau kelebihan puasanya sehingga ketinggal lebarannya. Dan ada juga yang ketinggalan berlebaran. 

Bagaimana tidak membingungkan? Ketika Berbeda waktu Arafah dan lebaran haji maka berarti ada yang berpuasa mendahului Arafah atau ada yang berpuasa pada hari haram berpuasa. Dan ada juga yang berlebaran haji pada saat waktu arafah atau hari Nahr (11, 12 dan 13 Dzulhijjah).

Memang cukup krusial perbedaannya dan wajar membuat bingung. Namun Alhamdulillah kita cukup bertoleransi dalam menyikapi perbedaan. Kita masih berpuasa dan tetangga sudah berlebaran sudah hal yang biasa. Kita sudah belajar banyak bertoleransi dalam perbedaan ini.

Kita saling menghormati perbedaan umat Islam dalam mengikuti hari yang diyakini : Ada yang mengikuti penetapan organisasi/kelompok A, B atau C dan lainya. Ada mengikuti penetapan pemerintah. Ada yang mengikuti penetapan arab Saudi. Semua tidak saling menghargai, sehingga bukan masalah yang berarti. 

Namun kita tidak dapat membohongi hati dan diri kita sendiri, karena akan muncul pertanyaan benarkah puasa saya lakukan ini? Ketika tetangga sudah berpuasa ramadhan, kita bertanya : apakah mereka berpuasa pada hari yang haram atau justeru kita yang ketinggalan berpuasa? Ketika tetangga sudah berlebaran, kita bertanya: apakah mereka kurang hari puasanya atau justeru kita yang berpuasa pada hari yang haram berpuasa? Karena dalam wilayah yang sama tentu berlaku waktu dan hari yang sama. 

Tulisan ini memang bertujuan membuat kita tambah bingung, karena ada yang menyatakan bahwa orang bingung tandanya mulai mau mengerti dan memberikan perhatian. Hehe, sepertinya guyon ya. Tapi memang itu faktanya, ada tiga kemungkinan orang yang tidak bingung dengan perbedaan hari halal haram berpuasa. Pertama, dia terlalu yakin benar dengan diri dan yang diikutinya sehingga tidak perduli dan tidak bingung. kedua, dia tidak tahu dan tidak mengerti, sehingga yang penting ikut yang enak saja. Ketiga, dia yang memang tidak berpuasa tapi ikut lebaran sehingga tidak masalah hari yang halal atau haram berpuasa. 

Anda termasuk kelompok yang mana ?

Orang yang mau belajar dan terus meningkatkan kualitas diri tinggal dua kelompok yaitu pertama adalah orang yang masih sedang bingung dan yang kedua adalah orang yang terlalu yakin dengan kebenarannya dan yang diikutinya. 

Orang yang pertama akan berusaha mencari dan memilih mana yang benar? Sedangkan yang kedua akan sibuk untuk mencari mempertahankan kebenaranya yang diyakininya. Sementara yang ketiga (ech gak ada ya), kita tambah saja kelompok yang ketiga yaitu orang yang tidak mengerti dan orang yang belum mau mengerti. Mudah-mudahan mereka mau belajar mengerti. karena belajar adalah tuntutan hidup dari mulai menangis hingga ditangisi. Dan sebuah hadits disebutkan ahli ilmu cahaya seperti terangnya rembulan purnama, ahli ibadah seperti terangnya bintang. 

Semoga tulisan berseri tentang Cara Menyatukan Ramadhan dan Lebaran ini dapat menjadi saran kita untuk mengerti dan belajar bersama. Dan Mudah-mudahan bisa menjadi rekomendasi untuk menyatukan hari Ramadhan dan Lebaran. Sehingga kita dapat beribadah dengan lebih khusyuk dan yakin tanpa rasa was-was.

Lihat tulisan :

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cara Menyatukan Ramadhan dan Lebaran (bag 1) Apa Pentingnya Bersama?"

Posting Komentar