Perjanjian Hudaibiyah : Mengalah untuk kemenangan Besar

Perjanjian Hudaibiyah merupakan sejarah besar sebagai pintu kemenangan umat islam dalam mengembalikan Mekkah dari orang-orang musyrik Quraisy. Disebut perjanjian hudaibiyah karena perjanjian yang disepakati di sebuah wilayah yang bernama Hudaibiyah sekitar 22 Km dari Kota Mekkah pada tahun 6 H. 

Sebelum terjadi perjanjian ini Nabi Muhammad SAW berkeinginan untuk melaksanakan ibadah umroh ke Masjidil Haram di Mekkah. Dimana perkembangan terakhir telah menguntungkan umat Islam, dan kaum musyrik quraisy pengguasa Mekkah sudah semakin terdesak. Oleh karenanya keinginan umroh Rasulullah SAW disambut baik sehingga sekitar 1400 orang disebutkan dalam Shahih Muslim 3372 mengikuti perjalanan ibadah ini. 
Perjanjian Hidaibiyah : Mengalah untuk kemenangan Besar

Berbagai persiapan dilakukan untuk umroh ke Mekkah. Tentu bukan bukan perkara mudah mempersiapkan diri untuk perjalanan hampir 500 Km. Jalur yang sulit berat dilalui guna menghindari bentrokan karena niat memang untuk ibadah. Dan karena kepergian Rasulullah SAW telah ketahui, maka orang-orang quraisy juga berupaya untuk menghalangi umat Islam masuk ke Masjidil Haram. Dengan mengirimkan pemuda quraisy untuk menyusup ke dalam barisan umat Islam. Namun hal ini digagalkan umat islam dan pada momen ini pula turun wahyu surat kemenangan yaitu surat Al Fath ayat 24.

Setelah perjalanan panjang dan telah dekat kota Mekah sekitar 22 Km kearah Barat tepatnya di hudaibiyah, Rasulullah menerima perjanjian yang ditawarkan oleh orang quraisy. Perjanjian yang didalamnya tidak diperbolehkan disebutkan bismillahir rahmaanir rahim. Demikian juga Nabi Muhammad ditulis tidak sebagai Rasulullah (utusan Allah), namun ditulis atas nama Muhammad bin Abdullah.

Dan Isi perjanjian pada salah satu poinnya adalah umat Islam harus mau mau kembali lagi ke Madinah. Umroh baru ke masjidil Haram baru dapat dilakukan tahun berikutnya. Padahal saat itu Kaum quraisy Mekkah sendiri sudah terdesak. Tidak heran jika para sahabat sempat protes karena umat Islam harus mengalah. Salah satunya Umar bin Al Khaththab yang dikenal dengan sikapnya yang tegas mempertanyakan keputusan menerima perjanjian. 
Umar datang dan berkata: 'Bukankah kita berada dalam kebenaran sedangkan mereka dalam kebatilan, bukankah orang-orang yang terbunuh dari kami berada di Surga, sedangkan orang-orang yang terbunuh dari mereka berada di Neraka? Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: 'Ya.' Umar berkata: kalau begitu kenapa kita merendahkan agama kita dan kembali, padahal Allah belum memutuskan untuk kita. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Wahai Ibnu Khaththab: Sesungguhnya aku Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, sekali-kali Allah tidak akan menyia-nyiakanku. Maka Umar pun kembali dalam keadaan tidak puas dan tidak sabar, lalu ia menemui Abu Bakr seraya berkata: Wahai Abu Bakr, bukankah kita berada dalam kebenaran dan mereka dalam kebatilan, Abu Bakr menjawab: Wahai Ibnu Khatthab, sesunggunya ia adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Allah pasti tidak akan menyia-nyiakannya untuk selama-lamanya, maka turunlah surat Al Fath. (Shahih Bukhari 4466)

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, (QS.48:1)

Ternyata ada hikmah dibalik perjanjian tersebut. Allah telah menyebutkan perjanjian tersebut dengan kemenangan. Allah telah menurunkan ayat kemenangan, padahal ketika itu kesepakatan antara kaum muslimin dengan kaum musyrik quraisy masih sebatas perjanjian. dan perjanjian itu sendiri dinilai secara zahir merugikan umat Islam. Namun belakangan baru disadari banyak hikmahnya. Setelah perjanjian ini, kaum quraisy tidak lagi memusuhi umat islam dan mengambil jalan perdamaian. Dan Umat Islam telah bebas melaksanakan ibadah ke Masjidil haram, karena pelarangan hanya untuk satu tahun saja. 

Oleh karenanya Perjanjian Hudaibiyyah menjadi pintu kemenangan bagi umat Islam. Mekkah telah menyerahkan dirinya terhadap pintu dakwah Nabi Muhammad SAW dengan damai. Dalam sirah Nabawi karya syaikh shafiyyurahman disebutkan setahun kemudian, pada awal tahun 7 H beberapa tokoh quraisy telah masuk islam seperti Amr bin Al-Ash, Khalid bin Walid dan Utsman bin Talhah. Tokoh-tokoh besar ini pula yang kemudian juga ikut membesarkan kejayaan Islam.

Kaum Musyrikin quraisy melanggar perjanjian yang mereka tawarkan. Maka ditegakkanlah hukum ketika perjanjian tidak lagi dihormati.  Dan pada bulan Ramadhan tahun yang sama 7 H, Mekkah kembali kepangkuan kaum muslimin.

Inilah hikmah mengalah disaat kemenangan ada didepan mata demi untuk meraih kemenangan yang lebih agung. Menang dengan kedamaian, menegaskan Islam Rahmatan Lil Alamin.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Perjanjian Hudaibiyah : Mengalah untuk kemenangan Besar"

Posting Komentar