Luka Doa dan Keputusan hingga Azal menjemput Sa’ad bin Mu’adz (bag 3)

Perang ahzab atau khandaq adalah perang berbeda dari biasanya dan cukup menegangkan. Umat Islam Madinah menghadapi dua musuh sekaligus. Dari luar dikepung kaum musryik dan dan dari dalam menghadapi penghianatan Kaum Yahudi Bani Quraidzah. umat Islam berhasil bertahan dengan pertahanan parit keliling hingga kaum kafir Quraisy frustasi hingga pulang kembali.

Pada perang ahzab ini Sa’ bin Muadz mendapatkan luka serius pada otot tengah lengannya. Darah terus mengucur dan Nabi Muhammad SAW berusaha menghentikannya dengan pengobatan kay. Melihat darahnya mengucur deras Sa’ad bin Mu’adz berdoa, "Ya Allah, janganlah engkau matikan aku hingga mataku menjadi sejuk dari (kekalahan) bani Quraizhah." seketika itu darah berhenti, luka menganganya menutup. 
Luka Doa dan Keputusan hingga Azal menjemput  Sa’ad bin Mu’adz

Setelah satu bulan kaum kafir Quraisy mengepung dan akhirnya meninggalkan peperangan. Umat islam kembali melanjutkan peperangan menghadapi penghianatan bani Quraidzah. 25 hari pengepungan terhadap benteng bani quraidzah akhirnya mereka menyerah. 

Hukuman terhadap penghianatan quraidzah disepakati diserahkan kepada Sa’ad bin Mu’adz sebagai suku sekutu pada zaman jahiliyahnya. Setelah selesai pemberian hukuman luka Sa’ad bin Mu’adz kembali menganga dan darah mengucur hingga meninggal dunia. Doa Sa’ad bin Mu’adz telah dikabulkan, bukan hanya melihat kekalahan atas bani quraidzah tapi juga menjadi hakim atas penghiatan mereka.

Tulisan ini disarikan dari sirah nabawi karya syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri. Dan lebih mendetailnya dapat dilihat melalui dua hadits dari riwayat Aisyah RA dan Jabir RA. sebagai berikut :

Dari Riwayat Aisyah RA

(Aisyah) berkata: Saya pergi pada perang Khandaq dan saya berjalan di belakang pasukan. Saya mendengar getaran bumi di belakangku, yaitu pergeseran bumi. Saya menoleh, ternyata saya bersama Saad bin Mua'dz dan ia bersama keponakannya, Al Harits bin Aus yang membawa ketapel. Lalu saya duduk di bumi, dan Saad tetap berlalu dengan membawa baju besi yang ujung-ujungnya keluar dan aku sempat takut dengan ujung-ujung baju Saad. 

(Aisyah) Berkata: Saad adalah orang yang paling besar dan tinggi. Lalu dia berlalu sambil bernasyid: "Aduhai sekiranya ada sedikit waktu menjumpai peperangan, alangkah baiknya kematian bila ajal telah datang." 

Lalu saya berdiri dan menghamburkan diri ke kebun dan ternyata di sana terdapat beberapa orang dari kaum muslimin. Di antara mereka terdapat Umar bin Khattab, dan ada pula seorang lelaki yang sedang mengambil getah pohon dengan membawa ciduk. 

Lalu Umar berkata: "Apa yang mendorongmu datang kemari (wahai Aisyah), demi Allah, sungguh engkau adalah wanita pemberani, apa yang bisa menjaminmu kalaulah ada musibah yang menimpa atau kita harus melarikan diri?." 

Mereka masih saja mencelaku hingga bumi ini terasa sempit bagiku." Lalu saya (Aisyah) memasuki kebun itu. 

Kata Aisyah, lelaki yang sedang mengambil getah tersebut menyingkap wajahnya, ternyata dia adalah Thalhah bin Ubaidillah. Ia berkata: "Wahai Umar, celaka engkau, sungguh mulai hari ini engkau telah banyak omong. Bukankah tidak ada tempat pelarian dan pendakian kecuali kepada Allah AzzawaJalla?." 

(Aisyah) Berkata: kemudian ada seorang lelaki dari kaum musyrikin, ia sering dipanggil Ibnu Al Araqah, memanah Saad dengan busur anak panahnya. Kata (Ibnu Al Araqah) sembari mengejek: cabutlah anak panah itu, saya adalah Ibnu Al Araqah, (anak panah tersebut) mengenai urat hastanya dan memotongnya. Saad berdoa kepada Allah AzzaWaJalla."Ya Allah, Jangan engkau matikan aku hingga mataku menjumpai Bani Quraidzah." (Aisyah) Berkata: Banu Quraizhah adalah para sekutunya dan para pembesar penolongnya di waktu jahiliyah. 

(Aisyah) Berkata: suaranya pun semakin meninggi dan kemudian Allah mengirimkan angin yang menghancurkan orang-orang musyrik dan Allah AzzaWaJalla telah menghentikan peperangan bagi orang-orang beriman, dan Allah AzzaWaJalla Maha Kuat lagi Mulia. 

Kemudian Abu Sofyan dan orang-orang yang bersamanya menyusul ke Tihamah, sedangkan 'Uyainah bin Badar dan orang-orang yang bersamanya menyusul ke Najd dan Bani Quraidzah pun kembali dan berjaga-jaga di benteng-benteng mereka. Adapun Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau kembali ke Madinah dan meletakkan senjatanya. Kemudian beliau memerintahkan untuk membuat tenda yang terbuat dari kulit yang telah disamak di masjid untuk Saad. 

(Aisyah) Berkata: Jibril 'Alaihissalam mendatanginya dan sungguh di gigi serinya masih ada debu yang menempel. Kemudian dia berkata: "Apakah engkau telah meletakkan senjata? Demi Allah, para malaikat belum meletakkan senjata mereka, maka pergilah ke Bani Quraidzah dan perangilah mereka." (Aisyah) Berkata: kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memakai baju perangnya dan mengumumkan kepada (para sahabatnya) untuk berangkat. 

Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun berangkat dan melalui Bani Ghanim, mereka adalah tetangga dan penduduk sekitar masjid. Beliau bersabda: "Siapa yang telah melewati kalian?" mereka menjawab: "Telah melewati kami Dihyah alkalbi, jenggotnya, giginya, dan wajahnya menyerupai Jibril Alaihissalam." 

(Kata Aisyah) Berkata: n Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendatangi mereka dan mengepung mereka selama dua puluh lima malam. Tatkala semakin kokoh pengepungan terhadap mereka dan semakin susahnya ujian, di katakan kepada mereka, turunlah kalian untuk (mentaati) hukum Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. 

Kemudian mereka meminta isyarat Abu Lubabah bin Abdil Mundzir dan ia pun menjelaskan kepada mereka bahwa yang di maksud (dengan hukum Rasulullah) yang dimaksud adalah mereka disembelih. Mereka berkata: kalau begitu kami menyerahkan keputusan kepada Saad bin Muadz. 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Silahkan kalian menyerahkan keputusan kepada Saad bin Muadz." 

Akhirnya mereka pun turun dari benteng-bentengnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam selanjutnya mengutus seseorang kepada Saad bin Muadz. Sa'd dinaikkan di atas keledai yang diatasnya terdapat pelana terbuat dari serabut. 

Kaumnya mengelilinginya dan berkata: "Wahai Abu Amru, kami-kami adalah sekutumu, sahabat karibmu, orang-orang yang piawai dalm peperangan, serta orang-orang yang telah kamu kenal." 

(Kata Aisyah): Sa'd bin Mu'adz sama sekali tidak memberi jawaban kepada mereka sedikit pun dan dia pun sama sekali tidak menoleh kepada mereka. Hingga ketika ia telah dekat dengan rumah-rumah mereka, ia menoleh kepada kaumnya dan berkata: "Sungguh sudah datang waktunya untukku, untuk tidak memperhatikan lagi celaan orang-orang yang mencelaku jika berada di jalan Allah." 

Abu Sa'id berkata: tatkala dia terlihat oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Berdirilah kalian untuk menjemput tuan kalian dan turunkanlah dia." Kemudian Umar berkata: "Tuan kita adalah Allah AzzaWaJalla." Beliau bersabda: "Turunkan dia." Akhirnya mereka pun menurunkannya. 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam selanjutnya bersabda: "Putuskanlah hukuman untuk mereka!" Saad berkata: "Sungguh saya akan memutuskan hukum terhadap mereka, mereka yang ikut berperang dieksekusi, keluarga mereka ditawan, dan harta mereka akan dibagi-bagikan." 

Tatkala Yazid di Baghdad ia berkata: "(Harta mereka) seterusnya di bagi (dengan kata kerja bentuk sekarang)." 

Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sungguh engkau telah menghukumi dengan hukum Allah AzzaWaJalla dan Rasul-Nya." 

(Aisyah) Berkata: kemudian Saad berdoa: "Ya Allah, apabila Engkau melanggengkan Nabi-Mu shallallahu 'alaihi wa sallam untuk tetap memerangi kaum quraisy maka pertahankanlah umurku karenanya. Sebaliknya jika engkau menghentikan peperangan antara dirinya dan mereka, maka cabutlah nyawaku untuk menuju kepada-Mu." 

(Aisyah) Berkata: Maka luka Sa'ad serta merta menganga padahal sebelumnya telah sembuh hingga tidak terlihat bekasnya kecuali hanya seperti anting-anting kecil. Kemudian ia kembali ke tenda yang telah dipasang oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

(Kata Aisyah): kemudian Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam, Abu Bakar, dan Umar menjenguknya. 

Kata Aisyah, demi jiwa Muhammad yang ada di tangan-Nya, sungguh aku melihat tangisan Umar seperti tangisan Abu Bakar sedangkan saya sedang berada di kamarku dan mereka seperti halnya orang yang difirmankan oleh Allah AzzaWaJalla 'Saling mengasihi di antara mereka.' 

saya bertanya, kata Alqomah,: "Wahai ibu, lalu apa yang diperbuat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika itu?" (Aisyah) Berkata: "Mata beliau tidak mengeluarkan air akan tetapi apabila ia sedang (bersedih) ia hanya memegang jenggotnya." (Musnad Ahmad 23945)


dan dari Riwayat Jabir, 

ia berkata: "Pada perang Ahzab Sa'd bin Mu'adz terkena anak panah hingga memutus urat nadi lengannya bagian luar, atau bagian dalam. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menempelkan besi panas agar darahnya berhenti, tetapi tangannya justru membengkak dan mengeluarkan banyak darah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kembali menempelkan besi panas agar darahnya berhenti. Ketika Sa'd melihat darahnya banyak keluar, ia pun berdoa, "Ya Allah, janganlah engkau matikan aku hingga mataku menjadi sejuk dari (kekalahan) bani Quraizhah." Seketika itu urat nadinya berhenti dan tidak mengeluarkan setetes darah pun, hingga mereka (Bani Quraizhah) menyerahkan hukuman kepada keputusan Sa'd bin Mu'adz. Nabi pun mengutus seseorang menemui Sa'd. Saad putuskan agar tawanan laki-laki dibunuh sedang kaum perempuan dibiarkan hidup, dengan harapan kaum muslimin sewaktu-waktu membutuhkan pertolongannya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian bersabda: "Engkau telah memberlakukan mereka sesuai dengan hukum Allah." Jumlah mereka waktu itu adalah empat ratus orang, ketika selesai membunuh orang-orang kafir itu, urat nadi Sa'd kembali mengeluarkan darah hingga ia pun meninggal." (Sunan Tirmidzi 1508)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Luka Doa dan Keputusan hingga Azal menjemput Sa’ad bin Mu’adz (bag 3)"

Posting Komentar