Cara Menyatukan Ramadhan dan Lebaran (bag 4) Mana yang diikuti?

Pada bagian sebelumnya disimpulkan bahwa satu momen (1 ramadhan, syawal , dzulhijjah) hanya terjadi pada satu hari yang sama pada bumi, benua, negara, daerah/kota dan desa/kampung yang sama. Dan ketika terjadi perbedaan hari, masing-masing pihak yang menetapkan ikut bertanggungjawab atas terpecahnya umat dalam mengawali puasa dan lebaran. Membiarkan sebagian umat menjalani ibadah pada hari yang dilarang berpuasa. 
Cara Menyatukan Ramadhan dan Lebaran (bag 4) Mana yang diikuti?

Dan pada tulisan ini, akan membahas siapa yang diikuti? supaya kita tidak tersesat dan berpuasa pada hari tepat. Ketika terjadi perbedaan pendapat dikalangan pemimpin. maka Allah telah mengingatkan
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS.4:59)

Dan jika kita telaah kembali dalil-dalil sekitar perintah berpuasa, maka didapatkan prinsip-prisip sebagai berikut bahwa:

1. Kewajiban berpuasa bagi orang-orang yang beriman kecuali sakit dan musafir (2:183-184)

2. Berpuasa setelah menyaksikan bulan Ramadhan (QS.2:185)
a. Berpuasa setelah melihat langsung bulan (hilal) ramadhan dengan metode rukhyat
b. Berpuasa setelah memperhitungkan hadirnya ramadhan dengan metode Hisab

3. Pemimpin menyampaikan informasi tentang waktu berpuasa (hadits)

Sebagai Umat Islam tentu tidak semua dapat melakukan rukhyat dan hisab. Maka perintah berpuasa dan berlebaran tentu didapat melalui informasi yang disampaikan oleh pemimpin. Dan makna pemimpin itu sendiri ditafsirkan beragam dalam hal penentuan ramadhan. Ada yang menganggap pemimpin adalah pemerintah (menag), pemimpin organisasi umat ataupun imam masjid. 

4. Ketika Makna pemimpin beragam dan terjadi perbedaan hari berpuasa, maka terdapat prinsip selanjutnya yaitu berpuasa dengan mempertimbangkan hari dimana kebanyakan/mayoritas (umum) umat berpuasa, berlebaran dan berkurban. 

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ
Nabi SAW Bersabda "Berpuasa itu pada hari kalian berpuasa dan berbuka itu pada hari dimana kalian semua berbuka, demikian juga dengan Iedul Adlha, yaitu pada hari kalian semuanya berkurban." (Sunan Tirmidzi 633)
Hadits ini seharusnya dapat menjadi pertimbangan bagi para pemimpin dalam menetapkan bulan ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha. Namun jika para pemimpin belum dapat menyatukan pendapat mengawali Ramadhan dan Lebaran. Maka kewajiban kita sebagai pengikut untuk mengikuti hari dimana mayoritas umat Islam berpuasa, beridul fitri, beridul adha. 

Tingkatan keutamaan mengikuti keumuman/ mayoritas umat islam berpuasa dan berlebaran sesuai lingkupnya yaitu :
  1. Mengikuti hari mayoritas umat Islam berpuasa dan lebaran dalam lingkup dunia.
  2. Mengikuti hari mayoritas umat Islam berpuasa dan lebaran dalam lingkup benua
  3. Mengikuti hari mayoritas umat Islam berpuasa dan lebaran dalam lingkup negara
  4. Mengikuti hari mayoritas umat Islam berpuasa dan lebaran dalam lingkup Daerah/Kota.
  5. Mengikuti hari mayoritas umat Islam berpuasa dan lebaran dalam lingkup desa atau kampung.
Untuk lebih fokus, maka pembahasan ditujukan langsung pada tingkatan yang paling utama yaitu keumuman umat muslim berpuasa, berlebaran dalam lingkup dunia. Hal ini karena mengikuti hari mayoritas umat pada tingkat benua, hanya ada di benua Amerika, Eropa. Dan Mengikuti hari mayoritas umat dalam lingkup negara kota/daerah dan desa/lingkungan, tentunya kita masing-masing lebih mengetahui. 

Disamping itu alasan memfokuskan pada pembahasan lingkup dunia adalah akan membuka peluang Umat Islam bersatu secara dunia. Umat muslim diseluruh dunia akan dapat berpuasa, berlebaran pada hari yang sama. Dan ketika tujuan yang paling utama ini tercapai, maka dengan sendirinya kebersamaan berpuasa, berlebaran pada tingkat desa, kota ataupun negara akan terwujud.

Saat ini umat Islam dunia masih terpecah dalam mengikuti pendapat yang berbeda-beda. Dalam tulisan sebelumnya dicontohkan bahwa di tahun 2016 terdapat tiga hari yang berbeda untuk tanggal 1 syawal. Dan jika umat Islam di berbagai negara memutuskan untuk memilih hari dimana mayoritas umat Islam dunia berpuasa, maka dengan sendirinya umat islam akan bersatu.

Kapan itu bisa terjadi? Jawabannya tentu tergantung pada kita masing-masing. 

Kapan kita mulai mau mengikuti hari dimana mayoritas umat muslim dunia berpuasa dan berlebaran. Semakin cepat kita menyadari tentu akan semakin cepat terwujud. akan lebih cepat lagi jika imam-imam, nazir-nazir masjid yang langsung menyatakan mengikuti hari mayoritas umat Islam dunia berpuasa. Dan akan lebih cepat lagi jika pimpinan organisasi keumatan menyatakan mengikuti hari mayoritas umat Islam dunia berpuasa. Dan akan lebih cepat lagi jika Menag bersama MUI dan organisasi umat lainnya bersatu menyatakan bahwa Umat islam Indonesia mengikuti hari mayoritas umat Islam dunia berpuasa dan berlebaran.

Dalam tulisan sebelumnya juga sudah diperlihat data hari mayoritas umat Islam dunia berpuasa ramadhan. Dan untuk melengkapinya berikut data Ramadhan, syawal dan dzulhijjah Tahun 2016 negara-negara di dunia:

data Ramadhan, syawal dan dzulhijjah Tahun 2016 negara-negara di dunia


Berdasarkan data diatas terlihat bahwa mayoritas negara-negara umat muslim dunia berpuasa Ramadhan dan berhari raya Idul Fitri dan Idul Adha mengikuti hasil ruhkyat Mekkah dan ditetapkan oleh Dewan Hakim Tinggi Arab Saudi. Dimana Tahun 1437 H 41% Negara mengikuti hasil rukhyat Mekkah untuk bulan ramadhan, 36% mengikuti rukhyat Syawal dan 31% mengikuti rukhyat dzulhijjah. 

Fakta ini sejalan dengan kajian buku “Palingkan Wajahmu ke Arah Masjidil Haram untuk Menyatukan Kalender Islam Dunia”. Bahwa menjadi mekkah sebagai titik tengah bumi dapat menyatukan Kalender Islam Dunia. Penyatuan kalender dapat dilakukan baik menggunakan metode hisab, rukhyat ataupun gabungan keduanya.

Oleh karenanya dapat diambil kesimpulan bahwa bentuk keimanan kita terhadap dalil-dalil berpuasa dan berlebaran secara lengkap dan komprehensif, maka kita akan mengikuti Hari mayoritas umat islam dunia berpuasa dan berlebaran. Yaitu hari yang ditetapkan Dewan hakim Tinggi Arab Saudi sesuai hasil rukhyat kota Mekkah. Dan Zaman sudah berubah, tentunya dengan teknologi informasi maka pengumuman hasil rukhyat Mekkah dapat cepat sampai ke tangan kita sebagai panduan puasa esok harinya. 

Dan memang masih ada hal teknis yang lain yang perlu diselaraskan dan perlu pembahasan lebih lanjut. Niat dan semangat untuk bersatu Insya Allah akan terbuka jalan yang lurus. Namun jika kita tidak mampu membuka pintu musyawarah untuk bersatu, maka akan terbentang 72 jalan lainnya.

Demikian tulisan mana yang diikuti untuk menyatukan hari berpuasa Ramadhan dan hari Lebaran Idul Fitri dan Idul Adha. Semoga dapat bermanfaat berkah untuk kemaslahatan umat.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cara Menyatukan Ramadhan dan Lebaran (bag 4) Mana yang diikuti?"

Posting Komentar