Tiga Tingkatan Kebenaran dan contoh dalam ibadah kurban



Secara umum kebenaran itu terbagi 3 tingkatan besar yaitu
1. Kebenaran dari Tuhan yaitu kebenaran yang datangnya dari Tuhan, sang pencipta langit dan bumi seisinya
2. Kebenaran umum yaitu kebenaran yang datangnya dari sekelompok orang.
3. Kebenaran Pribadi yaitu kebenaran yang datangnya dari orang-perorang

Kebenaran selalu berbanding lurus dengan kebaikan dan manfaat. Sesuatu yang benar tentunya akan baik dan bermanfaat. 

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ (١٤٧)
kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu Termasuk orang-orang yang ragu. (QS. Al Baqarah ayat 47)

Kebenaran dari Allah pasti akan memberikan kebaikan dan manfaat bagi manusia dan seluruh penduduk langit dan bumi. Namun kebenaran umum suatu kelompok belum tentu memberikan kebaikan dan manfaat bagi kelompok lain dan kebenaran seseorang belum tentu memberikan kebaikan dan manfaat bagi orang lain.

Contoh :
Berkaitan dengan bulan Haji, Dzulhijjah dimana terdapat sebuah ibadah untuk berkurban bagi yang diberikan kemampuan. 
Karena perintah kurban ini datangnya dari Allah dari Tuhan yang maha kuasa, maka ibadah kurban itu akan membawa kebaikan dan bermanfaat bagi semua mahluk. Bukan hanya umat Islam, umat lain juga turut merasakan berkahnya. Contohnya ada perputaran ekonomi disana, ada usaha pertanian, pertenakan, transportasi dan lain sebagainya  yang menyokong ibadah kurban tersebut. Dan itu dapat dirasakan oleh semua orang tanpa memandang suku, ras dan agama. itulah satu siklus dan putaran kehidupan.
Tiga Tingkatan Kebenaran dan contoh dalam ibadah  kurban

Lalu bagaimana dengan pernyataan yang sinis dengan ibadah Kurban diantaranya  pernyataan seorang politikus belanda (twit Geertwilders)?

Bahwa ia menyatakan idul Adha dengan festival kekejaman dan kebiadaban terhadap binatang. Dan mengkampanyekan untuk melarangnya.

Kebenaran yang dia pertentangkan adalah kebenaran dari tuhan, sementara ia hanya bermodal dengan pendapat atau kebenaran pribadi ataupun kelompoknya. Tentunya ia menyangkal kebenaran, kebaikan dan kemanfaatan dari ibadah kurban.

Padahal kalau ditelisik, jangankan kebaikan atau kemanfaatan bahkan kebenaran yang dia ungkapkan bertentangan dengan dirinya sendiri. Dia beranggapan bahwa kurban dengan menyembelih hewan merupakan kebiadaban, maka dengan logikanya. Apakah yang dimakan atau diminumnya  tidak ada yang berasal dari hewan? Apakah ia tidak makan daging, atau sekalipun itu hanya makan telur dan minum susu. Karena itu termasuk menu makan minumnya berarti juga sudah kejam terhadap hewan. Hak telur untuk menetas dan susu untuk diminum anak hewan. Atau ia termasuk vegetarian hingga hanya makan sayur, jika itu menu makanannya berati ia juga melakukan kekejaman terhadap mahluk hidup lain yaitu tanaman yang sebelum dimakannya dicincang dan dimasak.

Itulah kebenaran pribadi yang selalu bertentangan dengan dirinya sendiri.

Sementara dalam Islam ada adab dalam menyembelih hewan diantaranya :
1) Hewan jantan yang telah cukup umur.  
2) Tajamkan pisau untuk menyembelih sehingga tidak menyiksa hewannya
3) Membaca Bismillah sebelum menyembelih (permohonan izin kepada Allah sebagai pencipta semua mahluk)

dari Aisyah, istri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِكَبْشٍ أَقْرَنَ يَطَأُ فِي سَوَادٍ وَيَنْظُرُ فِي سَوَادٍ وَيَبْرُكُ فِي سَوَادٍ فَأُتِيَ بِهِ لِيُضَحِّيَ بِهِ ثُمَّ قَالَ يَا عَائِشَةُ هَلُمِّي الْمُدْيَةَ ثُمَّ قَالَ اسْتَحِدِّيهَا بِحَجَرٍ فَفَعَلَتْ ثُمَّ أَخَذَهَا وَأَخَذَ الْكَبْشَ فَأَضْجَعَهُ ثُمَّ ذَبَحَهُ وَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ ثُمَّ ضَحَّى بِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. memerintahkan untuk menyembelih seekor kambing yang telah bertanduk, kedua kakinya, sekitar kedua matanya dan perutnya berwarna hitam, lalu didatangkanlah kibas tersebut untuk disembelih sebagai kurban, kemudian Beliau. bersabda: "Wahai Aisyah! Tolong bawa kemari sebilah pisau yang tajam.", kemudian Beliau. bersabda kepada Aisyah: "Asahlah dahulu pisau tersebut dengan batu." Lalu (Aisyah RAH) melaksanakannya, kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. mengambil pisau dan mengambil kibas tersebut lalu membaringkannya, kemudian Beliau menyembelihnya dan bersabda: "Bismillaah (dengan nama Alloh) ya Allah terimalah (kurban ini) dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan dari umat Muhammad. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. berkurban dengannya." Musnad Ahmad 23351

dengan adab tersebut, maka ada kebaikan dan kemanfaat di dunia dan akhirat. Didunia siklus ternak tetap terjaga, tidak tersakiti, diakhirat tidak akan dimintai pertanggungjawaban karena telah memohon izin dengan sang pemilik yaitu Allah azza wajala. Karena semua mahluk di bumi adalah ciptaannya.

Bahkan terhadap tanaman umat muslim dilarang untuk merusaknya sekalipun dalam keadaan perang.  Sepuluh wasiat Abu bakar Ash shidiq terhadap pasukan yang akan di kirim.ke Syam.

و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ
بَعَثَ جُيُوشًا إِلَى الشَّامِ فَخَرَجَ يَمْشِي مَعَ يَزِيدَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ وَكَانَ أَمِيرَ رُبْعٍ مِنْ تِلْكَ الْأَرْبَاعِ فَزَعَمُوا أَنَّ يَزِيدَ قَالَ لِأَبِي بَكْرٍ إِمَّا أَنْ تَرْكَبَ وَإِمَّا أَنْ أَنْزِلَ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ مَا أَنْتَ بِنَازِلٍ وَمَا أَنَا بِرَاكِبٍ إِنِّي أَحْتَسِبُ خُطَايَ هَذِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ قَالَ لَهُ إِنَّكَ سَتَجِدُ قَوْمًا زَعَمُوا أَنَّهُمْ حَبَّسُوا أَنْفُسَهُمْ لِلَّهِ فَذَرْهُمْ وَمَا زَعَمُوا أَنَّهُمْ حَبَّسُوا أَنْفُسَهُمْ لَهُ وَسَتَجِدُ قَوْمًا فَحَصُوا عَنْ أَوْسَاطِ رُءُوسِهِمْ مِنْ الشَّعَرِ فَاضْرِبْ مَا فَحَصُوا عَنْهُ بِالسَّيْفِ وَإِنِّي مُوصِيكَ بِعَشْرٍ لَا تَقْتُلَنَّ امْرَأَةً وَلَا صَبِيًّا وَلَا كَبِيرًا هَرِمًا وَلَا تَقْطَعَنَّ شَجَرًا مُثْمِرًا وَلَا تُخَرِّبَنَّ عَامِرًا وَلَا تَعْقِرَنَّ شَاةً وَلَا بَعِيرًا إِلَّا لِمَأْكَلَةٍ وَلَا تَحْرِقَنَّ نَحْلًا وَلَا تُغَرِّقَنَّهُ وَلَا تَغْلُلْ وَلَا تَجْبُنْ

Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Yahya bin Sa'id bahwa Abu Bakar Ash Shiddiq mengirim pasukan ke negeri Syam, lalu dia ikut keluar bersama Yazid bin Abu Sufyan yang saat itu memimpin seperempat dari tentara tersebut. Orang-orang berkeyakinan bahwa Yazid pernah berkata kepada Abu Bakar, "Engkau naik, atau aku yang turun." Abu Bakar berkata: "Janganlah kamu turun agar saya mengendarai kendaraan. Saya telah meniatkan langkah-langkahku ini hanya di jalan Allah." Kemudian Abu Bakar berkata kepadanya: "Kalian akan mendapatkan suatu kaum yang mengklaim bahwa mereka telah menahan dirinya untuk Allah, maka jauhilah mereka dan apa yang mereka sangkakan. Kamu juga akan mendapatkan suatu kaum yang menggunduli bagian tengah kepala mereka, maka pukullah apa yang mereka cukur tersebut dengan pedang. Sungguh saya berwasiat kepadamu dengan sepuluh perkara: jangan sekali-kali kamu membunuh wanita, anak-anak dan orang yang sudah tua. Jangan memotong pohon yang sedang berbuah, jangan merobohkan bangunan, jangan menyembelih kambing ataupun unta kecuali hanya untuk dimakan, jangan membakar pohon kurma atau menenggelamkannya. Dan janganlah berbuat ghulul atau menjadi seorang yang penakut." Muwatha' Malik 858


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tiga Tingkatan Kebenaran dan contoh dalam ibadah kurban"

Posting Komentar