Meluruskan Pemahaman sya’ban (2) Kedudukan Puasanya antara wajib dan Sunnah

Dalam tulisan bagian pertama telah disampaikan keutamaan Bulan sya’ban. Bulan yang manusia lalai darinya. Bulan yang disana berisikan berbagai amal, perbuatan diangkat kepada Rabb semesta alam. Dan Rasulullah SAW senang amalnya diangkat ketika sedang berpuasa. Pantaslah jika pada bulan sya’ban disebutkan paling banyak berpuasa selain bulan Ramadhan.

Terdapat enam keluarga/sahabat yang meriwayatkan hadits bahwa Rasulullah SAW paling banyak berpuasa di bulan sya’ban. Mereka diantara Aisyah, Ummu Salamah, Anas bin Malik, Abu Salamah, Abu Hurairah, dan Usamah bin Zaid. Disebutkan nabi paling banyak berpuasa sampai dikatakan berpuasa sebulan penuh. Dan salah satu hadits Aisyah adalah sebagai berikut :

موطأ مالك ٦٠١: حَدَّثَنِي يَحْيَى عَنْ مَالِك عَنْ أَبِي النَّضْرِ مَوْلَى عُمَرَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا قَالَتْ

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ
 
telah menceritakan kepadaku Yahya dari Malik dari Abu Nadlr mantan budak 'Umar bin 'Ubaidullah, dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Aisyah isteri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, ia berkata:"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berpuasa terus menerus hingga kami berkata: beliau tidak pernah berbuka. Beliau juga pernah berbuka terus menerus hingga kami berkata: bahwa beliau tidak pernah berpuasa. Aku tidak melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melengkapi puasanya satu bulan penuh kecuali bulan Ramadlan. Dan aku tidak melihatnya banyak berpuasa dalam satu bulan kecuali pada bulan Sya'ban." (Muwatha' Malik 601)

Dari uraian di atas terlihat Nabi SAW memberikan perhatian khusus untuk berpuasa dalam bulan sya’ban. Namun sayang dalam perjalanannya Puasa sya’ban kalah tenar dengan puasa sunnah lainnya sebut saja puasa di bulan muharram, puasa di bulan rajab. Hal ini dapat kita lihat dari lintas kiriman para sahabat di media sosial terbilang agak sepi. Bandingkan dengan ajakan berpuasa pada bulan sebelumnya. yaitu ajakan berpuasa pada bulan rajab, cukup ramai di facebook, twitter, WA, mungkin ada jg di ayobai. Bahkan tidak jarang digrup-grup terjadi perdebatan karena banyak hadits palsu (Maudhu’) dan Dha’if yang ikut menghiasinya. Namun hal ini tidak terjadi pada bulan sya’ban.

Padahal jika dibandingkan dengan puasa sunnah lainnya, puasa di bulan sya’ban cukup unik. Dikatakan sunnah namun jika ditinggalkan, kita diperintahkan Nabi SAW untuk menggantinya setelah puasa Ramadhan. Mungkin umumnya kita beranggapan bahwa puasa yang jika ditinggalkan wajib diganti hanyalah puasa wajib di bulan Ramadhan. Ternyata puasa sunnah di bulan sya’ban juga diperintahkan untuk diganti jika ditinggalkan.

Terdapat empat model Berpuasa di bulan sya’ban dan perintahnya dari hadits-hadits yang disampaikan dari riwayat Imran bin Hushain yaitu :
  1. Rasulullah SAW memerintahkan kepada orang yang tidak berpuasa pada bulan sya’ban agar berpuasa satu atau dua hari pada bulan sya’ban (Sunan Abu Daud 1983)
  2. Rasulullah SAW memerintahkan kepada orang yang tidak berpuasa pada awal bulan sya’ban agar berpuasa satu atau dua hari pada bulan sya’ban (Musnad Ahmad 19128, 19137)
  3. Rasulullah SAW memerintahkan kepada orang yang tidak berpuasa pada pertengahan bulan sya’ban agar berpuasa satu atau dua hari setelah selesai puasa Ramadhan (pengganti puasa) (Musnad Ahmad 18997)
  4. Rasulullah SAW memerintahkan kepada orang yang tidak berpuasa pada akhir bulan sya’ban agar berpuasa satu atau dua hari setelah selesai puasa Ramadhan (pengganti puasa) (Shahih Bukhari 1847), (Shahih Muslim 1975, 1979, 1980, 1981)
Hadits selengkapnya dapat dilihat dalam tulisan hadits 3 dan 1 waktunya berpuasa 

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa puasa di bulan sya’ban memiliki keutamaan yang berbeda dengan puasa sunnah lainnya, namun kebanyakan kita melalaikannya. Puasa sya’ban juga hampir menyamai puasa wajib Ramadhan, karena sama-sama diperintahkan untuk menggantinya jika ditinggalkan. 
Meluruskan Pemahaman sya’ban (2) Kedudukan Puasanya antara wajib dan Sunnah

Oleh karenanya puasa sya’ban kedudukannya sebagai puasa yang berada diantara wajib dan sunnah. Kedudukan puasa sya’ban ini mirip seperti kedudukan hadits qudsi .

Semoga tulisan ini dapat menjadi berah dan bermanfaat bagi kita.

subhanaka allahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Meluruskan Pemahaman sya’ban (2) Kedudukan Puasanya antara wajib dan Sunnah"

Posting Komentar