Sa’ad bin mu’adz di mata Rasulullah SAW dan Sahabat (bag.2)


Sa’ad bin Mu’adz sebagai orang pertama membuat Allah tertawa adalah sosok yang memiliki kedudukan di mata Rasul dan para sahabat. Rasulullah SAW memujinya sebagai sosok pemimpin terbaik. Diantara para sahabat, ada yang menyimpan kesedihan atau tangisnya hanya untuk Sa’ad bin Mu’adz, ada yang menempatkannya sebagai seorang yang berilmu.
Sa’ad bin mu’adz di mata Rasulullah SAW dan Sahabat

Rasulullah SAW memuji Sa'ad bin Mu'adz sebagai orang terbaik dan pemimpin bagi umat islam. Hal disampaikan Rasulullah SAW ketika Kaum Yahudi dari bani quraidzah menyerah dalam perang. beliau memerintahkan para sahabat lain berdiri untuk menyambut kedatangan Sa’ad ketika akan memutuskan hukuman bagi pengkhianatan kaum Yahudi dari bani Quraizah.

dari Abu Sa'id Al Khudriy radliallahu 'anhu bahwa orang-orang (Bani Quraizhah) setuju dengan ketetapan hukum yang akan diputuskan oleh Sa'ad bin Mu'adz. Maka beliau mengutus orang untuk memanggilnya, dia pun datang dengan menunggang keledai. Ketika sudah dekat dengan masjid, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata: "Berdirilah kalian untuk orang terbaik kalian dan pemimpin kalian". Lalu beliau melanjutkan: "Wahai Sa'ad, mereka telah setuju dengan keputusan yang akan kamu buat". Sa'ad berkata: "Akan kuputuskan mereka bahwa agar para tentara perang mereka harus dibunuh dan anak-anak mereka dijadikan tawanan". Maka Beliau berkata: "Sungguh kamu telah memutuskan hukum mereka dengan hukum Allah (Raja diraja) ". Shahih Bukhari 3520:

Sahabat yang begitu mulia dihadapan Rasulullah dan para sahabat tidak heran jika Anas bin malik menangis sejadinya ketika berjumpa dengan cucu Sa’ad bin Mu’adz karena begitu miripnya dengan sosok sa’ad.

dari Waqid bin Amru bin Sa'd bin Mu'adz ia berkata: "Ketika Anas bin Malik datang ke Madinah, aku masuk menemuinya seraya memberi salam. Anas lalu bertanya, "Siapa kamu?" Aku menjawab, "Aku Waqid bin Amru bin Sa'd bin Mu'adz." Anas kemudian berkata: "Sungguh, Sa'd adalah orang yang paling tinggi dan besar." Kemudian ia menangis dan tangisnya semakin menjadi, setelah itu ia berkata lagi, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengutus utusan kepada Ukaidar, penguasa Dumah. Kemudian Ukaidar mengirimkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kain dibaj (kain sejenis sutera) yang ditenun dengan benang emas. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian memakainya dan naik ke atas mimbar, beliau duduk tanpa berbicara sepatah kata pun. Setelah itu beliau turun hingga orang-orang (berusaha) menyentuh kain tersebut dengan tangan mereka. Beliau lalu bersabda: "Apakah kalian merasa ta'ajub dengan kain ini? Sungguh, sapu tangan Sa'd di surga lebih bagus dari apa yang kalian lihat ini." Sunan Nasa'i 5207 hadits yang sama juga diriwayatkan dalam Musnad Ahmad 11776

begitu juga sahabat dari Anshar yaitu Usaid bin Hudlair menyimpan kesedihannya untuk sahabatnya Sa'adz bin Mua'dz dengan menyatakan tidak akan menangisi siapapun lagi. 

dari Aisyah ia berkata: Kami kembali dari perjalanan menunaikan haji atau umrah. Kemudian kami dijemput di Dzul Hulaifah. Dan para pemuda dari kalangan Anshar menemui keluarganya, dan mereka pun menjumpai Usaid bin Hudlair dan mengabarkan kematian isterinya. Ia pun menutupi kepalanya dan menangis. Aisyah berkata: Saya berkata padanya, "Semoga Allah mengampunimu. Anda adalah sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Anda juga termasuk mereka yang pertama kali memeluk Islam, lalu kenapa Anda menangis lantaran seorang wanita?" ia menyingkap kembali penutup kepalanya dan berkata: "Anda telah berkata benar. Sesungguhnya, hidupku adalah hakku, saya tidak akan menangisi seorang pun setelah Sa'adz bin Mua'dz, dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda tentangnya. Aisyah berkata: Saya bertanya kepadanya, "Apa yang disabdakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentangnya?" beliau bersabda: "Sunggu, Arsy telah bergoncang karena kewafatan Sa'd bin Mu'adz." Aisyah berkata: "Dan ia berjalan di antara aku dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam." Musnad Ahmad 18308

Penghormatan sahabat juga begitu Ibnu Abbas mengakui keilmuan yang dimiliki masyarakat anshar salah satunya di kediaman Saad bin Mu’adz

Telah mengabarkan kepaeda kami Makhlad bin Malik telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id Al `Umawi telah menceritakan kepada kami Al Hajjaj dari Hushain bin 'Abdur Rahman -dari keluarga Sa'ad bin mu'adz-, ia berkata: Ibnu Abbas radliallahu 'anhu pernah berkata: "Aku telah mencari ilmu dan aku tidak dapatkan itu sebanyak di masyarakat Anshar, suatu saat aku mendatangi seorang laki-laki, aku bertanya kepadanya, tetapi ketika diberitahu bahwa ia sedang tidur, maka aku menjadikan selendangku sebagai bantal dan berbaring hingga ia keluar untuk shalat Dhuhur, kemudian ia bertanya: 'Mulai kapan kamu menungguku wahai keponakan Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam? ', aku pun menjawab: 'Sudah lama', lalu ia berkata: 'Tidak bagus kamu bersikap seperti ini, mengapa kamu tidak beritahu aku? ', aku menjawab: 'Aku ingin kamu kamu keluar menemuiku setelah kamu selesai dari semua keperluanmu' ". Sunan Darimi 56.

Hadits yang terakhir ini dinilai Dha’if isnadnya oleh Ad daroni karena ada satu perawi yang terlewati atau tidak disebutkan. Yaitu diantara ibnu abbas ke perawi selanjutnya yaitu Hushain bin 'Abdur Rahman. Namun jika mengacu ijma Ulama tentang kedha’ifan hadits, maka hadits ini masih dapat digunakan. Dan jika hadits ini dirunut atau diperhatikan dukungan hadits lainnya yang berkaitan dengan Sa’ad, sesungguhnya matan hadits ini dapat dinaikan statusnya menjadi hasan. Hadits dapat sebagai penguat pesan kemuliaan seorang sa’ad bin mu’adz

Semoga kemuliaan dan keutamaan seorang sa’ad bin mu’adz dapat hadir dalam sikap dan perbuatan kita, menjadi wasilah untuk mendapatderajat yang tinggi dihadapan Allah dan Rasulullah SAW.







Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sa’ad bin mu’adz di mata Rasulullah SAW dan Sahabat (bag.2)"

Posting Komentar