Ramadhan Syawal Bareng (4) Bersama namun Tidak Berjamaah

Salah satu dari tiga prinsip penetapan awal berpuasa dan berlebaran adalah mengikuti mayoritas selain prinsip rukhyat hilal dan prisip hisab. (lihat tulisan cara menyatukan ramadhan dan lebaran bagian ke-4). Dan untuk menjalan prinsip terdapat 5 tingkatan keutamaan kebersamaan yang dapat dikuti yaitu Kebersamaan hari di tingkat dunia, benua, negara, kota dan desa. Dan yang paling utama adalah mengikuti hari dimana mayoritas umat islam dunia berpuasa dan berlebaran.

Oleh karena itu selain prinsip ketepatan hari sesuai pengamatan (rukhyat) dan perhitungan, prinsip mengikuti mayoritas adalah prinsip menyatakan anjuran yang kuat untuk berpuasa dan berlebaran secara bersama. Prinsip ini mengingatkan bagaimana berjamaah tidak mesti hanya dalam shalat. Berjama’ah juga perlu dilakukan dalam berpuasa dan berlebaran.

Hal ini mengingat jama’ah yang disebutkan dalam hadits bahwa Umat Islam akan terpecah 73 golongan. Dan 72 golongan masuk neraka dan hanya satu kelompok yang selamat yaitu jama’ah. 

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَهْلَ الْكِتَابَيْنِ افْتَرَقُوا فِي دِينِهِمْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْأُمَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً يَعْنِي الْأَهْوَاءَ كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً وَهِيَ الْجَمَاعَةُ وَإِنَّهُ سَيَخْرُجُ فِي أُمَّتِي أَقْوَامٌ تَجَارَى بِهِمْ تِلْكَ الْأَهْوَاءُ كَمَا يَتَجَارَى الْكَلْبُ بِصَاحِبِهِ لَا يَبْقَى مِنْهُ عِرْقٌ وَلَا مَفْصِلٌ إِلَّا دَخَلَهُ وَاللَّهِ يَا مَعْشَرَ الْعَرَبِ لَئِنْ لَمْ تَقُومُوا بِمَا جَاءَ بِهِ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَغَيْرُكُمْ مِنْ النَّاسِ أَحْرَى أَنْ لَا يَقُومَ بِهِ
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Dua ahli kitab sebelum kalian telah terpecah dalam agama mereka menjadi tujuh puluh dua kelompok. Dan umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya adalah ahli ahwa' (pengikut hawa nafsu), semuanya akan masuk neraka kecuali satu, yaitu jama'ah. Sesungguhnya akan muncul dari kalangan umatku beberapa kaum, mereka akan terjerembab pada kesenangan-kesenangan itu sebagaimana anjing begitu menurut kepada pemiliknya, tidak tersisa sedikitpun urat maupun tulang kecuali dia memasukinya. Demi Allah, Wahai orang-orang Arab, jika kalian tidak melaksanakan apa yang dibawa oleh Nabi kalian shallallahu 'alaihi wa sallam maka orang selain kalian lebih liar untuk tidak melaksanakannya." (Musnad Ahmad 16329). 

Jama’ah sebagai satu kelompok umat Nabi Muhammad yang selamat disebutkan dalam banyak hadits seperti Sunan Abu Daud 3981 Sunan Ibnu Majah 3982 dan bahkan dalam Musnad Ahmad 12022 Nabi SAW menekankan kata Jama’ah hingga dua kali.

Dari hadits di atas jelas bahwa jama’ah adalah kelompok yang selamat. Tidak disebutkan berjama’ah seperti apa, namun hadits diatas menyiratkan bahwa berjama’ah yang dimaksud adalah jama’ah dalam melaksanakan apa yang dibawa Rasulullah SAW. Termasuk didalamnya ini berjama’ah ketika mengawali berpuasa, berlebaran dan berkurban.

Dalam buku “Palingkan Wajahmu ke Arah Masjidil Haram untuk Menyatukan Kalender Islam Dunia” disebutkan bahwa Metode apapun yang dipilih dapat mempersatukan umat. Metode Rukhyat dan hisab sama-sama dapat diaplikasikan mempersatukan kalender Islam secara global. Rukhyat dan hisab sama dapat membangun kalender One Day One Date di seluruh dunia. Dan otomatis dapat mempersatukan puasa Ramdahan, lebaran Idul Fitri dan berkurban di Idul Adha.

Pilihannya tinggal pada Umat Islam mau memilih Rukhyat atau hisab atau gabungan keduanya. Ketika umat telah bersepakat memilih metode yang paling sesuai, maka dengan sendirinya umat islam akan secara bersama dan berjamaah dalam berpuasa, berlebaran dan berkurban.

Tidak seperti kondisi hingga saat ini. Hari berpuasa, berlebaran dan berkurban boleh jadi sama, namun itu didapat dengan metode yang berbeda. Dengan metode yang berbeda, maka akan terbuka peluang juga untuk berbeda hari di waktu akan datang.
Ramadhan Syawal Bareng (4) Bersama namun Tidak Berjamaah

Jika hal ini diteruskan tentu mirip seperti orang bersama dalam satu waktu sama dalam satu masjid namun tidak sama dalam satu jama’ah shalat. Semoga Ramadhan syawal bareng dapat kita wujudkan bersama. Dan bersama bukan hanya di level nasional namun juga kebersamaan umat Islam di seluruh dunia.
Subhanaka Allahumma Wa Bihamdika Asyhadu Alla Ilaaha Illa Anta Astaghfiruka Wa Atubu Ilaik

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ramadhan Syawal Bareng (4) Bersama namun Tidak Berjamaah"

Posting Komentar