Hukum Dibolehkannya Berciuman dengan Isteri Ketika Puasa Ramadhan

Hukum Dibolehkannya Berciuman dengan Isteri Ketika Puasa Ramadhan

Hukum berciuman dengan Isteri ketika berpuasa di bulan Ramadhan adalah dibolehkan karena memang Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sering melakukannya kepada Isteri-isteri Beliau. Terlebih Beliau adalah contoh suri teladan bagi umat islam. 


لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا (٢١) 

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (QS. Al Ahzab ayat 21) 

Keteladanan ini yang juga ditegaskan dalam hadits yang menyatakan bahw Nabi pernah mencium isterinya ketika berpuasa. Sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah radliyallahu 'anha 

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُقَبِّلُ وَهُوَ صَائِمٌ وَلَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ 

bahwasanya Nabi shallaallahu 'alaihi wa sallam pernah mencium (isterinya) sementara sedang berpuasa, dan bagi kalian ada teladan yang baik pada diri Rasulullah. Musnad Ahmad 24412 



1. Tiga Isteri Nabi menyebutkan bahwa mereka dicium Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam meskipun berpuasa 

Tiga Isteri Rasulullah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mencium mereka ketika berpuasa 

1) Dari 'Aisyah radliyallahu 'anha berkata: 

إِنْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيُقَبِّلُ بَعْضَ أَزْوَاجِهِ وَهُوَ صَائِمٌ ثُمَّ ضَحِكَتْ 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mencium sebagian isteri-isterinya sementara beliau sedang berpuasa. Kemudian 'Aisyah tertawa. Shahih Bukhari 1793 

2) Dari Hafsah radliyallahu 'anha berkata 

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَنَالُ مِنْ وَجْهِ بَعْضِ نِسَائِهِ وَهُوَ صَائِمٌ 

bahwasanya Nabi shallaallahu 'alaihi wa sallam pernah mencium wajah sebagian isterinya, sementara beliau sedang berpuasa. Musnad Ahmad 25240 

3) Ummu Salamah radliyallahu 'anhuma berkata: 


بَيْنَمَا أَنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْخَمِيلَةِ إِذْ حِضْتُ فَانْسَلَلْتُ فَأَخَذْتُ ثِيَابَ حِيضَتِي فَقَالَ مَا لَكِ أَنَفِسْتِ قُلْتُ نَعَمْ فَدَخَلْتُ مَعَهُ فِي الْخَمِيلَةِ وَكَانَتْ هِيَ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَغْتَسِلَانِ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ وَكَانَ يُقَبِّلُهَا وَهُوَ صَائِمٌ 

Ketika aku bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam satu selimut tiba-tiba aku mengalami haidh maka aku diam-diam pergi lalu aku mengambil pakaian khusus haidhku, Beliau berkata: "Ada apa denganmu, apakah kamu mengalami hadil?" Aku jawab: "Ya". Lalu aku masuk ke dalam selimut bersama Beliau." Ummu Salamah dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah pula mandi bersama dari satu ember air. Dan Beliau juga menciumnya padahal Beliau sedang berpuasa." Shahih Bukhari 1794 



2. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam Mencium Aisyah radliyallahu 'anha ketika sama-sama sedang berpuasa Ramadhan 

dari Aisyah radliyallahu 'anha, ia berkata: 

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُنِي وَهُوَ صَائِمٌ وَأَنَا صَائِمَةٌ 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menciumku sementara beliau dalam keadaan berpuasa dan aku juga berpuasa. Sunan Abu Daud 2036 

Hal ini menandakan bahwa ini terjadi bulan ramadhan atau setidaknya dibulan sya’ban karena ummul mukminin berpuasa di bulan sya’ban dan ramadhan. 

Mencium Isteri saat Bulan Ramadhan juga disebutkan dalam hadits dari riwayat dari Aisyah radliyallahu 'anha 

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُقَبِّلُ فِي رَمَضَانَ وَهُوَ صَائِمٌ 

bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mencium (istrinya) pada saat Romadhan dan beliau dalam keadaan berpuasa." Musnad Ahmad 23840 



3. Meskipun Mencium Isterinya ketika berpuasa Karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam Mampu mengendalikan Nafsunya 

dari Aisyah radliallahu 'anha, ia berkata: 

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُنِي وَهُوَ صَائِمٌ وَأَيُّكُمْ يَمْلِكُ إِرْبَهُ كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْلِكُ إِرْبَهُ 

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menciumku saat beliau sedang berpuasa. Maka adakah diantara kalian yang mampu mengendalikan nafsunya sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mampu mengendalikannya." Shahih Muslim 1853 

Hal ini dibenarkan oleh Abdurrahman yang merupakan cucu dan saudara laki-laki ummul Mukminin Aisyah radliallahu 'anha. Dari Sufyan ia bertanya kepada abdurrahman 

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُقَبِّلُهَا وَهُوَ صَائِمٌ فَسَكَتَ سَاعَةً ثُمَّ قَالَ نَعَمْ أَسَمِعْتَ أَبَاكَ يُحَدِّثُ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا 

"Apakah Anda telah mendengar bapak Anda menceritakan dari Aisyah radliallahu 'anha, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menciumnya saat beliau berpuasa?" Abdurrahman diam sejenak kemudian menjawab, "Ya." Shahih Muslim 1852 


4. Isteri Umar bin al Khatthab Juga pernah Mencium Suaminya ketika Puasa 

Atikah anak perempuan Zaid bin 'Umar bin Nufail, isteri 'Umar bin Khattab 

كَانَتْ تُقَبِّلُ رَأْسَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ وَهُوَ صَائِمٌ فَلَا يَنْهَاهَا 

pernah mencium kepala Umar bin al Khatthab padahal Umar sedang berpuasa. Dan Umar tidak melarangnya." Muwatha' Malik 570 



5. Apa saja yang dilakukan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam Ketika mencium para Isternnya saat berpuasa 

yang diantara Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam Ketika mencium para Isternnya saat berpuasa yaitu : 

1) Nabi Mencium bagian kepala 

Ibnu Abbas ditanya mengenai mencium bagi orang yang berpuasa? Lalu ia berkata: 

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصِيبُ مِنْ الرُّءُوسِ وَهُوَ صَائِمٌ 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mencium bagian kepala, saat itu beliau sedang berpuasa. Musnad Ahmad 3218 

2) Mencium pipi 

Aisyah berkata: 

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَظَلُّ صَائِمًا ثُمَّ يُقَبِّلُ مَا شَاءَ مِنْ وَجْهِي حَتَّى يُفْطِرَ 

"Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam masih berpuasa, dia pernah menciumi pipi (istrinya) sekehendak beliau hingga (tiba waktu) beliau berbuka." Musnad Ahmad 23558 


3) Nabi mencium dengan bercumbu 

dari Aisyah radliallahu 'anha, ia berkata: 

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَهُوَ صَائِمٌ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ وَلَكِنَّهُ أَمْلَكُكُمْ لِإِرْبِهِ 

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mencium dan mencumbuku mesra ketika beliau sedang berpuasa. Tetapi beliau memang seorang yang paling bisa mengendalikan nafsunya di antara kalian." Shahih Muslim 1854 


4) Mencium dengan mengulum lidah 

dari ' Aisyah, 

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُقَبِّلُهَا وَهُوَ صَائِمٌ وَيَمُصُّ لِسَانَهَا 

bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menciumnya dan mengulum lidahnya (Aisyah) padahal beliau sedang berpuasa." Musnad Ahmad 23769 


5) Mencium dan Memeluk 

dari Aisyah, ia berkata: 

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَهُوَ صَائِمٌ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ وَلَكِنَّهُ كَانَ أَمْلَكَ لِإِرْبِهِ 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mencium (istrinya) dalam keadaan sedang berpuasa. Dan juga memeluk (istrinya) dalam keadaan sedang berpuasa, akan tetapi beliau adalah orang yang paling dapat menahan nafsunya. Sunan Abu Daud 2034 



6. Sahabat Yang Ketika berpuasa saat Berhaji Tetap Mencium Dan Mencumbui Isterinya 

dari Alqamah bahwa 

خَرَجَ عَلْقَمَةُ وَأَصْحَابُهُ حُجَّاجًا فَذَكَرَ بَعْضُهُمْ الصَّائِمَ يُقَبِّلُ وَيُبَاشِرُ فَقَامَ رَجُلٌ مِنْهُمْ قَدْ قَامَ سَنَتَيْنِ وَصَامَهُمَا هَمَمْتُ أَنْ آخُذَ قَوْسِي فَأَضْرِبَكَ بِهَا قَالَ فَكُفُّوا حَتَّى تَأْتُوا عَائِشَةَ فَدَخَلُوا عَلَى عَائِشَةَ فَسَأَلُوهَا عَنْ ذَلِكَ فَقَالَتْ عَائِشَةُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَيُبَاشِرُ وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ لِإِرْبِهِ قَالُوا يَا أَبَا شِبْلٍ سَلْهَا قَالَ لَا أَرْفُثُ عِنْدَهَا الْيَوْمَ فَسَأَلُوهَا فَقَالَتْ كَانَ يُقَبِّلُ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ 

Alqamah pernah pergi haji bersama para sahabatnya, beliau menceritakan bahwa sebagian mereka ada yang berpuasa tapi ia tetap mencium dan mencumbuinya (istrinya). Lalu berdiri seorang lelaki diantara mereka yang telah berpuasa selama dua tahun. Aku ingin mengambil busur panahku dan aku ingin memukulmu dengannya. Dia (Alqamah) Berkata: "Hanya mereka menahannya sampai mereka menemui Aisyah, lalu mereka menemui Aisyah dan bertanya kepadanya mengenai hal tersebut." Aisyah menjawab: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berpuasa tapi juga mencium dan mencumbuinya (istrinya) dan beliau adalah orang yang paling bisa menjaga nafsunya diantara kalian." Mereka berkata: "Wahai Aba Syibli, tanyalah dia (Aisyah)." Dia (Alqamah) menjawab: "Semenjak hari itu aku tidak pernah berkata keji di hadapannya." Lalu mereka menanyakan hal itu kepadanya (Aisyah) dan dia menjawab: "Beliau mencium dan mencumbui (istrinya) sedang beliau dalam keadaan berpuasa." Musnad Ahmad 23000 



7. Mencium Isteri Adalah Kebiasaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan tetap beliau lakukan meskipun dalam keadaan Berpuasa 

Dari 'Aisyah dia berkata: 
مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْتَنِعُ مِنْ وَجْهِي وَهُوَ صَائِمٌ وَمَا مَاتَ حَتَّى كَانَ أَكْثَرُ صَلَاتِهِ قَاعِدًا ثُمَّ ذَكَرَتْ كَلِمَةً مَعْنَاهَا إِلَّا الْمَكْتُوبَةَ وَكَانَ أَحَبُّ الْعَمَلِ إِلَيْهِ مَا دَامَ عَلَيْهِ الْإِنْسَانُ وَإِنْ كَانَ يَسِيرًا 

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tetap saja menciumku, padahal beliau sedang puasa, dan Tidaklah beliau meninggal sehingga kebanyakan shalat Rasulullah adalah sambil duduk." -Kemudian ia menyebutkan suatu kalimat yang maknanya adalah-: kecuali shalat wajib (beliau kerjakan sambil berdiri), dan perbuatan yang paling dicintai adalah yang dilakukan secara kontinyu oleh seseorang, walaupun sedikit. Sunan Nasa'i 1634 


8. Mencium Isteri adalah keringanan Bagi Orang Berpuasa 

Dari Abu Hurairah dan Sa'd bin Abu Waqash,bahwa 

كَانَا يُرَخِّصَانِ فِي الْقُبْلَةِ لِلصَّائِمِ 

keduanya memberi keringanan dalam ciuman bagi orang yang berpuasa." Muwatha' Malik 572 


9. Mencium Isteri Ketika Berpuasa Seperti Berkumur-Kumur Ketika Puasa 

Umar bin Al Khaththab berkata: 

هَشَشْتُ فَقَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صَنَعْتُ الْيَوْمَ أَمْرًا عَظِيمًا قَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ قَالَ أَرَأَيْتَ لَوْ مَضْمَضْتَ مِنْ الْمَاءِ وَأَنْتَ صَائِمٌ قَالَ عِيسَى بْنُ حَمَّادٍ فِي حَدِيثِهِ قُلْتُ لَا بَأْسَ بِهِ ثُمَّ اتَّفَقَا قَالَ فَمَهْ 

Aku merasakan senang lalu aku mencium (istriku) sementara aku dalam keadaan berpuasa. Lalu aku katakan: "Wahai Rasulullah, pada hari ini aku telah melakukan suatu perkara yang besar. Saya mencium (istriku) sementara saya sedang berpuasa." Beliau berkata: "Bagaimana pendapatmu apabila engkau berkumur-kumur menggunakan air sementara engkau sedang berpuasa?" Isa bin Hammad berkata dalam haditsnya: Aku (Umar) katakan: "Tidak mengapa." Kemudian keduanya bersepakat mengatakan: beliau berkata: "Lalu kenapa?" Sunan Abu Daud 2037 


10. Mencium Isteri Seperti Halnya Keringanan Berbekam Ketika Berpuasa 

dari Abu Sa'id, dia berkata, 

«رَخَّصَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْقُبْلَةِ لِلصَّائِمِ وَالْحِجَامَةِ 

"Rasulullah SAW memberikan keringanan dalam mencium dan berbekam bagi orang yang berpuasa." Sunan Daruquthni 2246 



11. Mencium isteri Tidak Membatalkan Wudhu 

dari Aisyah, ia mengatakan, 

«قَبَّلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْضَ نِسَائِهِ ثُمَّ صَلَّى وَلَمْ يَتَوَضَّأْ ثُمَّ ضَحِكَتْ» 

"Rasulullah SAW mencium salah seorang istrinya, lalu beliau shalat dan tidak berwudhu lagi. Kemudian istrinya tertawa." Sunan Daruquthni 482 

Dalam hadits lain yang juga Aisyah berkata bahwa Nabi SAW bersabda, 

لَيْسَ فِي الْقُبْلَةِ وُضُوءٌ» 

"Ciuman tidak mengharuskan wudhu.** Sunan Daruquthni 483 

Bahkan mencium isteri dilakukan Nabi ketika berpuasa dan telah berwudhu untuk shalat. dari Urwah, dari Aisyah, ia menuturkan, 

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «يُصْبِحُ صَائِمًا ثُمَّ يَتَوَضَّأُ لِلصَّلَاةِ فَتَلَقَّاهُ الْمَرْأَةُ مِنْ نِسَائِهِ فَيُقَبِّلُهَا ثُمَّ يُصَلِّي». , قَالَ عُرْوَةُ: قُلْتُ لَهَا مَنْ تَرِينَهُ غَيْرُكِ؟ , فَضَحِكَتْ 

"Pada suatu pagi Rasulullah SAW berpuasa, kemudian berwudhu untuk shalat, lalu salah seorang istrinya menemui beliau, kemudian beliau menciumnya, lalu melaksanakan shalat." Urwah menuturkan, "Lalu aku katakan kepada Aisyah, 'Siapa menurutmu selain dirimu?' Maka ia pun tertawa." Sunan Daruquthni 489 


12. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah yang paling bertakwa kepada Allah diantara kalian dan paling tahu batasan-batasan Allah 

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan dirinya adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah diantara kalian dan paling tahu batasan-batasan Allah, ketika ada yang meragukan dibolehkannya mencium isteri ketika puasa 

dari 'Atho` bin Yasar dari seorang Anshar bahwa 

أَنَّهُ قَبَّلَ امْرَأَتَهُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَمَرَ امْرَأَتَهُ فَسَأَلَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ فَأَخْبَرَتْهُ امْرَأَتُهُ فَقَالَ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرَخَّصُ لَهُ فِي أَشْيَاءَ فَارْجِعِي إِلَيْهِ فَقُولِي لَهُ فَرَجَعَتْ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ قَالَ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرَخَّصُ لَهُ فِي أَشْيَاءَ فَقَالَ أَنَا أَتْقَاكُمْ لِلَّهِ وَأَعْلَمُكُمْ بِحُدُودِ اللَّهِ 

bahwa ia mencium istrinya dimasa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam saat puasa lalu ia memerintahkan istrinya kemudian ia bertanya kepada nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang hal itu, nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melakukannya." Lalu istrinya memberitahunya kemudian ia berkata: Sesungguhnya nabi shallallahu 'alaihi wa sallam diberi banyak keringanan pada beberapa hal, kembalilah pada beliau dan katakan pada beliau. Istrinya kembali lagi menemui nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berkata: Sesungguhnya nabi shallallahu 'alaihi wa sallam diberi keringanan pada beberapa hal. Lalu nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Aku adalah yang paling bertakwa kepada Allah diantara kalian dan paling tahu batasan-batasan Allah diantara kalian." Musnad Ahmad 22570 

dalam hadits lain 

أَخْبَرَنَا مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ، أَنَّ رَجُلًا، قَبَّلَ امْرَأَتَهُ وَهُوَ صَائِمٌ فَوَجَدَ مِنْ ذَلِكَ وَجْدًا شَدِيدًا، فَأَرْسَلَ امْرَأَتَهُ تَسْأَلُ عَنْ ذَلِكَ، فَدَخَلَتْ عَلَى أُمِّ سَلَمَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ فَأَخْبَرَتْهَا، فَقَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَهُوَ صَائِمٌ، فَرَجَعَتِ الْمَرْأَةُ إِلَى زَوْجِهَا فَأَخْبَرَتْهُ، فَزَادَهُ ذَلِكَ شَرًّا وَقَالَ: لَسْنَا مِثْلَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يُحِلُّ اللَّهُ لِرَسُولِهِ مَا شَاءَ، فَرَجَعَتِ الْمَرْأَةُ إِلَى أُمِّ سَلَمَةَ فَوَجَدَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَهَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا بَالُ هَذِهِ الْمَرْأَةِ؟» فَأَخْبَرَتْهُ أُمُّ سَلَمَةَ فَقَالَ: «أَلَا أَخْبَرْتِهَا أَنِّي أَفْعَلُ ذَلِكَ» ، فَقَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ: قَدْ أَخْبَرْتُهَا فَذَهَبَتْ إِلَى زَوْجِهَا فَأَخْبَرَتْهُ فَزَادَهُ ذَلِكَ شَرًّا وَقَالَ: لَسْنَا مِثْلَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يُحِلُّ اللَّهُ لِرَسُولِهِ مَا شَاءَ، فَغَضِبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ: «وَاللَّهِ إِنِّي لَأَتْقَاكُمْ لِلَّهِ، وَأَعْلَمُكُمْ بِحُدُودِهِ» 

Malik mengabarkan kepada kami dari Zaid bin Aslam, dan Atha' bin Yasar: Bahwa seorang lelaki mencium istrinya padahal ia sedang puasa, lalu ia menyesali perbuatannya itu dengan penyesalan yang sangat. Maka ia menyuruh istrinya untuk menanyakan hal tersebut, kemudian istrinya masuk menemui Ummu Salamah Ummul Mukminin dan menceritakan hal tersebut. Maka Ummu Salamah menjawab, "Sesungguhnya Rasulullah sering mencium (istrinya) ketika sedang puasa." Maka si istri kembali kepada suaminya dan menceritakan kepadanya (jawaban itu), tetapi hal tersebut makin menambah keburukan. Si suami berkata, "Kita ini tidak seperti Rasulullah . Allah menghalalkan bagi Rasul-Nya menurut apa yang dikehendaki-Nya." Si istri kembali kepada Ummu Salamah, dan ternyata ia menjumpai Rasulullah ada bersamanya. Maka Rasulullah bersabda, "Apa gerangan yang terjadi pada wanita ini?" Ummu Salamah menceritakan kepada beliau masalah yang dialami oleh wanita itu, maka beliau bertanya, "Mengapa engkau tidak menceritakan kepadanya bahwa aku pernah melakukan hal tersebut." Ummu Salamah menjawab, "Aku telah menceritakannya." Lalu wanita itu kembali kepada suaminya dan menceritakan hal tersebut. Tetapi hal tersebut makin menambah keburukan, dan si suami berkata, "Kita ini tidak seperti Rasulullah . Allah menghalalkan bagi Rasul-Nya apa-apa yang disukai-Nya." Maka Rasulullah marah dan bersabda, ”Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar orang yang paling bertakwa di antara kalian dan paling mengetahui batasan-batasan (hukum- hukum)-Nya.” Musnad Syafi'i 1196 


13. Larangan Mencium Isteri Ketika Berpuasa 

1) Hadits dari riwayat Ibnu Umar 

و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ 
كَانَ يَنْهَى عَنْ الْقُبْلَةِ وَالْمُبَاشَرَةِ لِلصَّائِمِ 
Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Nafi' bahwa Abdullah bin 'Umar melarang ciuman dan cumbuan bagi orang yang berpuasa." Muwatha' Malik 575 

2) Hadits dari riwayat Aisyah RA. 

dari Al-Aswad bin Yazid bertanya kepada Aisyah: 

أَيُبَاشِرُ الصَّائِمُ يَعْنِي امْرَأَتَهُ قَالَتْ لَا قُلْتُ أَلَيْسَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ كَانَ يُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمْلَكَكُمْ لِإِرْبِهِ 

apakah orang yang berpuasa boleh mencumbui istrinya?" Dia (Aisyah) menjawab: Tidak boleh. Saya berkata: "Bukankah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mencium (istrinya) sedang beliau dalam keadaan berpuasa?" Dia (Aisyah) Berkata: "Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang paling dapat menahan nafsunya diantara kalian." Musnad Ahmad 23817 


14. Boleh Mencium Isteri ketika berpuasa bagi yang berusia tua dan makruh bagi berusia muda 

1) Hadits dari riwayat Ibnu Abbas 

dari Ibnu Abbas ia berkata: 

رُخِّصَ لِلْكَبِيرِ الصَّائِمِ فِي الْمُبَاشَرَةِ وَكُرِهَ لِلشَّابِّ 

"Orang tua yang berpuasa diberi keringanan untuk mencium dan dimakruhkan bagi yang masih muda." Sunan Ibnu Majah 1678 

Hadits tersebut sejalan dengan hadits dari imam malik RA 

و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ 
سُئِلَ عَنْ الْقُبْلَةِ لِلصَّائِمِ فَأَرْخَصَ فِيهَا لِلشَّيْخِ وَكَرِهَهَا لِلشَّابِّ 

Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Zaid bin Aslam dari 'Atha bin Yasar bahwa Abdullah bin Abbas pernah ditanya tentang ciuman bagi orang yang berpuasa. Kemudian ia membolehkannya bagi yang sudah tua dan membencinya bagi yang masih muda." Muwatha' Malik 574 

2) Pendapat ulama dalam hadits at Tirmidzi 

حَدَّثَنَا هَنَّادٌ وَقُتَيْبَةُ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ عَنْ زِيَادِ بْنِ عِلَاقَةَ عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ عَنْ عَائِشَةَ 
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُقَبِّلُ فِي شَهْرِ الصَّوْمِ 
قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ وَحَفْصَةَ وَأَبِي سَعِيدٍ وَأُمِّ سَلَمَةَ وَابْنِ عَبَّاسٍ وَأَنَسٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ عَائِشَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَاخْتَلَفَ أَهْلُ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ فِي الْقُبْلَةِ لِلصَّائِمِ فَرَخَّصَ بَعْضُ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْقُبْلَةِ لِلشَّيْخِ وَلَمْ يُرَخِّصُوا لِلشَّابِّ مَخَافَةَ أَنْ لَا يَسْلَمَ لَهُ صَوْمُهُ وَالْمُبَاشَرَةُ عِنْدَهُمْ أَشَدُّ وَقَدْ قَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ الْقُبْلَةُ تُنْقِصُ الْأَجْرَ وَلَا تُفْطِرُ الصَّائِمَ وَرَأَوْا أَنَّ لِلصَّائِمِ إِذَا مَلَكَ نَفْسَهُ أَنْ يُقَبِّلَ وَإِذَا لَمْ يَأْمَنْ عَلَى نَفْسِهِ تَرَكَ الْقُبْلَةَ لِيَسْلَمَ لَهُ صَوْمُهُ وَهُوَ قَوْلُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ وَالشَّافِعِيِّ 

Telah menceritakan kepada kami Hannad dan Qutaibah keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Al Ahwash dari Ziyad bin 'Ilaqah dari Amru bin Maimun dari 'Aisyah bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam menciumnya pada bulan puasa. (perawi) berkata: dalam bab ini (ada juga riwayat -pent) dari Umar bin Al Khaththab, Hafshah, Abu Sa'id, Ummu Salamah, Ibnu Abbas, Anas, Abu Hurairah. Abu 'Isa berkata: hadits 'Aisyah merupakan hadits hasan shahih. Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini, sebagian dari para shahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam dan yang lainnya membolehkan orang yang sudah lanjut (tua) untuk mencium ketika berpuasa, tapi tidak ada keringanan untuk seorang pemuda, dikhawatirkan puasanya akan rusak, lebih-lebih bersetubuh. Sebagian ulama mengatakan, mencium itu mengurangi pahala namun tidak membatalkan puasanya, mereka juga berpendapat, jika seseorang bisa menahan diri, maka boleh baginya untuk mencium. Namun jika tidak biasa, maka hendaknya dia tidak melakukannya, pendapat ini adalah pendapatnya Sufyan Ats Tsauri dan Syafi'i. Sunan Tirmidzi 659 


Berdasarkan Dalil-dalil diatas maka dapat dinyatakan bahwa 

1. Dibolehkannya mencium/mencumbui Isteri dalam keadaan puasa/Bulan Ramadhan adalah keringanan

2. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam mencium/mencumbui para isterinya ketika puasa/Bulan Ramadhan karena
1) Kebiasaan beliau sehari-harinya
2) Nabi Shallallahu'alaihi wa Salam mampu menjaga nafsunya

3.    Para Sahabat dan Isterinya mencium pasangannya ketika berpuasa

4. Tidaklah pantas meragukan dibolehkannya mencium isteri ketika berpuasa padahal Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan sahabat melakukannya. Dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah diantara kalian dan paling tahu batasan-batasan Allah

5. Mencium Isteri dibolehkan Ketika Berpuasa Seperti halnya Berkumur-kumur atau berbekam Ketika Puasa

6. Mencium isteri juga Tidak Membatalkan Wudhu

7. Boleh Mencium Isteri ketika berpuasa bagi yang berusia tua dan makruh bagi berusia muda dan
8. Larangan Mencium Isteri Ketika berpuasa lebih dikarenakan ketidakmampuan menjaga nafsu yang dapat mengakibatkan rusaknya puasa

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hukum Dibolehkannya Berciuman dengan Isteri Ketika Puasa Ramadhan "

Posting Komentar