Bolehkah berisbal dengan mengikuti Abu bakar RA ?

Siapa diantara kita yang tidak kenal Abu bakar RA? Khalifah pertama setelah wafatnya Nabi SAW sekaligus sahabat yang menemani Rasulullah berhijrah dari Mekkah ke Madinah. Dan Insya Allah beliau termasuk orang yang masuk surga dari pintu yang mana saja atau singgah lebih dahulu di neraka.
Abu Bakar Ash-Shidiq radliallahu 'anhu: "Demi bapak dan ibuku (sebagai tebusan) untukmu wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku, jika seseorang dipanggil diantara pintu-pintu yang ada, itu sbeuah kepastian, namun apakah mungkin seseorang akan dipanggil dari semua pintu?". Beliau menjawab: "Benar, dan aku berharap kamu termasuk diantara mereka". (Shahih Bukhari 1764).
Lalu apakah boleh mengikuti yang dilakukan Abu bakar RA terkait isbal ? jawabannya ya jelas boleh. Karena mereka adalah orang-orang terbaik. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah yang hidup pada zamanku Shahih Bukhari 2457. Namun secara rinci seperti isbal yang dilakukan atau terjadi pada Abu bakar RA yang perlu difahami terlebih dahulu. 

Dalam beberapa hadits terdapat riwayat diyatakan bahwa Abu bakar RA pernah melakukan isbal. Dalil ini yang dijadikan sebagian umat untuk membolehkan isbal jika tidak dengan sombong. Namun jika diperhatikan dalil hadits yang menyatakan Abu bakar RA melakukan isbal, ternyata isbal tetap tidak dibolehkan dan haram. Hal ini karena isbal beliat bukan dikerjakan namun justeru unsur ketidaksengajaan.
Bolehkah berisbal dengan mengikuti Abu bakar RA ?

Hal ini dapat dilihat melalui hadits berikut :

صحيح البخاري ٥٣٣٨: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرْ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ أَبُو بَكْرٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ إِزَارِي يَسْتَرْخِي إِلَّا أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَسْتَ مِمَّنْ يَصْنَعُهُ خُيَلَاءَ
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami Zuhair telah menceritakan kepada kami Musa bin 'Uqbah dari Salim bin Abdullah dari Ayahnya radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda: "Siapa yang menjulurkan pakaiannya (hingga ke bawah mata kaki) dengan sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari Kiamat kelak." Lalu Abu Bakar berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya salah satu dari sarungku terkadang turun sendiri, kecuali jika aku selalu menjaganya?" lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Engkau bukan termasuk orang yang melakukan hal itu karena sombong." (Shahih Bukhari 5338)

Dari hadits diatas bahwa ada beberapa poin yang perlu mendapatkan perhatian yaitu :
  1. Siapa yang memanjang pakaiannya hingga ke bawah mata kaki (isbal) dengan sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari Kiamat kelak.
  2. Sarung Abu Bakar RA pada salah satu ujungnya terkadang turun sendiri, kecuali jika beliau selalu menjaganya. 
  3. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan bahwa Abu Bakar RA bukan termasuk orang yang melakukan hal itu karena sombong."
Pada poin pertama jelas sama seperti tulisan sebelumnya bahwa pelaku isbal akan memasuki neraka baik karena sombong ataupun tidak. Dan jika dilakukan dengan sombong, maka sejak hari kiamat Allah tidak akan melihat orang yang isbal. Dan Neraka tidak menjadi haram dan Surga tidak menjadi halal baginya.
Poin kedua menjelaskan bahwa isbal yang dilakukan oleh Abu Bakar RA adalah karena ketidaksengajaan. Terlihat pada hadits bahwa beliau memperbaikinya kembali. Hal ini juga diprkuat hadits lain yaitu bahwa Abu lalu Bakar berkata: "Salah satu ikatan bajuku sering terlepas kecuali aku mengikatnya lagi? (Musnad Ahmad 5098). Demikian juga disebutkan dalam hadits lain bahwa Abu Bakar berkata: "Wahai Rasulullah, salah satu dari pakaianku selalu melorot kecuali bila saya selalu mengawasinya." (Musnad Ahmad 5553)
Poin ketiga menjelaskan isbal Abu Bakar RA bukanlah karena sombong. Hal ini dapat ditafsirkan dalam dua makna yaitu isbal yang terjadi tidak disengaja dan isbalnya itu sendiri. Jika isbal dikarenakan tidak sengaja maka tidak disebut sombong. Sedangkan isbalnya sendiri, tentu kita dapat mempelajari sifat dan karakter Abu Bakar RA. Adakah pada diri beliau tersemat sikap sombong dan apakah pantas kita menyakini kita sama seperti beliau, tidak memiliki sifat sombong. Dan ketidaksombongan beliau diakui dan dipersaksikan Nabi SAW. Lalu bagaimana dengan kita? beranikah menjamin tidak ada sifat sombong dalam hati kita. 

Oleh karenanya penulis lebih afdol memilih tafsir yang pertama yaitu isbal yang terjadi karena tanpa sengaja tidak termasuk bagian atau tanda kesombongan. 

Hal ini sejalan dengan hadits yang menyatakan isbal termasuk salah satu tanda atau bagian dari kesombongan. Lihat tulisan Dosa besar Memanjangkan pakaian melebihi mata kaki (Isbal) dan sebagai tanda orang sombong. Demikian juga

Berdasarkan uraian di atas jelas bahwa isbal tidak boleh dilakukan, kecuali memang menjulur dengan sendirinya atau tanpa disengaja. Dan memperbaikinya kembali ketika mengetahuinya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Bolehkah berisbal dengan mengikuti Abu bakar RA ?"

Posting Komentar