Ramadhan Syawal Bareng (2) Apakah (tidak) Perlu Sidang Itsbat ?

Pengumuman yang dilakukan oleh pemerintah melalui Menag menjelang Ramadhan dan syawal, tentu sangat ditunggu-tunggu Umat islam Indonesia. Dari kota hingga pelosok negeri di desa-desa tentu nongkrongin TV untuk menunggu berita. Berita dan informasi besok sudah mulai puasa atau berlebaran. Jika belum dapat, tentu info terakhirnya disampaikan oleh kenaziran masjid masing-masing. Inilah potret Indonesia menjelang Ramadhan dan Syawal.

Dengan perkembangan Informasi dan teknologi, mungkin banyak yang mendapat beritanya gadget atau HP. Namun cepatnya informasi, tetap saja harus menunggu selesai sidang Itsbat di jakarta. Karena pengumuman adalah hasil sidang Itsbat yang dilakukan setelah ba’da Magrib. Sehingga bagi kita yang wilayah barat tentu tidak menjadi masalah, namun menjadi ujian kesabaran bagi saudara kita yang di Indonesia Tengah dan Timur ( Lihat tulisan bagian pertama)

Berdasarkan data situs kemenag bahwa Sidang Itsbat Ramadhan 1438 H akan dilaksanakan pada Jum’at 26 Mei 2017. Sidang Itsbat akan mengundang seluruh ormas Islam, ketua MUI, 22 negara sahabat dan sejumlah tokoh Islam. Sidang ini akan merangkum seluruh 77 titik pemantauan hilal yang tersebar di 33 Propinsi di seluruh Nusantara.
Ramadhan Syawal Bareng (2) Apakah (tidak) Perlu Sidang Itsbat ?

Jika pertanyaannya : Apakah (tidak) Perlu Sidang Itsbat ? 

Sidang itsbat jelas diperlukan untuk merangkum pemantauan hilal dari ujung sumatera hingga papua. Pilihan ini adalah konsekuensi dari memilih Metode rukhyat. Hal ini akan memberikan kepastian hari dimulainya berpuasa dan berlebaran. Pilihan ini juga bertujuan agar umat muslim Indonesia dapat berpuasa dan berlebaran secara serentak dan bersama-sama.

Pertanyaan selanjutnya : Haruskah sidang itsbat dilakukan setiap Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah?

Dengan posisi sidang Itsbat sebagai bagian dari kegiatan pemerintah. Dalam hal ini dilakukan oleh kementrian agama sebagai penengah berbagai kepentingan dan metode yang ada dan berkembang di Indonesia, maka jawabannya bahwa sidang itsbat tidak harus setiap tahun dan setiap Ramadhan, syawal dan dzulhijjah dilakukan. 

Hal ini dapat dilihat melalui beberapa pertimbangan berikut :

Bahwa metode rukhyatul lokal, bukanlah satu-satunya metode untuk menentukan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah. setidaknya terdapat empat metode lainnya yang dapat digunakan oleh pemerintah. Pemerintah dapat melakukan rotasi pada metode yang sama-sama diyakini kebenarannya. adapun keempat  tersebut diantaranya :
  1. Metode Ikmanu rukhyat yang digunakan Persis, NU, LAPAN, Mabims
  2. Metode hisab Wujudul Hilal yang digunakan oleh Muhammadiyah
  3. Metode Rukhyatul hilal Mekkah 
  4. Metode kalender Islam Dunia atau Hijriah Global
Keempat metode ini lebih ringan, mudah dan murah dari sidang itsbat yang biasanya. Bahkan pemerintah dapat cukup dengan mengumumkannya. Hal ini karena data dan hasil dari masing-masing metode tersebut telah tersedia. Dan pemerintah cukup mengumumkan salah satu yang dijadikan sebagai pilihan. Dan jikapun diperlukan sidang cukup sidang terbatas, sehingga lebih meringankan.

Dengan melakukan giliran atau rotasi pada metode yang digunakan menentukan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah akan membawa keuntungan sebagai berikut :
  1. Dapat menyatukan Ramadhan Syawal danDzulhijjah pada tingkat Indonesia. dengan ini Indonesia akan dapat berperan sebagai suporter atau promotor penyatuan Ramadhan Syawal danDzulhijjah tingkat dunia.
  2. Dapat mendorong dan meningkatkan semangat jiwa toleransi umat dalam menyingkapi perbedaan pilihan. Menguatkan semangat berpancasila dengan Bhineka Tunggal Ika.
  3. Pemerintah akan dapat menegaskan posisinya tegak ditengah-tengah pilihan umat dan ormas Islam yang ada di Indonesia.
  4. Akan meningkatkan loyalitas ormas Islam dan umat kepada pemerintah. Karena Pemerintah dianggap dapat mengayomi perbedaan pilihan dan metode yang digunakan. Dan otomatis akan terjalin hubungan pembinaan pemerintah melalui kemenag kepada ormas islam. Dan meningkatkan hubungan saling kerjasama dalam berbagai bidang khususnya kajian dalam ilmu falak.
  5. Menghemat anggaran. Dimana sidang Itsbat dan pelaksanaan rukhyat di 77 titik 34 propinsi tentu memerlukan biaya, energi dan pikiran. Maka biaya yang digunakan untuk ini dapat digunakan untuk kepebutuhan lain. Terlebih saat ini Pemerintah lagi giat-giat membangun.
Semoga tuilisan ini dapat mengingatkan kita bahwa ada pilihan-pilihan yang sama-sama benar. Dan Insya Allah dengan melakukan rotasi atau menggilir metode akan menumbuhkan metode yang terbaik yang lebih bermanfaat bagi persatuan dan kemaslahatan umat.

Tulisan terkait :
  1. Ramadhan Syawal Bareng (1) Kesabaran Mukmin Di Indonesia tengah dan Timur
  2. Ramadhan Syawal Bareng (2) Apakah (tidak) Perlu Sidang Itsbat ?
  3. Ramadhan Syawal Bareng (3) Pakai Hisab Muhammadiyah
  4. Ramadhan Syawal Bareng (4) Bersama namun Tidak Berjamaah
  5. Cara Menyatukan Ramadhan dan Lebaran (bag 2) Mana yang benar?

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ramadhan Syawal Bareng (2) Apakah (tidak) Perlu Sidang Itsbat ?"

Posting Komentar