Kasus India Pakistan Bangladesh Srilangka : Menegaskan Rukhyat Boleh tapi Bersyarat

Kurun waktu delapan tahun terakhir, India menjadi satu-satunya negara yang hari arafahnya selalu lebih lambat dari mekkah. Umat Islam di India antara yang berpuasa arafah dengan wukuf para jamaah hajinya selalu berbeda hari. Umat islam yang di India berpuasa arafah ketika dimekkah sudah masuk hari raya Idul Adha. Bahkan tahun 2014 perbedaan hari arafah di India dengan wukuf haji di mekkah selisih dua hari. Tentunya Puasa arafah di India bersamaan dengan hari tasyrik di Mekkah. Dan pada Tahun 2016 perbedaan dua hari justeru terjadi didalam negeri sendiri, sehingga sebagian umat berpuasa sebagiannya lagi sudah masuk hari tasyrik
Kasus India Pakistan Bangladesh Srilangka : Menegaskan Rukhyat Boleh tapi Bersyarat

Oleh karenanya wajar ada yang berpendapat bahwa umat islam di India telah melaksanakan puasa hari arafah (9 Dzulhijjah) diwaktu haram yaitu di hari raya Idul Adha (10 Dzulhijjah) dan Tasyrik (11,12 dan 13 Dulhijjah). Diketahui perbedaan waktu antara Mekkah dan India hanya 2 (dua) jam atau beda 30⁰ bujur. Namun ada pendapat lain yang menyatakan bahwa umat Islam tetap berpuasa di hari arafah 9 dzulhijjah. Hal ini karena India melakukan rukhyat hilal sendiri untuk menetapan awal bulan dzulhijjah. Sehingga jatuhnya hari arafah 9 dzulhijjah antara mekkah dan india terjadi perbedaan. Namun Alhamdulillah perbedaan yang cukup penting, namun umat islam selalu dapat menjaga toleransi. Hal ini mengingatkan perbedaan yang sama juga kadang terjadi juga di Indonesia. 

Walaupun toleransi perbedaan selalu terjaga, sebagai umat islam yang memegang Alquran dan Sunnah tidak akan berhenti untuk mencari titik temunya. Dan perbedaan ini memang telah menjadi diskusi panjang umat. Tidak heran jika sebagian ada yang pesimis dan sebagian beranggapan hal ini sudah masuk ikhtilaf sehingga tidak dimungkinkan dipersatukan. Namun hal itu tidak sepenuhnya benar. Perbedaan dalam penetapan awal bulan ibadah masih dapat disatukan. Bahkan kalender Islam dunia yang mempersatukan bumi dalam satu hari dan tanggal yang sama juga dapat dibangun. Lihat tulisan Mendamaikan Perbedaan Puasa Arafah antara Ikut waktu mekkah atau negara sendiri dan Rukyat Negara Berlaku Lokal, Rukhyat Mekkah Berlaku Global.
Kasus India Pakistan Bangladesh Srilangka : Menegaskan Rukhyat Boleh tapi Bersyarat

Dan Kasus rukhyat di India dijadikan sebagai contoh kasus yang baik bahwa perbedaan pendapat tersebut masih dapat dipersatukan. Contoh juga diperkuat oleh kondisi negara-negara diwilayah sekitar India. Pakistan dan Bangladesh adalah termasuk negara yang 7 (tujuh) kali berbeda hari arafah dengan mekkah dan Srilangka 5 kali berbeda dalam 8 tahun terakhir. Keempat negara ini menjadi empat negara teratas yang selalu berbeda hari arafahnya selalu berbeda dengan Mekkah. Padahal keempat negara ini berada dalam zona waktu yang sama (GMT+5½). Oleh karenanya posisinya cukup dekat dengan Mekkah, dalam zona waktu Islam, penulis buku Masjidil Haram Menyatukan Kalender Islam menempat keempatNegara ini dalam zona waktu MMT+3½.

Secara logika sulit dipahami empat negara tersebut tidak pernah melihat hilal seperti halnya negara-negara lainnya. Seharusnya jika Indonesia dan malaysia berhasil merukhyat, maka besar kemungkinan India juga akan berhasil merukhyat. Karena negara yang lebih dekat dekat barat akan lebih mudah untuk merukhyat. Sebagai contoh di tahun 2016 Indonesia berhasil merukhyat, namun India dan pakistan tidak dapat melihat hilal. Dan melompat zona selanjutnya, justeru Arab saudi yang berhasil merukhyat. Mungkin ditahun 2016 tersebut, mungkin hilal tidak terlihat karena terhalang awan atau ada faktor lainnya. Namun bagaimana mungkin hal tersebut terulang dalam delapan tahun berturut-turut, atau bahkan lebih lama daripada itu.

Pernahkah terpikirkan bahwa Hilal Dzulhijjah tidak terlihat di wilayah empat negara tersebut adalah bentuk ujian. Ujian dari Allah bagi pemimpin dan umat di empat negara tersebut. Apakah mereka akan terus bertahan dan bangga dengan perbedaannya ? Padahal Rasulullah telah mengingatkan "Berpuasa itu pada hari kalian berpuasa dan berbuka itu pada hari dimana kalian semua berbuka, demikian juga dengan Iedul Adlha, yaitu pada hari kalian semuanya berkurban." (Sunan Tirmidzi 633). Tidakkah saudara-saudara kita di empat negara tersebut mempunyai keinginan untuk berpuasa dan berhari raya secara bersama-sama. Padahal dengan perbedaan waktu sekitar dua jam tidak sulit untuk menyatukan diri.

Berbeda halnya dengan negara-negara yang berada 6 jam lebih cepat dari mekkah, tentu memiliki kendala tersendiri untuk mengikuti waktu mekkah. Namun meskipun demikian Hilal Mekkah tetap mampu mempersatukan bumi dari ujung timur hingga ujung barat dalam satu hari satu tanggal. Namun untuk penerapannya, tentu terdapat beberapa kebiasaan umat Islam yang disesuaikan kembali dengan dalil hadits alquran. Sepertinya halnya waktu untuk memulai hari, Insya Allah kebersamaan hari berpuasa dan hari raya akan dapat terwujud. Dan bahkan Insya Allah kalender Islam dunia yang mapan akan terwujud, seperti halnya kalender masehi dan lainnya.

Semoga hal ini jadi perenungan bersama, bukan tidak mungkin India Pakistan Bangladesh Srilangka adalah negara-negara yang memang ditakdirkan sulit melihat hilal. Hal ini seperti analogi Pasangan yang tidak mendapatkan keturunan, bukan berarti menjadi halangan mereka memiliki anak-anak. Anak asuh tetap dapat menjadi sarana mereka untuk belajar mendidik dan berbagi kasih sayang. Dan doa anak asuh juga dapat menjadi doa anak sholeh bagi kedua orangtua angkatnya. Demikian juga halangan melihat hilal, bukan berarti halangan bagi Umat Islam empat negara tersebut berpuasa arafah bersamaan dengan puasa arafah umat islam di dunia dan wukufnya orang-orang yang berhaji.

Dari uraian diatas, dapat dinyatakan rukhyat hilal pernegara bersifat lokal dan dapat menjadikan umat islam terpecah-pecah dalam mengawali bulan Hijriah. Berbeda halnya dengan rukhyat kota mekkah yang dapat mempersatukan dunia, karena didalamnya terdapat ka’bah sebagai pusatnya manusia (QS.5:97). Oleh karenanya sudah saat negara-negara yang masih mempertahankan rukhyat lokalnya, kiranya dapat mempertimbangkan rukhyat mekkah sebagai pemersatu dan kebersamaan umat Islam dunia.

Allahu A’lam

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kasus India Pakistan Bangladesh Srilangka : Menegaskan Rukhyat Boleh tapi Bersyarat"

Posting Komentar