Raih Kemenangan melalui Perjanjian Hudaibiyah dan Pelarangan Takbir Keliling

Anda yang sudah membaca tulisan sebelumnya, tentu mengetahu bahwa Perjanjian Hudaibiyah mempunyai peranan sentral sebagai pintu kemenangan umat islam dalam penaklukan mekkah. Perjanjian ini dibuat di daerah hudaibiyah sekitar 22 Km dari Kota Mekkah. Perjanjian yang damai atau gencatan senjata dengan kaum Musyrik Quraisy ini, salah satu poin melarang umat Islam memasuki Mekkah. Dan baru boleh beribadah pada tahun depan, padahal Rasulullah SAW dan umat Islam telah menempuh perjalanan lebih 400 km dari madinah untuk Umroh. Sementara itu kondisi orang-orang quraisy sendiri sedang terdesak.

Sekilas perjanjian ini memperlihat umat Islam kalah dalam perjanjian, namun ternyata dikemudian hari perjanjian ini menjadi pintu kemenangan bagi umat Islam. Mekkah kembali kepangkuan Kaum Muslimin setelah setahun kemudian tepatnya di Bulan Ramadhan. Lihat Tulisan Perjanjian Hidaibiyah : Mengalah untuk kemenangan Besar.

Hal ini pula yang seyogyanya yang dilakukan umat Islam di Indonesia terkait pelarangan takbiran keliling. Pemerintah DKI beserta kepolisian telah melarang kegiatan takbir keliling dengan pertimbangan pencegahan kemacetan dan kecelakaan lalu lintas. Bahkan pelarangan ini juga diikuti oleh beberapa daerah.

Bagi Umat Islam tentu berat hati menghentikan kegiatan yang sudah membudaya di tanah air. Seperti hal tahun lalu, umat Islam di Jakarta masih protes dengan kebijakan tersebut. Protes dalam bentuk tetap melaksanakan takbir keliling Jakarta. Terkait hal ini, kita sebagai umat islam harus bijak menyikapinya. Semangat perjanjian hudaibiyah dapat menjadi contoh. Pelarangan ini kita jadikan momen untuk intropeksi diri. 
Raih Kemenangan melalui Perjanjian Hudaibiyah dan Pelarangan Takbir Keliling

Disebut sebagai intropeksi diri, jika umat Islam dilarang dengan alasan kemacetan dan kecelakaan. Maka umat islam harus mampu menggali kembali petunjuk-petunjuk alquran dan hadits terkait pelaksanaan takbiran baik takbir keliling secara konvoi perorangan, parade, perlombaan maupun takbir di masjid-masjid.

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS.2:185)

Ayat di atas termasuk ayat yang menjadi dasar pelaksanaan takbiran di malam idul fitri. Dan jika kaji kembali, ayat diatas memberikan pesan :
  1. Mencukupkan bilangannya (hari berpuasa)
  2. mengagungkan Allah sesuai dengan petunjuk-Nya
  3. Agar kita termasuk orang yang bersyukur
Poin ketiga adalah sasaran mengagungkan Allah sesuai petunjukNya agar kita termasuk orang bersyukur. Sehingga yang perlu kita lihat kembali adalah kapan dan bagaimana takbiran yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dan Sahabat. 

سنن الدارقطني ١٧٠٠: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْقَاسِمِ بْنِ زَكَرِيَّا , ثنا أَبُو كُرَيْبٍ , ثنا حَاتِمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , عَنِ ابْنِ عَجْلَانَ , عَنْ نَافِعٍ , عَنِ ابْنِ عُمَرَ , «أَنَّهُ كَانَ إِذَا غَدَا يَوْمَ الْأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ يَجْهَرُ بِالتَّكْبِيرِ حَتَّى يَأْتِيَ الْمُصَلَّى ثُمَّ يُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِيَ الْإِمَامُ»

Muhammad bin Al Qasim bin Zakaria menceritakan kepada kami, Abu Kuraib menceritakan kepada kami. Hatim bin Isma'il menceritakan kepada kami, dari Ibnu Ajlan, dari Nafi'. Dari Ibnu Umar, "Bahwa jika berangkat pada hari Idul Adha dan Idul Fitri dia mengeraskan takbir hingga datang ke mushalla. Kemudian bertakbir hingga imam datang." (Sunan Daruquthni 1700)
Dari hadits di atas disebutkan bahwa Ibnu Umar melakukan takbir idul fitri ketika akan berangkat shalat hari Idul Adha dan Idul Fitri. Dan beliau mengeraskan takbir hingga sampai ke tempat shalat. Dan Takbir selesai ketika imam datang (memimpin shalat).

Oleh karenanya akan lebih baik jika takbiran keliling malam hari dialihkan menjadi takbiran pada pagi hari saat akan berangkat ke tempat shalat ied. Dengan mengikuti perintah dan sunnah tentu akan mendapatkan pahala yang berlipat. Selain pahala ibadah takbir, juga mendapatkan pahala karena mentaati perintah nabi untuk bertakbir di pagi hari. Karena takbir dipagi hari bukan saja dilakukan oleh sahabat Nabi SAW saja, bahkan Rasulullah sendiri juga melakukan takbir di pagi hari.
Ibn Abi Syaibah meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar rumah menuju lapangan kemudian beliau bertakbir hingga tiba di lapangan. Beliau tetap bertakbir sampai shalat selesai. Setelah menyelesaikan shalat, beliau menghentikan takbir. (HR. Ibn Abi Syaibah dalam Al Mushannaf 5621)
Dan ada juga sahabat lain yang mencontohkan takbir di pagi hari. Hal ini yang dilakukan oleh Qatadah, Ibnu abbas, Umar ibnu Khattab, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas’ud. Hadist selengkapnya dapat dilihat di tulisan Hadits Takbiran Dimulai Saat Subuh dan Pagi Hari 

Hal ini juga sejalan dengan kajian bahwa hari dalam Islam dimulai pada waktu terbit fajar atau subuh. Magrib yang yang diyakini selama ini sebagai awal hari ternyata adalah akhir siang  dan Magrib adalah waktu pergantian hari yang digunakan oleh yahudi.  Tentu sebagai umat islam, kita harus mengikuti nilai-nilai ajaran agama kita sendiri. dan prilaku mengikuti umat lain juga dilarang dalam agama. Berkaitan dengan ini ada beberapa tulisan diantaranya.
Oleh karenanya akan lebih baik jika terkait pelarangan takbir keliling, ditanggapi dengan tidak melaksanakan takbir sama sekali di malam lebaran. Takbiran dialihkan menjadi takbir yang dilakukan pad pagi hari. Selain mematuhi pemerintah, walaupun beda niatnya. Namun justeru dapat mendapatkan pahala yag berlipat, karena menjadi justeru mengikuti tuntunan dan contoh bertakbir yang dilakukan oleh Nabi SAW dan para shabat. 

Insya allah dengan bersabar mengikuti perintah, tuntunan dan contoh dari Rasulullah akan mendatangkan kemenangan sejati bagi umat Islam Indonesia. Terlebh takbir yang dilakukan sebagi pertanda kita telah berada di hari kemenangan.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Raih Kemenangan melalui Perjanjian Hudaibiyah dan Pelarangan Takbir Keliling"

Posting Komentar