Dua Tangisan yang dibolehkan dan dilarang ketika ditimpa Musibah Kematian

Menangis adalah rahmat yang diberikan kepada hati manusia. Melalui tangisan Allah berikan kasih sayang antara sesamanya. Orang tertawa dan menangis datangnya dari Allah. 


وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى (٤٣) 
dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis, (QS. An Najm ayat 43) 

Tangisan juga merupakan satu ciri orang yang diberikan pengetahuan tentang Alquran 

وَيَخِرُّونَ لِلأذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا (١٠٩) 
dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu'. (QS. Al Israa’ ayat 109) 

Meskipun menangis memiliki keutamaan, namun ketika terjadi musibah atau kematian, terdapat tangisan yang dibolehkan dan tangisan yang dilarang. 
Dua Tangisan yang dibolehkan dan dilarang ketika Kematian

Setidaknya terdapat dua tangisan yang dibolehkan dan dua tangisan yang dilarang ketika kematian yaitu sebagai berikut : 

1. Dua tangisan yang dibolehkan ketika musibah atau kematian

Tangisan yang terbolehkan terbagi atas dua yaitu tangisan dengan mata dan tangisan dengan hati. Bolehnya menangis dengan linangan air mata dan kesedihan hati dapat dilihat melalui hadits yang menyatakan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah menangis ketika putra, putri dan cucu beliau meninggal dunia. 

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menangis ketika anak Beliau, Ibrahim meninggal dunia 

dari Anas bin Malik radliyallahu 'anhu berkata: 

دَخَلْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَبِي سَيْفٍ الْقَيْنِ وَكَانَ ظِئْرًا لِإِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَام فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِبْرَاهِيمَ فَقَبَّلَهُ وَشَمَّهُ ثُمَّ دَخَلْنَا عَلَيْهِ بَعْدَ ذَلِكَ وَإِبْرَاهِيمُ يَجُودُ بِنَفْسِهِ فَجَعَلَتْ عَيْنَا رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَذْرِفَانِ فَقَالَ لَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ يَا ابْنَ عَوْفٍ إِنَّهَا رَحْمَةٌ ثُمَّ أَتْبَعَهَا بِأُخْرَى فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ 
Kami bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendatangi Abu Saif Al Qain yang (isterinya) telah mengasuh dan menyusui Ibrahim 'alaihis salam (putra Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam). Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengambil Ibrahim dan menciumnya. Kemudian setelah itu pada kesempatan yang lain kami mengunjunginya sedangkan Ibrahim telah meninggal. Hal ini menyebabkan kedua mata Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berlinang air mata. Lalu berkatalah 'Abdurrahman bin 'Auf radliyallahu 'anhu kepada Beliau: "Mengapa anda menangis, wahai Rasulullah?". Beliau menjawab: "Wahai Ibnu 'Auf, sesungguhnya ini adalah rahmat (tangisan kasih sayang)". Beliau lalu melanjutkan dengan kalimat yang lain dan bersabda: "Kedua mata boleh mencucurkan air mata, hati boleh bersedih, akan tetapi kita tidak mengatakan kecuali apa yang diridhai oleh Rabb kita. Dan kami dengan perpisahan ini wahai Ibrahim pastilah bersedih". Shahih Bukhari 1220 hadits yang senada juga disebutkan dalam Shahih Muslim 4279 Sunan Abu Daud 2719 Sunan Ibnu Majah 1578 


Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menangis ketika cucu beliau meninggal 

dari Usamah bin Zaid berkata 

أَنَّ ابْنَةً لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْسَلَتْ إِلَيْهِ وَأَنَا مَعَهُ وَسَعْدٌ وَأَحْسَبُ أُبَيًّا أَنَّ ابْنِي أَوْ بِنْتِي قَدْ حُضِرَ فَاشْهَدْنَا فَأَرْسَلَ يُقْرِئُ السَّلَامَ فَقَالَ قُلْ لِلَّهِ مَا أَخَذَ وَمَا أَعْطَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ إِلَى أَجَلٍ فَأَرْسَلَتْ تُقْسِمُ عَلَيْهِ فَأَتَاهَا فَوُضِعَ الصَّبِيُّ فِي حِجْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَفْسُهُ تَقَعْقَعُ فَفَاضَتْ عَيْنَا رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَهُ سَعْدٌ مَا هَذَا قَالَ إِنَّهَا رَحْمَةٌ وَضَعَهَا اللَّهُ فِي قُلُوبِ مَنْ يَشَاءُ وَإِنَّمَا يَرْحَمُ اللَّهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ 
Bahwa Anak wanita Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengirimkan utusan kepada beliau sementara saya dan Sa'd bersama dengan beliau, aku mengira Ubay juga bersama beliau. Ia berkata: "Sesungguhnya anakku telah mendekati kematian maka saksikanlah kami." Kemudian beliau mengirimkan utusan dan membacakan salam. Kemudian beliau berkata: "Ucapkan: 'milik Allah apa yang Dia ambil dan apa yang Dia berikan, segala sesuatu disisiNya hingga waktu yang telah ditentukan.'" Kemudian ia mengirimkan utusan dan bersumpah atas beliau (agar beliau datang). Kemudian beliau datang kepadanya, lalu anak tersebut diletakkan dalam pangkuan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sementara nafasnya tersengal-sengal, kemudian kedua mata Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bercucuran air mata. Kemudian Sa'd berkata kepada beliau: "Mengapa engkau menangis?" Beliau berkata: "Sesungguhnya itu adalah kasih sayang yang Allah letakkan pada hati orang yang Dia kehendaki, sesungguhnya Allah merahmati hamba-hambaNya yang penyayang." Sunan Abu Daud 2718 

Nabi Membolehkan para wanita menangis ketika seseorang dari keluarga Beliau meninggal 

Abu Hurairah berkata: 
مَاتَ مَيِّتٌ مِنْ آلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاجْتَمَعَ النِّسَاءُ يَبْكِينَ عَلَيْهِ فَقَامَ عُمَرُ يَنْهَاهُنَّ وَيَطْرُدُهُنَّ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُنَّ يَا عُمَرُ فَإِنَّ الْعَيْنَ دَامِعَةٌ وَالْقَلْبَ مُصَابٌ وَالْعَهْدَ قَرِيبٌ 
"Telah meninggal seseorang dari keluarga Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam, lalu para wanita berkumpul menangisinya, maka Umar bangkit melarang mereka menangis dan mengusirnya. Kemudian Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda: 'Biarkanlah mereka wahai Umar!, mata mereka mudah mencucurkan air mata, hati mudah bersedih, dan kiamat itu dekat.' Sunan Nasa'i 1836 

Dari hadits diatas jelas bahwa dua tangisan yang dibolehkan adalah 1) menangis dengan mencucurkan air mata dan 
2) menangis dengan hati yang bersedih. 


2. Dua Tangisan yang dilarang ketika musibah atau kematian 

Sedangkan dua tangisan yang dilarang ketika kematian adalah tangisan yang lahirnya dari tangan dan lisan. Hal ini dinyatakan Ibnu 'Abbas bahwa: 

لَمَّا مَاتَ عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونٍ قَالَتْ امْرَأَةٌ هَنِيئًا لَكَ الْجَنَّةُ عُثْمَانَ بْنَ مَظْعُونٍ فَنَظَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهَا نَظَرَ غَضْبَانَ فَقَالَ وَمَا يُدْرِيكِ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَارِسُكَ وَصَاحِبُكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاللَّهِ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ وَمَا أَدْرِي مَا يُفْعَلُ بِي فَأَشْفَقَ النَّاسُ عَلَى عُثْمَانَ فَلَمَّا مَاتَتْ زَيْنَبُ ابْنَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَقِي بِسَلَفِنَا الصَّالِحِ الْخَيْرِ عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ فَبَكَتْ النِّسَاءُ فَجَعَلَ عُمَرُ يَضْرِبُهُنَّ بِسَوْطِهِ فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ وَقَالَ مَهْلًا يَا عُمَرُ ثُمَّ قَالَ ابْكِينَ وَإِيَّاكُنَّ وَنَعِيقَ الشَّيْطَانِ ثُمَّ قَالَ إِنَّهُ مَهْمَا كَانَ مِنْ الْعَيْنِ وَالْقَلْبِ فَمِنْ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمِنْ الرَّحْمَةِ وَمَا كَانَ مِنْ الْيَدِ وَاللِّسَانِ فَمِنْ الشَّيْطَانِ 
Ketika Utsman bin Mazh'un meninggal dunia, isterinya berkata: Selamat bagimu wahai Ibnu Mazh'un di surga. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melihatnya dengan pandangan benci seraya bersabda: "Apa yang membuatmu tahu?" Ia berkata: "Ya Rasulullah dia adalah penunggang kudamu dan sahabatmu." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Demi Allah sesungguhnya aku adalah utusan Allah, namun aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku." Maka orang-orang merasa kasihan terhadap Utsman. Ketika Zainab anak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meninggal, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Bertemulah engkau dengan pendahulu kami yang shalih, yaitu Utsman bin Mazh'un." Maka para wanitapun menangis, sehingga Umar memukul mereka dengan cambuknya, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menahannya dan bersabda: "Tahanlah hai Umar." Kemudian beliau melanjutkan: "Menangislah kalian, hindarilah teriakan setan." Kemudian beliau bersabda: "Apa yang terlahir dari hati dan mata, maka itu dari Allah dan kasih sayang, adapun yang terlahir dari tangan dan lisan, maka itu dari setan." Musnad Ahmad 2020 

Tangisan melalui lisan disebut juga sebagai ratapan. dan Nabi melarang menangis dengan meratap atau Al Maratsi 

فَقَالَ لَا تَرْثِينَ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمَرَاثِي فَتُفِيضُ إِحْدَاكُنَّ مِنْ عَبْرَتِهَا مَا شَاءَتْ ثُمَّ كَبَّرَ عَلَيْهَا أَرْبَعًا ثُمَّ قَامَ بَعْدَ الرَّابِعَةِ قَدْرَ مَا بَيْنَ التَّكْبِيرَتَيْنِ يَدْعُو ثُمَّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ فِي الْجِنَازَةِ هَكَذَا 
Abdullah bin Abu Aufa berkata: "Janganlah lakukan melakukan Al Maratsi (ratapan ala jahiliyah), karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah melarang ratapan ala jahiliyah hingga salah seorang di antara kalian air matanya mengalir sesuka hatinya." Kemudian ia pun menshalatinya empat takbir, lalu ia berdiri setelah takbir yang keempat seperti jarak dua takbir, ia berdo'a dan berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah berbuat terhadap jenazah sedemikian ini." Musnad Ahmad 18351 

Ancaman bagi orang yang meratapi mayat disebutkan dalam hadits dari Ibnu Abbas ia berkata: 

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النِّيَاحَةُ عَلَى الْمَيِّتِ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ فَإِنَّ النَّائِحَةَ إِنْ لَمْ تَتُبْ قَبْلَ أَنْ تَمُوتَ فَإِنَّهَا تُبْعَثُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهَا سَرَابِيلُ مِنْ قَطِرَانٍ ثُمَّ يُعْلَى عَلَيْهَا بِدِرْعٍ مِنْ لَهَبِ النَّارِ 
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Meratapi mayat adalah dari perkara jahiliyyah. Sesungguhnya perempuan yang meratap, jika mati dan belum bertaubat akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan mengenakan jubah dari timah, kemudian akan dipasangkan baju besi dari jilatan api neraka. " Sunan Ibnu Majah 1571 

Dan Meratapi mayat bukan saja menjadikan pelakunya yang berdosa, namun mayat yang ditangisi juga menjadi tersiksa. 

dari Al Mughirah radliyallahu 'anhu berkata: 

سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ نِيحَ عَلَيْهِ يُعَذَّبُ بِمَا نِيحَ عَلَيْهِ 
Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang meratapi mayat maka mayat itu akan disiksa disebabkan ratapan kepadanya." Shahih Bukhari 1209 

Dan yang tangisan kedua yang dilarang adalah tangisan yang diikuti dengan tangan. Tangisan dengan diikuti dengan perbuatan dengan tangan ini menjadikan pelakunya keluar dari golongan umat Nabi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Perbuatan menangis dengan tangan ini diantara yaitu 

Perbuatan menampar-nampar pipi, merobek-robek baju. Hal ini dinyatakan dari 'Abdullah radliallahu 'anhu berkata: 

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ 
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda: "Bukan dari golongan kami siapa yang menampar-nampar pipi, merobek-robek baju dan menyeru dengan seruan jahiliyyah." Shahih Bukhari 1212 

Dalam hadits lain disebutkan bahwa mencukur jenggot atau rambut juga termasuk perbuatan yang dilarang ketika menghadapi musibah. Hal ini disebutkan Abu Musa berwasiat ketika ia sakarat hendak meninggal dunia. 

إِذَا انْطَلَقْتُمْ بِجِنَازَتِي فَأَسْرِعُوا الْمَشْيَ وَلَا يَتَّبِعُنِي مُجَمَّرٌ وَلَا تَجْعَلُوا فِي لَحْدِي شَيْئًا يَحُولُ بَيْنِي وَبَيْنَ التُّرَابِ وَلَا تَجْعَلُوا عَلَى قَبْرِي بِنَاءً وَأُشْهِدُكُمْ أَنَّنِي بَرِيءٌ مِنْ كُلِّ حَالِقَةٍ أَوْ سَالِقَةٍ أَوْ خَارِقَةٍ قَالُوا أَوَسَمِعْتَ فِيهِ شَيْئًا قَالَ نَعَمْ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ 
"Jika kalian berangkat mengusung jenazahku, maka percepatlah langkah kalian. Jangan sampai ada Mujammar (wadah yang berisi bara dan dupa) yang menyertaiku. Dan janganlah kalian meletakkan dalam lahadku sesuatu pun yang dapat menghalangi antara jasadku dan tanah. Jangan pula kalian membangun sesuatu pun di atas kuburanku. Dan saya bersaksi kepada kalian, sesungguhnya saya berlepas diri dari setiap Haliqah (wanita yang mencukur rambutnya karena musibah yang menimpa), Saliqah (wanita meraung-raung ketika tertimpa musibah) dan Khaliqah (wanita yang merobek-robek bajunya ketika tertimpa musibah)." Mereka pun bertanya, "Apakah Anda telah mendengar hal itu?" Ia menjawab, "Ya, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam." Musnad Ahmad 18726 

Dan dari hadits-hadits yang menyatakan tentang tangisan yang dilarang ketika kematian atau musibah yang menimpa adalah 
1) Tangisan dengan lisan 
2) Tangisan dengan tangan yaitu 
     (1) menampar-nampar pipi, 
     (2) merobek-robek baju dan 
     (3) mencukur rambutnya atau jenggotnya 

semoga kita terhindar dari perbuatan-perbuatan yang dilarang yang menyebabkan kita terjerembab dalam dosa dan menjadikan mayat yang kita cintai justeru tersiksa. 


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Dua Tangisan yang dibolehkan dan dilarang ketika ditimpa Musibah Kematian "

Posting Komentar